RAKYATSATU.COM, SOPPENG - Pemandangan tidak biasanya dapat dilihat di daerah lain. Di subuh hari, di kota Soppeng Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sudah mulai berjalan, Senin 18 Mei 2026.
Di beberapa ruas jalan utama, sepeda motor sudah mulai terparkir di depan warung kopi. Kursi-kursi mulai terisi. Asap tipis dari cangkir kopi panas mengepul bersamaan dengan percakapan yang perlahan ramai.
Pemandangan seperti itu menjadi rutinitas harian masyarakat Soppeng. Bahkan sebelum aktivitas perkantoran dimulai, sebagian warga mulai berkumpul di warung kopi (Warkop). Ada yang sekadar menikmati kopi susu, ada pula yang datang untuk bertukar kabar sebelum memulai pekerjaan.
Di Kota Soppeng, warung kopi bukan sekadar tempat menjual minuman. Ia telah berkembang menjadi ruang sosial warga. Dari pensiunan, pegawai negeri, pekerja swasta, hingga pelaku usaha kecil, semuanya bertemu di meja-meja warkop sejak selepas salat subuh.
Kebiasaan itu telah berlangsung bertahun-tahun. Banyak warga menganggap pagi belum benar-benar dimulai sebelum duduk di warung kopi. Obrolan ringan soal sosial, hingga politik lokal, menjadi menu yang hampir selalu hadir bersama dengan segelas kopi.
Tidak heran jika jumlah warung kopi di Soppeng terus bertambah. Dalam radius sekitar 300 meter dari pusat kota saja, sedikitnya terdapat belasan warkop yang aktif beroperasi. Sebagian besar bahkan sudah membuka Warkopnya sejak dini hari.
Di sepanjang Jalan Pemuda, misalnya, sedikitnya ada empat warung kopi yang berdiri berdekatan. Masing-masing memiliki pelanggan tetap. Ada yang dikenal karena racikan kopinya, ada pula yang ramai karena suasana dan tempat berkumpulnya.
![]() |
| Susana subuh hari di Warop Bahagia, yang ada di Jalan Pemuda Soppeng. Pelanggan mulai berdatangan dan motor terparkir berjejeran/ Foto : Ichsan Machmud |
Saat waktu menunjukkan pukul 05.30 WITA, kursi-kursi di sejumlah warung mulai terisi. Sebagian pelanggan masih mengenakan sarung dan peci selepas salat subuh. Sebagian lain datang dengan pakaian sehari-hari.
Suasana seperti itu terlihat di salah satu Warung Kopi Bahagia milik Angko. Warung sederhana di pinggir jalan itu menjadi salah satu tempat singgah warga setiap pagi. Di depan warungnya, kendaraan sudah terparkir sejak subuh.
Angko mengatakan kebiasaan warga ngopi pagi sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Soppeng. Karena itu, warung kopi hampir tidak pernah sepi, terutama pada pagi dan malam hari.
“Kalau habis subuh biasanya sudah ada pelanggan. Ada yang datang sebelum ke kantor, ada juga yang memang rutin nongkrong pagi,” kata Angko.
Menurut dia, pola transaksi pelanggan juga mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya pembayaran didominasi uang tunai, kini sebagian pelanggan memilih menggunakan pembayaran digital.
Di meja kasir warungnya terpajang kode QRIS dari Bank BRI. Pelanggan cukup memindai kode menggunakan telepon genggam untuk menyelesaikan pembayaran kopi atau makanan ringan yang mereka pesan.
“Sekarang lebih banyak yang pakai QRIS. Praktis dan cepat. Apalagi anak-anak muda dan pegawai kantor,” ujar Angko.
Salah seorang pelanggan, Mufaddal, mengaku lebih sering menggunakan pembayaran digital ketika nongkrong di warung kopi. Menurut dia, penggunaan QRIS mempermudah transaksi tanpa perlu membawa uang tunai dalam jumlah banyak.
“Kalau pagi kadang buru-buru. Tinggal scan saja pakai aplikasi BRImo sudah selesai,” kata Addal sapaan akrabnya.
Penggunaan transaksi digital di warung kopi perlahan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi harian di Kota Kalong sebutan lain Kota Soppeng. Selain mempermudah pembayaran, sistem tersebut juga mulai membantu pelaku UMKM dalam mencatat transaksi usaha mereka.
Fenomena menjamurnya warung kopi menunjukkan geliat ekonomi kecil yang terus bergerak di daerah itu. Warkop bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi pelaku UMKM lokal.
Sebagian warung kopi bahkan mulai menambah fasilitas seperti jaringan internet, colokan listrik, hingga ruang duduk terbuka untuk menarik pelanggan lebih lama berada di lokasi.
Di sisi lain, budaya berkumpul di warung kopi memperlihatkan bagaimana ruang-ruang sosial masih bertahan di tengah perubahan gaya hidup digital. Percakapan tetap berlangsung hangat, meski transaksi kini dilakukan lewat telepon genggam.
Di Soppeng, pagi memang sering dimulai dari warung kopi. Karena itu pula, kota kecil di Sulawesi Selatan tersebut kerap disebut warga sebagai daerah sejuta Warkop. [Ichsan Machmud]

