![]() |
| Endri Rosihin saat melakukan proses produksi Kopi Mattabulu hingga siap dipasarkan/ Foto : Ichsan Machmud |
RAKYATSATU.COM, SOPPENG - Seiring meningkatnya kualitas, produksi kopi Mattabulu ikut terdongkrak. Dalam satu musim, produksi gabungan bisa mencapai lebih dari tujuh ton, didominasi robusta.
Sementara itu, arabika menyumbang sekitar tiga ton, bahkan bisa mendekati empat ton pada periode tertentu. Kedua jenis ini menjadi andalan kelompok tani.
Panen dilakukan setiap delapan bulan. Dalam praktiknya, petani memanen sekali dalam setahun dengan hasil yang relatif stabil.
Peningkatan produksi tak lepas dari perawatan yang lebih baik. Petani kini mulai rutin memangkas (Pruning), memupuk, dan menjaga kualitas buah.
Kesadaran itu muncul karena mereka mulai merasakan keuntungan. Kopi tak lagi dipandang sebagai tanaman sampingan.
“Bulan April-Mei ini kami proses Panen dan Alhamdulillah hasilnya baik. Sekarang kami lebih serius karena hasilnya, jadi kami rawat terus,” kata petani Kopi Mattabulu, Suhardiman.
Di sisi hilir, produk kopi mulai dipasarkan dalam bentuk roasted. Penjualan berkisar 50 hingga 100 kilogram per bulan.
Harga jual pun meningkat. Robusta dipasarkan sekitar Rp140 ribu per kilogram, sementara arabika mencapai Rp190 ribu.
Distribusi dilakukan ke beberapa wilayah. Kopi kasar dikirim hingga ke Kalimantan Timur, sementara kopi olahan dipasarkan di Makassar.
![]() |
| Jajaran Bawaslu Soppeng saat menikmati Kopi Mattabulu, di Wisata Alam Lembah Citta, Desa Mattabulu, Soppeng/ Foto : Ichsan Machmud |
Endri mengakui, peningkatan kualitas tak lepas dari kehadiran mesin roasting, bantuan dari Bank BRI Unit Ompo Branch Office Watansoppeng. Dibanding cara lama menggunakan kaleng, hasil sangrai kini lebih merata. Rasa lebih konsisten.
Perubahan ini berdampak langsung pada nilai jual, terlebih dengan masifnya pendampingan dan pelatihan. Produk yang sebelumnya sulit bersaing kini mulai mendapat tempat. Konsumen tak lagi sekadar membeli kopi, tetapi juga kualitas.
Eksposur dari pameran turut membantu. Beberapa kali undangan ke tingkat nasional membuka akses pasar yang lebih luas. Meski belum besar, pasar mulai terbentuk dan berkembang.
Kelompok Kopi Mattabulu kini juga menjadi bagian dari jaringan klaster kopi nasional. Ada sekitar 24 klaster yang tergabung. Bagi Endri, jaringan ini penting untuk berbagi pengalaman dan memperluas pasar.
Bagi konsumen, Kopi Mattabulu mulai memiliki tempat tersendiri. Edi, salah satu penikmat kopi Mattabulu, menilai karakter kopi ini berbeda.
“Ini kopi yang soft. Saya memang cari rasa seperti ini, dan cocok,” katanya.
Ia mengaku tidak terlalu memikirkan filosofi kopi. Baginya, rasa menjadi hal utama.
“Saya tidak paham filosofi kopi. Saya tidak butuh filosofi-filosofian menikmati kopi,” ujarnya.
“Bagi saya, salah satu kopi yang enak, aman, dan cocok untuk lambung, tempatnya ada di sini,” sambungnya.
Bagi Endri, testimoni semacam ini menjadi penguat arah pengembangan. Ia memilih fokus pada kualitas dan konsistensi rasa.
Ke depan, Endri mulai mendorong anggota kelompok untuk lebih aktif memanfaatkan peluang, termasuk pemasaran digital dan kemitraan baru.
Di tengah semua itu, ia tetap kembali ke hal mendasar dengan menjaga kualitas. Baginya, rasa adalah kunci. Tanpa rasa yang konsisten, semua upaya akan sia-sia.
Dari kaleng sederhana hingga mesin roasting modern, perjalanan kopi Mattabulu adalah cerita tentang perubahan. Tentang bagaimana Desa kecil perlahan menemukan tempatnya di peta kopi Indonesia.[Ichsan Machmud]

