ads

17 October, 2019

Ini Harapan Pasien Cuci Darah Terhadap BPJS Kesehatan

Ini Harapan Pasien Cuci Darah Terhadap BPJS Kesehatan
banner 336x280
RAKYATSATU.COM, BONE - Hasnawati (43), warga Jl Uos Sudarso, Kelurahan Cellu, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, sangat bersyukur menjadi peserta JKN KIS PBI APBN, sejak tahun 2014 dari Puskesmas.

Pasalnya, anak dari tiga bersaudara tersebut, kini harus menjalani cuci darah rutin seminggu dua kali di RSUD Tenriawaru Bone. Awalnya dia sering merasakan sakit pada pinggangnya terus menerus dan akhirnya berdasarkan periksaan dokter diharuskan menjalani cuci darah.

Saat di tahun 2014, satu keluarga Hasnawati menerima kartu JKN KIS dari Puskesmas dan keluarga tersebut mendapat semua kartunya, serta dari pihak Puskesmas sendiri rutin mengunjungi para pesertanya untuk memberikan edukasi.

Seluruh anggota keluarganya pun memanfaatkannya untuk berobat baik ke puskesmas maupun ke rumah sakit. Apalagi orang tua/ayah Hasnawati adalah seorang petani sedangkan dia sehari-hari hanya membantu keluarganya di rumah.

Saat Hasnawati melihat berita banyaknya demo terhadap BPJS Kesehatan dia sangat sedih dikarenakan secara nyata program JKN-KIS ini sangat membantu dirinya yang saat ini tengah menjalani cuci darah dimana pengobatan tersebut telah dijalaninya selama empat tahun.

“Saya sangat khawatir apabila tidak ada lagi BPJS Kesehatan, karena selama ini saya sendiri sudah merasakan manfaatnya dalam pengobatan saya yang tidak pernah saya mengeluarkan biaya sepeser pun," ujar Hasnawati.

"Apalagi cuci darah ini kan biayanya mahal. Makanya, saat saya mendengar dan melihat berita di televisi tentang BPJS Kesehatan yang akhir-akhir ini sering di demo saya sedih dan harapan saya untuk seterusnya agar dipertahankan program ini. Saya tidak tahu haru bagaimana lagi seandainya tidak ada BPJS Kesehatan,” tutur Hasnawati di ruang Hemodialisa saat berbincang dengan Tim Jamkesnews.

"Untuk perawatan setelah cuci darah pun saya diberikan arahannya oleh dokter apa-apa saja yang harus dihindari dalam menjaga pola makan saya, ruangan disini juga nyaman dan petugas rumah sakit pun juga melayani saya dengan sebaik-baiknya,” lanjut Hasnawati

Mengenai isu penyesuaian iuran pun, Hasnawati menyampaikan andaikan sampai harus menjadi peserta Mandiri apa boleh buat akan tetap dia lakukan dikarenakan biaya pengobatan penyakitnya yang cukup tinggi dibandingkan dengan iuran per bulan yang harus dibayarkan.  (Rasul)

Don't Miss

News Feed