![]() |
| Bahan pokok harian yang dipasarkan pada Geralan Pangan Murah Gaspol yang inisiasi oleh Kejari Soppeng kolaborasi Pemerintah dan Perbankan/ Foto : Ichsan Machmud |
RAKYATSATU.COM, SOPPENG - Di tengah keramaian Gerakan Pangan Murah (GPM) Gaspol yang digelar Kejaksaan Negeri (Kejari) Soppeng bersama Pemerintah Daerah (Pemda) dan sektor perbankan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Soppeng memanfaatkan momentum itu untuk memperkenalkan transaksi digital kepada masyarakat, Selasa 19 Mei 2026.
Selain membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih murah, kegiatan Gerakan Pangan Murah juga menghadirkan berbagai bahan pangan yang dijual di bawah harga pasar. Beras SPHP kemasan lima kilogram dijual Rp58 ribu, minyak goreng Minyak Kita Rp15 ribu per liter, gula pasir Rp17 ribu per kilogram, serta telur ayam satu rak Rp45 ribu.
Selain itu, tersedia pula bawang merah Rp33 ribu per kilogram, bawang putih Rp30 ribu, ikan nila segar Rp35 ribu, hingga cabai per bungkus Rp5 ribu. Tidak hanya bahan pangan, kegiatan tersebut juga menghadirkan produk UMKM lokal seperti sarabba, bolu cukke, pakaian, kerajinan tangan, hingga berbagai hiasan rumah tangga.
Bagi BRI, kegiatan pangan murah bukan sekadar ruang distribusi bahan pangan dengan harga terjangkau. Di sela antrean warga dan aktivitas pelaku UMKM, bank pelat merah itu juga mendorong terbentuknya ekosistem transaksi nontunai di tingkat masyarakat luas.
Pemerintah bersama BRI menjadikan penggunaan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai salah satu instrumen digitalisasi daerah dalam program Gerakan Pangan Murah. Langkah itu diharapkan tidak hanya membantu menjaga stabilitas harga pangan, tetapi juga perlahan mengubah pola transaksi masyarakat menuju sistem pembayaran digital.
Dalam kegiatan tersebut, BRI Soppeng memperkenalkan layanan pembayaran berbasis QRIS kepada pelaku usaha kecil dan pengunjung. Melalui sistem itu, transaksi cukup dilakukan menggunakan telepon genggam tanpa harus membawa uang tunai.
BRI melihat perubahan perilaku masyarakat dalam bertransaksi mulai bergerak ke arah layanan nontunai. Karena itu, penggunaan QRIS dinilai penting untuk membantu pelaku UMKM memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan efisiensi usaha mereka.
Bukan hanya mempermudah pembayaran, sistem digital itu juga dianggap membantu pedagang mengelola keuangan secara lebih tertata. Seluruh transaksi tercatat otomatis sehingga pelaku usaha tidak lagi bergantung pada pencatatan manual.
Pimpinan Cabang BRI Soppeng, Rahmatulloh Habibi, mengatakan edukasi terhadap UMKM menjadi bagian dari upaya perusahaan memperluas inklusi keuangan dan meningkatkan literasi masyarakat terhadap layanan digital.
Menurut dia, transformasi layanan keuangan kini menjadi kebutuhan yang terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan teknologi dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.
“Jadi kami menyediakan pembayaran menggunakan uang elektronik berupa QRIS BRI dan BRIZZI,” kata Habibi.
Ia menjelaskan, QRIS memungkinkan pelaku usaha menerima pembayaran lintas aplikasi perbankan maupun dompet digital hanya melalui satu kode QR.
| Bupati Soppeng, Suwardi Haseng (tengah) saat foto bersama dengan Kanca BRI Soppeng (kiri) sambil memegang kartu BRIZZI/ Foto : Ichsan Machmud |
Di sisi lain, kartu BRIZZI dinilai membantu mempercepat peralihan masyarakat menuju kebiasaan transaksi nontunai yang lebih praktis dan efisien.
"Alhamdulillah, tadi bapak Bupati mencoba menggunakan kartu BRIZZI dan mendukung transaksi nontunai," ujarnya
Melalui kegiatan GPM, kata Habibi, BRI juga ingin mengajak masyarakat lebih terbiasa menabung sekaligus memahami penggunaan transaksi digital melalui QRIS dan kartu BRIZZI.
Menurutnya, sistem pembayaran digital memberi keuntungan langsung bagi pedagang karena transaksi otomatis tercatat ke rekening tanpa harus dihitung secara manual. Pedagang juga tidak lagi direpotkan dengan penyediaan uang kembalian.
Sejumlah pedagang mengaku terbantu dengan penggunaan QRIS karena transaksi menjadi lebih cepat dan praktis. Pembeli juga merasa lebih nyaman karena tidak perlu menyiapkan uang pas saat berbelanja.
Hal serupa disampaikan warga yang datang bertransaksi di lokasi Gerakan Pangan Murah, Senna. Menurut dia, penggunaan QRIS membantu mempercepat proses pembayaran di tengah ramainya antrean pengunjung.
“Sangat membantu karena transaksi lebih cepat dan tidak terlalu berdesakan,” ujar Senna, salah satu warga yang hadir untuk memanfaatkan program GPM.
Sementara itu, Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, menilai penggunaan QRIS dalam kegiatan GPM menjadi bagian dari langkah digitalisasi daerah.
Menurut dia, sistem pembayaran digital yang disiapkan dalam kegiatan itu merupakan bentuk nyata upaya pemerintah menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sekaligus menekan laju inflasi daerah.
"Ini merupakan langkah nyata bagaimana menekan pasokan harga pangan. Dan kehadiran QRIS juga menjadi bagian dari upaya digitalisasi daerah," ucapnya.
Melalui kegiatan semacam GPM Gaspol, BRI mencoba membangun kebiasaan transaksi digital di tengah masyarakat. Upaya itu diharapkan tidak hanya memperkuat ekosistem ekonomi berbasis teknologi, tetapi juga mempercepat pertumbuhan UMKM dan perputaran ekonomi daerah. [Ichsan Machmud]
