![]() |
| Owner RR Aluminium, Juhria yang berlokasi di Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. |
RAKYATSATU.COM, MAROS - Di Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, suara mesin las kini menjadi pemandangan yang tak kalah akrab dibanding gemericik air tambak atau deru perahu nelayan. Di desa yang selama ini dikenal sebagai kawasan pertambakan dan pesisir itu, perlahan tumbuh profesi baru yang membuka harapan bagi anak-anak muda.
Bukan lagi sekadar mengikuti jejak orang tua menjadi petani tambak atau nelayan, sejumlah pemuda kini memilih merakit lemari aluminium, memasang kaca, hingga menyelesaikan pesanan kitchen set di sebuah rumah produksi sederhana bernama RR Aluminium.
Perubahan itu bermula dari keberanian Juhria (50), seorang ibu rumah tangga yang melihat banyak anak muda di desanya memiliki semangat bekerja, tetapi minim pilihan pekerjaan.
Di halaman rumahnya yang kini disulap menjadi bengkel produksi, Juhria mengumpulkan para pemuda untuk belajar dari nol. Tidak ada syarat harus memiliki pengalaman sebagai tukang las. Yang dibutuhkan hanya kemauan untuk belajar.
"Awalnya bicara-bicara ji sama anak-anak, jadi saya buatkan lapangan kerja, memberdayakan ini anak muda di sini," ujar Juhria saat ditemui di rumahnya, Jumat (12/6/2026).
Saat ini, RR Aluminium mempekerjakan delapan anak muda, sebagian berasal dari Desa Borimasunggu dan sebagian lainnya dari desa tetangga, Borikamase.
Mereka tidak langsung menjadi pekerja terampil. Proses belajar dilakukan setiap hari, mulai dari merakit rangka aluminium, memasang kaca hingga menyelesaikan berbagai jenis pesanan. Para pekerja senior dilibatkan untuk membimbing rekan-rekan yang baru bergabung.
"Ada beberapa senior yang sudah jago, kita minta dia ajarkan kepada anak muda lainnya," katanya.
Kini, berkat keterampilan yang terus meningkat, RR Aluminium mampu menyelesaikan sekitar 15 pesanan setiap bulan. Produknya pun beragam, mulai dari lemari pakaian aluminium, rak piring, partisi ruangan hingga kitchen set.
"Lemari pakaian tiga pintu juga biasa, tapi kadang juga ada partisi, pokoknya bervariasilah," ungkap Juhria.
Meski telah berkembang, Juhria tetap berusaha menciptakan lingkungan kerja yang manusiawi. Para pekerjanya mendapat hak libur dan waktu untuk membantu keluarga, terutama saat musim panen tambak.
"Kebetulan mereka lagi libur ini kalau Jumat, ada yang bantu orang tuanya di tambak," ujarnya.
Di balik berkembangnya RR Aluminium, terdapat dukungan pembiayaan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Tambahan modal itu digunakan untuk memperbesar kapasitas usaha, membeli kebutuhan produksi sekaligus menopang operasional, termasuk pembayaran gaji para pekerja.
"Saya dapat Rp150 juta dari KUR untuk tenor empat tahun. Sekarang sudah mau lunas," katanya.
Sebenarnya, hubungan Juhria dengan KUR BRI sudah terjalin jauh sebelum RR Aluminium berdiri. Saat masih menjalankan usaha jahit, ia pernah memperoleh pinjaman modal sebesar Rp5 juta.
Namun perubahan pola belanja masyarakat membuat usaha jahit semakin sulit berkembang.
"Potensinya sudah kurang karena banyak penjual online. Saya lihat sudah tidak memungkinkan," tuturnya.
Setelah pandemi Covid-19, Juhria memutuskan banting setir membuka usaha aluminium. Keputusan itu kembali mendapat dukungan dari BRI melalui fasilitas KUR yang lebih besar.
"Sebelumnya saya dikasih dulu, tapi berhenti usaha jahit. Setelah Covid-19 buka usaha aluminium ini, ternyata dikasih lagi," katanya.
Manajemen usaha yang disiplin membuat RR Aluminium terus berkembang. Pemasaran tidak lagi terbatas di Maros, tetapi telah menjangkau sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, termasuk Kabupaten Gowa.
Kepercayaan pelanggan dibangun melalui kualitas produk. Juhria memilih menggunakan kaca setebal lima milimeter agar lebih kuat saat proses pengiriman. Keputusan itu membuat produknya tetap aman meski harus melewati jalan desa yang tidak seluruhnya mulus, bahkan pernah dikirim menggunakan perahu menuju salah satu pulau di Kabupaten Pangkep.
"Ketebalan kaca kita itu lima milimeter. Kita tidak ambil di bawahnya karena rawan pecah," jelasnya.
Perjalanan RR Aluminium menjadi salah satu potret bagaimana akses pembiayaan mampu mengubah usaha rumahan menjadi bisnis yang terus bertumbuh. Tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tambahan modal juga membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat di sekitarnya. Komitmen itulah yang terus diwujudkan BRI melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat kepada pelaku usaha produktif di berbagai daerah.
Regional Mikro Banking Head (RMBH) BRI Region 15 Makassar, Iwan Supriyanto, mengatakan KUR secara konsisten disalurkan kepada UMKM produktif agar memiliki kesempatan berkembang dan naik kelas.
Menurutnya, KUR Mikro memiliki plafon Rp10 juta hingga Rp100 juta tanpa agunan tambahan. Sementara KUR Kecil memiliki plafon Rp100 juta hingga Rp500 juta dengan ketentuan agunan untuk pembiayaan di atas Rp100 juta.
"Kalau di atas Rp100 juta itu butuh agunan," ujarnya.
Komitmen tersebut tercermin dari realisasi penyaluran KUR BRI Region 15 Makassar yang meliputi wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Ambon. Hingga akhir Desember 2025, total penyaluran KUR mencapai Rp16,859 triliun.
Dari jumlah tersebut, Sulawesi Selatan menjadi wilayah dengan penyaluran terbesar, yakni Rp12,431 triliun. Angka tersebut menunjukkan tingginya aktivitas UMKM dalam memanfaatkan pembiayaan untuk memperkuat dan mengembangkan usahanya. (Amin Rais)
