
Kabid SD dan Kabid Ketenagaan Sarana dan Prasarana saat berada di Desa Pattiro Sompe
RAKYATSATU.COM, BONE - Sejumlah orang tua dan wali murid SD Inpres 12/79 Pattiro Sompe, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, mengeluhkan jauhnya akses pendidikan dari Dusun Borong Kalukue, Desa Pattiro Sompe. Jarak yang harus ditempuh dinilai menjadi hambatan utama bagi anak-anak untuk bersekolah.
Kepala Desa Pattiro Sompe, Heri Arham, mengatakan persoalan ini telah berlangsung lama. Ia menyebut kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya angka anak putus sekolah, terutama di Dusun Borong Kalukue.
“Keluhan warga terkait jauhnya sekolah sudah lama, namun baru kali ini mendapat perhatian setelah kami bersama Camat Sibulue melakukan kunjungan ke dusun tersebut,” kata Heri, Minggu, 19 April 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Edy Saputra Syam, merespons laporan itu dengan menugaskan dua kepala bidang untuk meninjau langsung lokasi. Ia menyatakan langkah cepat diperlukan guna mencari solusi atas persoalan tersebut.
“Saya sudah meminta kedua kabid terkait untuk segera turun dan mencarikan solusi atas kondisi di lapangan,” ujar Edy.
Kunjungan dilakukan Kepala Bidang SD Andi Supriadi bersama Kepala Bidang Ketenagaan, Sarana dan Prasarana Rustan. Mereka disambut Camat Sibulue Sainal Abidin, Kepala Desa Pattiro Sompe Heri Arham, serta Kepala SD Inpres 12/79 Pattiro Sompe Sudirman.
Peninjauan difokuskan pada rencana pembentukan kelas jauh yang ditargetkan mulai berjalan pada penerimaan Tahun Ajaran 2026/2027. Skema ini diharapkan menjadi solusi jangka pendek bagi keterbatasan akses pendidikan.
Andi Supriadi mengatakan pembentukan kelas jauh menjadi langkah mendesak untuk mencegah anak putus sekolah. Ia menilai luas wilayah desa dan jauhnya jarak tempuh menjadi faktor utama persoalan tersebut.
“Setelah pendataan, salah satu penyebab utama putus sekolah adalah jarak yang terlalu jauh. Karena itu, kelas darurat atau kelas jauh menjadi pilihan yang harus segera dilakukan,” katanya.
Sementara itu, Rustan menyatakan kebutuhan sarana belajar masih menjadi tantangan. Untuk tahap awal, kegiatan belajar direncanakan memanfaatkan fasilitas sederhana sambil menunggu dukungan masyarakat.
“Untuk sementara, ruang kelas menggunakan kolong rumah warga. Kami berharap ada warga yang bersedia menghibahkan lahan agar dapat dibangun ruang belajar permanen,” ujar Rustanto. [Ikhlas /Rasul]