
Rahman, S.Pd.I., M.A., Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bone
RAKYATSATU.COM, BONE – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bone mulai menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di madrasah melalui program percontohan atau piloting. Kurikulum ini mengedepankan pendekatan pembelajaran yang humanis dengan mengutamakan kenyamanan, kedekatan emosional, serta pengembangan potensi setiap peserta didik.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Kabupaten Bone, Rahman, S.Pd.I., M.A., mengatakan penerapan KBC merupakan tindak lanjut program yang dicanangkan Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A.
Menurut Rahman, proses pembelajaran tidak cukup hanya berfokus pada penyampaian materi pelajaran. Guru juga perlu membangun hubungan emosional yang baik dengan siswa agar suasana belajar lebih nyaman dan proses transfer ilmu berjalan efektif.
"Guru tidak boleh lagi marah-marah dan menghakimi siswa. Segala sesuatu dimulai dengan hati," jelas Rahman.
Dia menegaskan, Kurikulum Berbasis Cinta mendorong siswa berkembang sesuai bakat dan potensi masing-masing. Karena itu, guru diharapkan lebih peka dalam memahami karakter, kebutuhan, serta kemampuan setiap peserta didik.
Dalam pelaksanaan program percontohan tersebut, Kemenag Bone melibatkan 24 pengawas madrasah untuk mendampingi sekitar 300 madrasah. Pendampingan dilakukan melalui Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) guna memastikan penerapan kurikulum berjalan sesuai tujuan.
Dari sisi kesiapan, para guru telah mendapatkan pembekalan dan pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta sejak tahun lalu. Selanjutnya, para pengawas memilih madrasah yang dinilai siap menjadi lokasi percontohan untuk mendapatkan pendampingan secara lebih intensif.
Madrasah yang menjadi percontohan diharapkan dapat mengembangkan praktik pembelajaran yang sesuai dengan prinsip KBC. Pengalaman dan praktik baik tersebut nantinya dapat menjadi referensi bagi madrasah lain dalam menerapkan pendekatan serupa.
Rahman menambahkan, pengembangan madrasah unggulan melalui Kurikulum Berbasis Cinta akan disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik masing-masing madrasah. Potensi siswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik, menjadi salah satu aspek utama yang diperhatikan dalam proses pengembangan.
Dia berharap penerapan KBC dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih manusiawi dan bermakna. Dalam pendekatan ini, kebutuhan, karakter, serta potensi siswa menjadi dasar dalam menentukan proses pembelajaran.
"Jangan mentransfer ilmu sebelum menyentuh hati siswa. Kalau hati sudah terhubung, apa pun bisa diterima," ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, madrasah diharapkan tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang bagi siswa untuk tumbuh, berkarya, dan mengembangkan kemampuan diri. Suasana belajar yang nyaman dan penuh kasih diharapkan dapat membantu peserta didik meraih potensi terbaiknya. [Ikhlas /Sugi]