RAKYATSATU.COM, BONE - Upaya mewujudkan swasembada pangan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian, lemahnya kelembagaan petani, hingga terbatasnya akses terhadap teknologi dan pelatihan. Kondisi tersebut dinilai dapat mengancam keberlanjutan produksi pangan jika tidak diimbangi dengan penguatan sumber daya manusia dan kelembagaan petani.
Data Sensus Pertanian 2023 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia memiliki 25,12 juta rumah tangga usaha pertanian dan 27,37 juta rumah tangga petani. Namun, sebagian besar petani masih berada pada kelompok usia di atas 45 tahun. Kondisi ini membuat regenerasi petani menjadi salah satu tantangan yang perlu segera mendapat perhatian.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjawab persoalan tersebut adalah memperkuat peran Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S). Lembaga ini menjadi wadah pembelajaran bagi petani melalui pendidikan nonformal, pelatihan, pendampingan, hingga penyebarluasan inovasi teknologi pertanian. Melalui P4S, petani dapat saling bertukar pengalaman dan mengembangkan usaha tani yang lebih produktif, efisien, serta berkelanjutan.
Pemerintah juga menempatkan regenerasi petani sebagai salah satu fokus pembangunan pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda agar mampu menjadi pelaku utama pembangunan pertanian melalui peningkatan kompetensi, penguasaan teknologi, dan penguatan kelembagaan. Pengembangan sumber daya manusia pertanian pun terus diperkuat, termasuk melalui P4S sebagai pusat pembelajaran dan pendampingan bagi petani yang inovatif, mandiri, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Sejalan dengan kebijakan tersebut, Tim PPK Ormawa UKM Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (KPI) Universitas Hasanuddin menghadirkan Sikola P4S Lamellong sebagai salah satu program unggulan dalam inisiatif MANNENNUNGENG di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kelembagaan petani melalui penyusunan modul pelatihan, pengembangan kurikulum manajemen kelembagaan, serta pendampingan secara berkelanjutan.
Melalui Sikola P4S Lamellong, petani tidak hanya mendapatkan peningkatan keterampilan teknis budidaya. Mereka juga dibekali kemampuan mengelola organisasi, menyusun perencanaan usaha tani, membangun jejaring kemitraan, serta mengadopsi inovasi pertanian modern. Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong lahirnya petani yang lebih mandiri sekaligus memperkuat kelembagaan sebagai fondasi pembangunan pertanian berkelanjutan.
Dalam program MANNENNUNGENG, penguatan P4S juga dipadukan dengan sejumlah inovasi pertanian. Di antaranya penerapan Alternate Wetting and Drying (AWD) berbasis Internet of Things (IoT), pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan menjadi pupuk organik dan pakan ternak, penerapan pola tanam Jajar Legowo, introduksi varietas unggul, serta teknologi pengendalian hama yang ramah lingkungan. Integrasi tersebut menjadikan P4S bukan hanya sebagai tempat pelatihan, tetapi juga pusat demonstrasi teknologi yang dapat langsung dipraktikkan petani.
Peran P4S dinilai semakin penting di tengah transformasi sektor pertanian. Digitalisasi pertanian, sistem irigasi hemat air, sensor IoT, hingga pertanian presisi membutuhkan proses transfer pengetahuan agar dapat diterapkan secara efektif di tingkat petani. Dalam kondisi tersebut, P4S dapat menjadi jembatan antara inovasi, penyuluhan, dan praktik lapangan sehingga teknologi yang dikembangkan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.
Melalui penguatan kelembagaan secara berkelanjutan, Sikola P4S Lamellong diharapkan dapat melahirkan kader petani yang menjadi penggerak pembangunan pertanian di Desa Kajaolaliddong. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas individu petani, tetapi juga memperkuat kemampuan organisasi dalam mengelola inovasi, memperluas jejaring kolaborasi, serta menjaga keberlanjutan program setelah masa pendampingan berakhir.
Penguatan P4S pada akhirnya tidak sekadar membangun lembaga pelatihan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun fondasi regenerasi petani Indonesia. Dengan akses terhadap pendidikan, teknologi, dan pendampingan yang berkelanjutan, petani diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mempercepat adopsi inovasi. Kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat melalui Sikola P4S Lamellong menjadi salah satu langkah untuk mendorong pertanian Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan modern. [Ikhlas/*]
