Peserta gerak jalan memperingati hut RI ke 81 yang di selenggarakan oleh dinas pariwisata pemuda dan olahraga kab maros
RAKYATSATU.COM,MAROS - Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kabupaten Maros yang seharusnya berlangsung meriah dan penuh sukacita justru diwarnai kekecewaan.
Ajang tahunan lomba gerak jalan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Maros pada 5 Agustus 2026 kini menjadi sorotan tajam netizen.
Gelombang protes bermunculan di berbagai platform media sosial, khususnya TikTok dan Instagram. Sejumlah video yang memperlihatkan ketidakpuasan peserta serta masyarakat terhadap hasil pengumuman juara mendadak viral dan memicu perdebatan hangat di kolom komentar.
Momen yang ditunggu-tunggu untuk mempererat rasa nasionalisme ini disinyalir ternodai oleh dugaan kecurangan dalam proses penentuan pemenang.
Banyak pihak menilai keputusan dewan juri tidak mencerminkan performa riil para peserta saat tampil di lapangan.
Dalam deretan video viral yang beredar, masyarakat menyoroti perbandingan mencolok antara barisan yang meraih Juara 1 dengan peserta lainnya. Tim pemenang utama justru terlihat memiliki langkah kaki yang kurang simetris serta koordinasi formasi yang terkesan amburadul.
Sebaliknya, beberapa kontingen sekolah yang tampil sangat presisi, disiplin, dan memiliki kerapian gerakan luar biasa justru harus puas berada di peringkat bawah. Bahkan, publik dikejutkan dengan tingginya skor yang diperoleh beberapa sekolah yang secara kasat mata tampil jauh dari kata sempurna.
Kondisi ini memicu amarah dan keheranan di tengah masyarakat serta para peserta. Mereka mendesak Disparpora Kabupaten Maros beserta panitia penyelenggara untuk memberikan klarifikasi resmi secara terbuka demi meredam rasa ketidakadilan yang dirasakan publik.
Masyarakat meminta transparansi total dengan mempublikasikan rincian skor penilaian dari setiap kriteria lomba secara mendalam. Langkah ini dianggap penting agar publik mengetahui secara pasti variabel apa saja yang menjadi acuan juri dalam menentukan poin akhir.
Tidak hanya masyarakat umum, rasa bingung juga dirasakan oleh para pelatih kontingen. Mereka mengaku sama sekali tidak memahami standar serta tolak ukur penilaian yang digunakan tim juri hingga menghasilkan akumulasi skor akhir seperti yang telah diedarkan panitia.
Salah seorang aziz pelatih dari salah satu sekolah yang mengikuti lomba secara tegas menyuarakan kekecewaannya atas sistem penandatanganan skor tersebut. Ia menekankan perlunya keterbukaan agar tidak memunculkan spekulasi liar mengenai dugaan permainan di balik layar.
"Kita mau transparan pada penilaian, jangan sampai ada permainan pada penilaian gerak jalan ini. Baiknya dinas pariwisata, khususnya bidang olahraga, memaparkan berapa masing-masing item penilaian yang didapatkan oleh para peserta lomba ini guna memberikan kepercayaan kepada masyarakat," ungkap sang pelatih. (Ikhlas/Arul)