RAKYATSATU.COM, MAROS - Pemerintah Kabupaten Maros mulai menyalurkan bantuan air bersih kepada 6.738 kepala keluarga yang terdampak kekeringan akibat musim kemarau panjang dan fenomena El Nino.
Bupati Maros AS Chaidir Syam mengatakan distribusi air difokuskan ke delapan kecamatan yang masuk wilayah rawan krisis air. Empat kecamatan ditetapkan sebagai zona merah, sedangkan empat lainnya masuk zona kuning.
“Targetnya menjangkau 6.738 KK yang terdampak kekeringan,” kata Chaidir setelah melepas armada distribusi air bersih di Lapangan Pallangtikang, Selasa, 11 Agustus 2026.
Wilayah zona merah meliputi Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru. Adapun zona kuning mencakup Turikale, Moncongloe, Tanralili, dan Mandai.
Pemerintah daerah menyiapkan sedikitnya 16 mobil tangki air setiap hari. Armada tersebut akan bergerak secara bergilir ke wilayah yang membutuhkan pasokan air.
Chaidir mengatakan distribusi akan terus dilakukan selama kondisi belum kembali normal. Pemerintah daerah juga menggandeng berbagai pihak untuk memastikan pasokan air menjangkau warga terdampak.
Kekeringan juga mulai diantisipasi pada sektor pertanian. Pemkab Maros membentuk satuan tugas kekeringan untuk mendata lahan yang terdampak, termasuk lahan yang berpotensi mengalami gagal panen atau puso.
Data tersebut nantinya dilaporkan kepada pemerintah provinsi dan pemerintah pusat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Ancaman lain yang menjadi perhatian pemerintah adalah kebakaran di tempat pembuangan akhir atau TPA. Pemkab Maros menyiagakan satu unit mobil pemadam kebakaran setiap hari untuk melakukan penyiraman dan mencegah munculnya titik api.
“Kami juga mengantisipasi potensi kebakaran di TPA dengan menyiagakan satu mobil pemadam yang melakukan penyiraman setiap hari,” ujar Chaidir.
Sekretaris Daerah Kabupaten Maros Andi Davied Syamsuddin mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran awal Rp600 juta untuk mendukung distribusi air bersih.
Anggaran tersebut bersumber dari Belanja Tidak Terduga. Menurut Davied, jumlah anggaran dapat ditambah apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang.
“Tidak menutup kemungkinan anggaran akan ditambah sesuai kebutuhan,” kata dia. (Ikhlas/Arul)