Iklan

Iklan

Makkah dan Madinah; Dua Jalan Menuju Allah

02 Juni 2026, 3:49 PM WIB Last Updated 2026-06-02T07:49:47Z

Muhammad Amri

RAKYATSATU. COM, Dalam perjalanan haji kali ini, saya bersyukur dipertemukan dengan teman-teman seperjalanan yang memperkaya makna setiap langkah. Salah satunya adalah Prof. Slamet, Guru Besar Teknik Mesin Universitas Brawijaya sekaligus anggota Dewan Eksekutif BAN-PT. Pada suatu sore di Masjid Nabawi, kami berbincang tentang pengalaman selama berada di Tanah Suci. Percakapan itu bermula dari sesuatu yang sederhana: perasaan.

Kami sama-sama merasakan bahwa Madinah menghadirkan suasana yang berbeda dari Mekkah. Di Mekkah, hati seperti terus diajak berjaga. Ada getaran yang kuat, kadang menguras emosi, kadang membuat seseorang lebih mudah menangis saat berdoa. Sebaliknya, Madinah terasa teduh. Langkah menjadi lebih ringan, dada terasa lebih lapang, dan hati seolah menemukan tempat beristirahat setelah perjalanan yang panjang.

Tentu saja ini bukan ukuran ilmiah. Namun menariknya, perasaan serupa sering diungkapkan oleh banyak jamaah yang lain. Pertanyaannya kemudian: mengapa dua kota yang sama-sama suci dapat menghadirkan pengalaman batin yang begitu berbeda? Di sinilah para ulama tasawuf menawarkan cara pandang yang menarik.

Mereka menjelaskan bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya melalui banyak nama dan sifat. Di antara yang paling mendasar adalah dua pancaran utama: *Jalal dan Jamal*. Jalal adalah *keagungan yang membangkitkan rasa takut, hormat, dan ketundukan*. Jamal adalah *keindahan yang menghadirkan rasa cinta, kedekatan, dan ketenteraman*. Jika dua sifat itu memancar ke dalam pengalaman manusia, maka Mekkah dan Madinah tampak seperti dua cermin yang memantulkan dua wajah yang berbeda dari kehadiran Ilahi.

Mekkah lebih dekat dengan pancaran Jalal. Bukan tanpa alasan. Sejarah spiritual kota ini dimulai dengan salah satu ujian paling berat dalam sejarah kenabian. Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan Hajar dan Ismail di sebuah lembah tandus yang bahkan belum layak disebut permukiman. Tidak ada jaminan keselamatan. Tidak ada kepastian masa depan. Yang ada hanya kepatuhan mutlak kepada perintah Allah.

Sejak awal, Mekkah dibangun di atas fondasi kepasrahan yang nyaris melampaui batas kemampuan manusia. Karakter itu kemudian terus terasa dalam perjalanan sejarahnya. Sebagian besar ayat Makkiyah berbicara tentang hari kiamat, pembalasan, tauhid yang tegas, serta peringatan kepada mereka yang menolak kebenaran. Nada yang muncul adalah nada kebangkitan, guncangan, dan peringatan.

Karena itu, banyak ulama memandang Mekkah sebagai ruang takhalli—tempat manusia mengosongkan dirinya dari dosa dan kesombongan. Di kota ini manusia dipaksa berjumpa dengan dirinya sendiri.

Ihram menanggalkan status sosial. Tawaf menghapus rasa pusat diri. Wukuf memperlihatkan betapa kecil manusia di hadapan Yang Maha Agung. Sedikit demi sedikit ego diluruhkan sampai yang tersisa hanyalah kefakiran di hadapan Allah Swt.

Pandangan ini menemukan gema yang kuat dalam pemikiran Ibnu Arabi. Menurut Sang Syekh al-Akbar, seluruh realitas bergerak dalam tarikan dua nama besar Allah: *Jalal dan Jamal*. Dalam kerangka itu, Mekkah merepresentasikan prinsip tanzih—Allah Yang Maha Tinggi, Maha Agung, dan tak tersentuh oleh segala sesuatu. Namun perjalanan seorang hamba tidak berhenti pada ketundukan.

Setelah manusia dihancurkan oleh kesadaran akan kelemahannya, Allah memperlihatkan sisi lain dari kehadiran-Nya. Sisi itu bernama Madinah. Jika Mekkah adalah tempat manusia belajar merendahkan diri di hadapan Tuhan, maka Madinah adalah tempat manusia belajar merasakan kasih sayang-Nya.

Ada alasan historis yang sangat kuat untuk itu. Madinah adalah kota yang menerima Rasulullah ketika Mekkah menolaknya. Kota ini membuka pintunya ketika beliau terusir dari tanah kelahirannya. Di sinilah beliau membangun masyarakat, mendamaikan suku-suku yang bertikai, mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, serta menampilkan akhlak yang paling indah dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu tidak mengherankan jika ayat-ayat Madaniyah lebih banyak berbicara tentang tata kehidupan bersama: keluarga, hukum, perdamaian, dan kemaslahatan sosial.

Bila Mekkah berbicara tentang bagaimana manusia berdiri di hadapan Allah, maka Madinah berbicara tentang bagaimana manusia hidup bersama sesama manusia.
Di sinilah gagasan *Jamal* menemukan bentuknya yang paling nyata.

Ibnu Arabi memandang Rasulullah saw,. sebagai Insan Kamil, manusia sempurna yang memantulkan sifat-sifat Allah secara paling utuh. Karena jasad beliau bersemayam di Madinah, banyak orang merasakan bahwa kota ini menjadi ruang yang dipenuhi kelembutan dan kerinduan.

Maka tidak mengherankan bila banyak jamaah merasakan perubahan suasana batin ketika tiba di Madinah. Ketegangan yang sebelumnya terasa di Mekkah perlahan mencair. Air mata yang sebelumnya lahir dari rasa takut berubah menjadi air mata kerinduan. Hati yang diguncang oleh keagungan menemukan pelukan kasih sayang.
Tetapi keduanya bukanlah dua jalan yang saling meniadakan. Justru di sinilah letak kebijaksanaan perjalanan haji.

Menurut Ibnu Arabi lagi, manusia tidak boleh berhenti hanya pada Jalal atau hanya pada Jamal. Takut tanpa cinta akan melahirkan keputusasaan. Cinta tanpa rasa hormat akan melahirkan kelalaian. Karena itu perjalanan dari Mekkah menuju Madinah sesungguhnya adalah perjalanan menuju keseimbangan. Di Mekkah kita belajar bahwa Allah Mahabesar dan kita hanyalah hamba. Di Madinah kita belajar bahwa Allah juga Maha Pengasih dan membuka pintu kedekatan bagi siapa saja yang datang kepada-Nya.

Di antara rasa takut dan harapan, di antara keagungan dan keindahan, di antara Jalal dan Jamal, seorang mukmin perlahan dibentuk menjadi jiwa yang tenang. Ya Allah, jangan jadikan kunjungan ini adalah kunjungan terakhir kami di dua kota sucimu. (Ikhlas/ Amd)
Komentar

Tampilkan

  • Makkah dan Madinah; Dua Jalan Menuju Allah
  • 0

Terkini

Iklan