Iklan

Iklan

Desa BRILiaN Panincong, BUMDes dan Layanan Digital BRI Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Desa

17 Juni 2026, 12:13 AM WIB Last Updated 2026-06-16T16:14:30Z

Suasana pelayanan pada BUMDes Mart milik Desa Panincong/ Foto : Ichsan Machmud

RAKYATSATU.COM, SOPPENG
- Di Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, Desa Panincong menjadi salah satu contoh bagaimana pembangunan desa tidak lagi hanya bertumpu pada sektor pertanian semata. Dalam beberapa tahun terakhir, desa ini menunjukkan transformasi yang menarik melalui penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pemberdayaan UMKM, dan pemanfaatan layanan keuangan digital, Rabu, 17 Juni 2026.


Transformasi tersebut mengantarkan Panincong masuk dalam Program New Desa BRILiaN yang digagas Bank Rakyat Indonesia (BRI). Program ini merupakan inisiatif pemberdayaan desa yang berfokus pada penguatan kelembagaan desa, digitalisasi, inovasi, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.


Bagi Panincong, status Desa BRILiaN bukan sekadar penghargaan. Predikat itu menjadi pengakuan atas upaya panjang pemerintah desa dan masyarakat dalam membangun ekonomi lokal yang mandiri dan berdaya saing. Pada 2024, Panincong bahkan berhasil masuk dalam kategori 15 Desa Terbaik New Desa BRILiaN Batch 1 dari ratusan desa peserta di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.


Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran BUMDes Mandiri Panincong yang telah berdiri sejak 2015. Dari tahun ke tahun, BUMDes ini terus berkembang menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat dengan mengelola berbagai unit usaha yang menyentuh kebutuhan warga secara langsung.


Salah satu usaha yang paling dikenal masyarakat adalah Roti Somo. Produk olahan roti yang dibuat oleh warga lokal ini lahir dari pelatihan keterampilan yang kemudian dikembangkan menjadi usaha produktif desa. Dari awalnya hanya dipasarkan di sekitar Panincong, Roti Somo kini telah dikenal hingga berbagai wilayah di Kecamatan Marioriawa.


Selain Roti Somo, BUMDes juga mengelola depot air minum isi ulang, Kedai Pola, Bumdes Mart, layanan alat tulis kantor, hingga program ketahanan pangan berbasis peternakan kambing. Keberagaman unit usaha tersebut menjadi bukti bahwa desa mampu membangun sumber pendapatan dari berbagai sektor sekaligus.


Proses pembuatan Roti Somo, produk olahan dari BUMDEs Mandiri Panincong/ Foto : Ichsan Machmud

Kedai Pola menjadi salah satu inovasi yang cukup menarik. Tempat ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat kuliner masyarakat, tetapi juga menjadi ruang publik yang mempertemukan pelaku UMKM, komunitas, dan masyarakat umum. 


Sementara itu, kehadiran Bumdes Mart yang diresmikan pada akhir 2024 semakin memperkuat perputaran ekonomi lokal. Selain menyediakan kebutuhan masyarakat, unit usaha tersebut juga membuka lapangan kerja baru bagi warga desa.


Dari sisi kinerja usaha, perkembangan BUMDes Mandiri Panincong menunjukkan tren yang positif. Pendapatan usaha terus meningkat dan secara rutin memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Desa (PAD). Pada 2024, BUMDes memberikan kontribusi lebih dari Rp26 juta kepada PAD desa.


Laporan pertanggungjawaban tahun 2025 bahkan mencatat Sisa Hasil Usaha BUMDes mencapai lebih dari Rp96 juta. Angka tersebut menjadi indikator bahwa pengelolaan usaha desa dilakukan secara profesional dan berkelanjutan.


Kepala Desa Panincong, Andi Mardiana, mengatakan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil kolaborasi yang dibangun antara pemerintah desa, BUMDes, kelompok usaha, dan masyarakat.


Menurutnya, pembangunan desa saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus mampu memperkuat ekonomi masyarakat melalui berbagai usaha produktif.


"Program Desa BRILiaN menjadi pemicu semangat bagi kami untuk terus berinovasi. Desa harus mampu mengelola potensi yang dimiliki agar memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat," ujar Andi Mardiana.


Ia menegaskan bahwa Pemerintah Desa Panincong terus mendorong tumbuhnya usaha-usaha baru yang dapat membuka lapangan kerja sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


"Kami ingin Panincong dikenal bukan hanya sebagai desa pertanian, tetapi juga sebagai desa yang mampu melahirkan usaha-usaha kreatif dan mandiri. Karena kemajuan desa harus dirasakan langsung oleh masyarakat," katanya.


Andi Mardiana menambahkan bahwa perkembangan teknologi dan layanan keuangan digital menjadi peluang besar yang harus dimanfaatkan masyarakat desa.


"Kehadiran layanan perbankan digital seperti BRImo, QRIS, dan Agen BRILink telah membantu masyarakat dalam bertransaksi. Ini menjadi bagian penting dari transformasi desa menuju ekonomi yang lebih modern dan inklusif," tambahnya.


Sebagai bagian dari ekosistem Desa BRILiaN, digitalisasi memang menjadi salah satu aspek yang terus diperkuat. Kehadiran layanan perbankan BRI membuat akses keuangan masyarakat semakin mudah dijangkau.


Melalui Agen BRILink yang tersedia di desa, masyarakat kini dapat melakukan berbagai transaksi tanpa harus pergi jauh ke kantor bank. Mulai dari tarik tunai, transfer dana, pembayaran tagihan listrik, pembayaran BPJS, hingga pembelian pulsa dapat dilakukan lebih cepat dan praktis.



Sementara melalui aplikasi BRImo, masyarakat dapat mengakses layanan perbankan langsung dari telepon genggam. Berbagai transaksi seperti transfer uang, pembayaran QRIS, pembelian token listrik, hingga pembayaran tagihan bulanan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.


Bagi pelaku UMKM, layanan QRIS BRI turut membuka peluang baru. Sistem pembayaran non-tunai memudahkan transaksi dan membantu pelaku usaha menjangkau konsumen yang semakin terbiasa menggunakan layanan digital.


Direktur BUMDes Mandiri Panincong, Haswindar, mengatakan bahwa perkembangan yang dicapai BUMDes saat ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Program Desa BRILiaN yang diinisiasi BRI.


Menurutnya, sebelum berkembang seperti sekarang, BUMDes Mandiri Panincong hanya mengelola usaha sederhana berupa layanan fotokopi dan alat tulis kantor (ATK). Namun seiring berjalannya waktu, pengelolaan usaha terus dibenahi hingga mampu melahirkan berbagai unit usaha baru yang memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.


Pelayanan Agen BRILink Mandiri milik BUMDEs Mandiri Panincong/ Foto : Ichsan Machmud

"BRI memberikan manfaat yang sangat besar bagi kami. Dulu BUMDes Mandiri Panincong hanya memiliki usaha fotokopi dan ATK. Namun melalui Program Desa BRILiaN, kami bertransformasi lebih baik dengan menghadirkan berbagai layanan digital seperti BRImo, QRIS, dan AgenBRILink yang kini dimanfaatkan masyarakat," ujar Haswindar.


Ia menjelaskan, transformasi tersebut tidak hanya menghadirkan layanan baru, tetapi juga mengubah cara pengelolaan usaha desa menjadi lebih profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.


Menurut Haswindar, salah satu keuntungan terbesar yang diperoleh melalui Program Desa BRILiaN adalah pendampingan yang diberikan secara berkelanjutan. Tidak hanya dari BRI, pengurus BUMDes juga mendapatkan pembinaan dan penguatan kapasitas dari akademisi.


"Kami mendapatkan pendampingan langsung dari BRI bersama para dosen dari Universitas Sebelas Maret. Banyak ilmu dan pengalaman yang kami peroleh, mulai dari tata kelola usaha, pengembangan bisnis, pemasaran, hingga pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan BUMDes," katanya.


Pendampingan tersebut membuat pengelola BUMDes lebih percaya diri dalam mengembangkan berbagai unit usaha yang sebelumnya belum pernah dijalankan. Dari usaha fotokopi dan ATK, kini BUMDes Mandiri Panincong mengelola Roti Somo, depot air minum isi ulang, Bumdes Mart, Kedai Pola, layanan Agen BRILink, hingga program ketahanan pangan.


Haswindar mengungkapkan bahwa perkembangan tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan omzet dan pendapatan usaha desa dari tahun ke tahun. Bahkan keberadaan BUMDes kini menjadi salah satu penggerak utama aktivitas ekonomi masyarakat di Panincong.


"Alhamdulillah, saat ini omzet usaha terus mengalami peningkatan. Yang paling penting bukan hanya soal keuntungan usaha, tetapi bagaimana manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya.


Menurutnya, keberadaan BUMDes telah membuka lapangan kerja baru bagi warga desa, memberikan ruang bagi UMKM untuk berkembang, serta menciptakan perputaran ekonomi yang lebih besar di tingkat lokal.


"Kami ingin BUMDes hadir sebagai motor penggerak ekonomi desa. Ketika usaha berkembang, maka akan muncul peluang kerja, peluang usaha, dan peningkatan pendapatan masyarakat. Dampaknya bisa dirasakan langsung oleh warga," katanya.


Ke depan, Haswindar berharap Panincong dapat terus berkembang sebagai salah satu desa percontohan dalam pengelolaan ekonomi berbasis masyarakat di Kabupaten Soppeng.


"Kami ingin Panincong menjadi desa yang mampu menciptakan peluang usaha bagi masyarakatnya sendiri. Ketika ekonomi desa tumbuh, maka manfaatnya juga akan kembali kepada masyarakat desa," pungkasnya.


Kondisi Desa Panincong menunjukkan bahwa kemajuan desa tidak selalu dimulai dari proyek besar. Terkadang, perubahan lahir dari kemampuan melihat potensi lokal, mengelolanya secara konsisten, dan memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk mempercepat pertumbuhan.


Kini Desa Panincong tidak hanya dikenal sebagai desa pertanian di Kabupaten Soppeng. Desa ini telah berkembang menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara pemerintah desa, BUMDes, masyarakat, dan sektor perbankan mampu melahirkan desa yang mandiri, inovatif, dan siap menghadapi tantangan ekonomi digital di masa depan. [Ichsan Machmud]

Komentar

Tampilkan

  • Desa BRILiaN Panincong, BUMDes dan Layanan Digital BRI Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi Desa
  • 0

Terkini

Iklan