Iklan

Iklan

Dulu Cuma Isi Waktu, Kini Kue Durian Vinlandak Masuk Hotel dan Ritel Modern

05 Mei 2026, 12:57 AM WIB Last Updated 2026-05-11T18:55:58Z
Owner Vinlandak, Dimitri Eka Mariana (kiri) saat memperlihatkan dua produk best seller, kue durian dan Bangket Kenari Cimonari Cookies di rumah produksinya. (Ist)


RAKYATSATU.COM, MAKASSAR - Berawal dari keinginan mengisi waktu setelah ikut suami merantau ke Makassar, Dimitri Eka Mariana tak pernah menyangka usaha kecil yang dirintisnya kini mampu menembus hotel hingga ritel modern di Kota Makassar.

Owner Vinlandak—nama yang digunakan setelah pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI)—itu memulai usahanya sejak tahun 2020. Awalnya, usaha tersebut hanya dijalankan secara sederhana dari rumah dengan sistem pre-order melalui media sosial.

“Awalnya saya jujur cuma untuk isi waktu. Saya bukan asli orang sini, saya dari Jawa ikut suami. Belum punya teman sama sekali, jadi buka usaha ini,” ujar Dimitri kepada Rakyatsatu.com beberapa hari lalu.

Namun perlahan, usaha yang dikenal lewat produk Kue Durian Vinlandak itu mulai mendapat tempat di hati pelanggan. Berbeda dari kebanyakan produk serupa, Dimitri menggunakan isi durian asli tanpa campuran kelapa dan tanpa bahan pengawet.

“Biasanya kue durian yang saya temui itu banyak campuran kelapanya dan kurang awet. Jadi saya buat pakai durian asli,” katanya.

Produk tersebut bahkan mampu bertahan hingga dua bulan di suhu ruang karena proses produksi dan pengemasan dilakukan secara steril. Sementara bahan baku durian didatangkan langsung dari Palopo dan disimpan dalam freezer saat musim panen.

Selain kue durian, Vinlandak juga memiliki dua produk best seller lainnya yakni nasi bento karakter anak dan bangket kenari dengan daya tahan hingga tujuh bulan.

Salah satu karyawan Vinlandak melakukan packing kue durian.


“Kalau bento itu karena saya punya anak. Jadi saya pikir bagaimana caranya anak suka makan, akhirnya dibuat karakter seperti Hello Kitty, rabbit, atau mobil,” jelasnya.

Dalam kondisi normal, produksi kue durian mencapai 150 hingga 300 pieces per hari. Namun saat Ramadan atau musim liburan, jumlah produksi bisa melonjak hingga lebih dari 1.000 pieces per hari untuk memenuhi permintaan hotel dan ritel modern.

Usaha Dimitri mulai berkembang pesat setelah bergabung menjadi binaan Rumah BUMN BRI pada awal 2024. Saat itu ia mengaku hampir menyerah menjalankan usahanya karena kelelahan dan minim pengalaman bisnis.

“Sebenarnya waktu itu saya mau berhenti usaha. Teman saya yang ajak masuk inkubator BRI supaya usaha bisa lebih maju,” ujarnya.

Melalui pendampingan tersebut, Dimitri mendapatkan pelatihan manajemen, pemasaran hingga digitalisasi usaha. Bahkan ia yang awalnya takut berbicara di depan umum kini mulai percaya diri mengikuti berbagai pameran dan lomba UMKM.

“Sebelum masuk inkubator BRI saya takut sekali bicara depan orang. Tapi di sana dibantu pengembangan diri juga,” katanya.

Pendampingan selama hampir setengah tahun itu juga membuka peluang pasar yang lebih luas bagi Vinlandak. Jika sebelumnya hanya melayani pesanan online, kini produknya telah masuk di sejumlah ritel dan hotel seperti Swiss-Belhotel, Claro, Aryaduta, Brownies Amanda hingga Heros Bakery.

Tak hanya itu, produk Vinlandak bahkan mulai merambah pasar luar Sulawesi dan direncanakan dikirim hingga Papua.

“Dulu saya cuma open pre order online. Sekarang sudah ada tiga cabang dan masuk hotel juga,” tambahnya.

Meski belum menggunakan fasilitas pembiayaan dari BRI, Dimitri mengaku terbantu dengan pendampingan usaha dan membuka kemungkinan memanfaatkan modal usaha di masa mendatang untuk memperluas jangkauan bisnisnya.

“Kalau pembiayaan sementara belum pakai dulu. Tapi Insya Allah kalau mau berkembang lebih besar lagi pasti butuh tambahan modal,” ujarnya.

Selain mengembangkan usaha, Vinlandak juga ikut memberdayakan warga sekitar. Saat pesanan membludak, Dimitri melibatkan ibu-ibu tetangga untuk membantu produksi nasi bento dan katering.

“Kalau ramai bisa panggil empat orang tetangga bantu produksi,” katanya.

Dalam operasional usaha, Dimitri juga mulai memanfaatkan layanan digital seperti QRIS BRI untuk mempermudah transaksi pelanggan. Menurutnya, sebagian besar konsumen kini lebih memilih pembayaran non tunai.

“Sekarang mayoritas pembeli minta QRIS karena lebih praktis dan tidak kena biaya admin transfer,” jelasnya.

Saat ini omzet usaha Vinlandak berkisar puluhan juta per bulan dalam kondisi normal. Namun saat momen ramai atau event tertentu, omzetnya bisa lebih tinggi lagi.

Untuk pesanan skala besar biasanya datang dari kantor, hotel hingga event tertentu yang melakukan pemesanan melalui WhatsApp Business miliknya.

“Kalau event besar biasanya mereka pesan H-2,” tutupnya. 

Sementara Leader Project Rumah BUMN BRI Makassar, Ayu Anisela mengatakan setiap UMKM di Sulawesi Selatan yang terdaftar sebagai binaan BRI akan masuk dalam BRIncubator.

Adapun BRIncubator adalah program pelatihan dan pendampingan bagi UMKM kategori food & beverage, fashion & beauty, home décor & craft. Mereka telah melewati proses kurasi yang selanjutnya mendapat peningkatan kapasitas dan kapabilitas.

Program BRIncubator ini digelar setiap empat bulan. Pendaftaran bisa dilihat melalui media sosial Instagram Rumah BUMN Makassar @rumahbumn_makassar.

“Jadi ada BRIncubator lokal dan nasional. Untuk lokal, kita siapkan 25 UMKM yang ditentukan BRI pusat,” katanya. (Amin Rais)
Komentar

Tampilkan

  • Dulu Cuma Isi Waktu, Kini Kue Durian Vinlandak Masuk Hotel dan Ritel Modern
  • 0

Terkini

Iklan