Iklan

Iklan

Dari Kaleng ke Mesin : Jejak Endri Rosihin Mengangkat Kopi Mattabulu (Bagian I)

06 Mei 2026, 6:31 PM WIB Last Updated 2026-05-06T15:29:39Z

Perjalanan Kopi Mattabulu dari kebun hingga menjadi produk siap konsumsi/ Foto : Ichsan Machmud

RAKYATSATU.COM, SOPPENG -
Di ketinggian Desa Mattabulu, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, aroma kopi pernah lahir dari cara sederhana. Endri Rosihin, lelaki kelahiran Brebes, 19 April 1982, masih mengingat masa ketika biji kopi disangrai dengan kaleng rakitan. Hasilnya tak selalu rata. Kadang gosong, kadang mentah.


Endri bukan petani biasa. Ia kini dikenal sebagai Ketua Kelompok Tani Kopi Mattabulu. Ia memahami bahwa kualitas kopi tak bisa bergantung pada cara seadanya. Sejak 2018, ia mulai mengenalkan Kopi Mattabulu ke luar desa, pelan tapi pasti.


Saat itu, perawatan tanaman kopi belum maksimal. Banyak kebun dibiarkan tumbuh apa adanya. Produksi ada, tapi kualitas belum stabil. Endri melihat celah dan sekaligus tantangan.


Perjalanan awal itu tidak mudah. Dengan alat terbatas, Endri hanya mengandalkan roasting buatan dari kaleng, kemudian beralih ke roasting manual. Prosesnya lebih baik dibanding kaleng, tetapi tetap membutuhkan ketelitian tinggi.


Perubahan mulai terasa ketika kelompoknya tersentuh program Desa BRIlian dari Bank BRI. Awalnya, mereka hanya ikut sebagai peserta. Pada kesempatan pertama, nama mereka bahkan tak masuk nominasi. 


Namun kegagalan itu tak menghentikan langkah. Pada tahun 2022, Desa Mattabulu kembali ikut. Kali ini hasilnya berbeda. Mereka keluar sebagai juara.


Dari sana, bantuan mulai berdatangan. Mesin roasting diberikan setelah kelompok mengajukan proposal. Bibit kopi disalurkan melalui program penanaman. Hingga mendapatkan pelatihan.


Bolang sapaan akrab Endri menyebut pelatihan itu sebagai titik balik. Setiap bulan, anggota kelompok mendapat pembinaan dalam klaster kopi. Mereka belajar dari hulu ke hilir dari budidaya hingga pengolahan.


Peningkatan kualitas Kopi, bagi Endri, hadirnya mesin roasting menjadi perubahan paling nyata. Dari hasil yang sebelumnya tak merata, kini kopi bisa diproses dengan kualitas yang lebih stabil.


“Kami dulu pakai kaleng dan roasting manual. Sekarang sudah pakai mesin. Hasilnya tentu jauh berbeda,” katanya.


Kopi Mattabulu mulai dibawa ke berbagai ajang. Pada 2019, mereka tampil di Heritage Coffee Festival. Pada 2022, mereka kembali hadir di Festival Pesona Kopi Agroforestry, di tahun yang sama juga Kopi Mattabulu tampil di Festival Pesona Kopi Agroforestri.


Pameran itu mempertemukan mereka dengan pasar yang lebih luas. Nama Mattabulu mulai dikenal, meski promosi internal masih terbatas.


Di tingkat petani, perubahan mulai terasa. Mereka yang sebelumnya kurang memperhatikan tanaman kini mulai merawat kebun dengan lebih serius.


“Sekarang kami sudah lihat hasilnya. Kalau dirawat, kopinya bagus, dan bernilai ekonomis yang tinggi,” ujar salah satu seorang petani, Suhardiman.


Perubahan cara pandang ini menjadi fondasi penting. Bagi Endri, kualitas kopi dimulai dari kebun, bukan hanya di mesin roasting. [Ichsan Machmud]

Komentar

Tampilkan

  • Dari Kaleng ke Mesin : Jejak Endri Rosihin Mengangkat Kopi Mattabulu (Bagian I)
  • 0

Terkini

Iklan