Iklan

Iklan

Labkesmas Makassar Ungkap Ancaman Kontaminasi Air dan Penyakit Pernapasan

01 Mei 2026, 9:54 AM WIB Last Updated 2026-05-01T01:54:38Z

Kegiatan Diseminasi Hasil Surveilans Berbasis Laboratorium Triwulan I Tahun 2026 yang digelar secara daring




RAKYATSATU.COM, MAKASSAR - Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Makassar menyoroti pentingnya pengawasan kualitas air minum dan penguatan surveilans penyakit pernapasan dalam menghadapi perubahan musim pada 2026.


Hal itu mengemuka dalam kegiatan Diseminasi Hasil Surveilans Berbasis Laboratorium Triwulan I Tahun 2026 yang digelar secara daring, Kamis, 30 April 2026. Kegiatan tersebut mengusung tema “Data Akurat, Rekomendasi Tepat, Respon Cepat”.


Pertemuan itu diikuti berbagai instansi kesehatan dari Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, hingga Sulawesi Tengah. Sejumlah dinas kesehatan kabupaten dan kota, rumah sakit, puskesmas, serta perwakilan laboratorium kesehatan masyarakat turut hadir dalam agenda tersebut.


Kepala Balai Labkesmas Makassar, Rustam, mengatakan pemeriksaan kualitas air minum menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan.


“Manfaat utamanya adalah mencegah penyakit berbasis air seperti diare dan tipus, serta memberikan data untuk tindakan preventif jika ditemukan risiko pencemaran lingkungan,” kata Rustam.


Menurut dia, pengawasan kualitas air perlu dilakukan secara rutin, terutama menjelang musim kemarau. Pemeriksaan mencakup parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi untuk memastikan air layak dikonsumsi masyarakat.


Selain kualitas air, Balai Labkesmas Makassar juga menyoroti penguatan surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI). Rustam menyebut surveilans tersebut penting untuk mendeteksi potensi wabah penyakit pernapasan secara dini.


“Data yang kita hasilkan dari kegiatan ini menjadi dasar rekomendasi kebijakan agar kita siap menghadapi ancaman pandemi di masa depan,” ujarnya.


Epidemiolog Kesehatan Ahli Madya Balai Labkesmas Makassar, Nuralim Ahzan, menjelaskan data yang dipaparkan berasal dari sampel pemeriksaan berdasarkan permintaan pelanggan, baik yang dikirim langsung maupun diambil petugas laboratorium.


Karena itu, kata dia, data tersebut belum bisa menggambarkan kondisi kualitas air secara menyeluruh di seluruh wilayah kerja Balai Labkesmas Makassar.


“Data ini berasal dari seluruh sampel yang kami terima berdasarkan permintaan customer,” ujar Nuralim.


Berdasarkan hasil surveilans triwulan pertama 2026, sampel air minum berasal dari berbagai sumber, seperti PDAM, depot air minum, perguruan tinggi, usaha dagang, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).


Wilayah pengirim sampel terbanyak berasal dari Kota Makassar, disusul Bulukumba, Jeneponto, Enrekang, Luwu Utara, dan Luwu Timur. Sampel juga datang dari sejumlah daerah lain seperti Maros, Barru, Wajo, Selayar, hingga Kabupaten Majene di Sulawesi Barat.


Nuralim menyoroti temuan kandungan bakteri E.coli dan total koliform pada sejumlah sampel air minum. Menurut dia, temuan itu menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu penyakit infeksi saluran pencernaan seperti diare.


“Kandungan E.coli dan total coliform pada air minum seharusnya nol,” kata dia.


Ia menilai, di tengah perkembangan teknologi pengolahan air saat ini, air siap konsumsi semestinya sudah bebas dari kontaminasi bakteri berbahaya.


Balai Labkesmas Makassar pun merekomendasikan penguatan pengawasan sarana air minum oleh dinas kesehatan di daerah. Selain itu, masyarakat diminta memastikan air yang dikonsumsi telah melalui proses desinfeksi atau direbus hingga mendidih.


“Kita harus menjaga kebersihan wadah penyimpanan air minum dan memilih sumber air yang memenuhi syarat kesehatan,” ujar Nuralim.


Dalam forum itu, Balai Labkesmas Makassar juga memaparkan hasil pemeriksaan surveilans ILI dan SARI sepanjang 2025. Ketua Tim Kerja Surveilans Penyakit dan KLB, Yulce Rakkang, mengatakan empat wilayah sentinel rutin mengirimkan sampel pemeriksaan influenza dan SARS-CoV.


Puskesmas Poasia di Sulawesi Tenggara tercatat menjadi pengirim sampel terbanyak dengan 110 sampel dan 57 hasil positif. Sementara Puskesmas Birobuli di Sulawesi Tengah mengirim 78 sampel dengan 30 temuan positif, serta RSUD Undata sebanyak 43 sampel dengan 11 hasil positif.


Menurut Yulce, Balai Labkesmas Makassar saat ini menjadi laboratorium rujukan pemeriksaan ILI dan SARI untuk wilayah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.


“Penguatan deteksi melalui surveilans ini sangat krusial untuk memberikan peringatan dini serta melindungi kelompok rentan,” kata Yulce.


Ia menjelaskan surveilans tersebut bertujuan memantau sirkulasi virus influenza dan SARS-CoV sebagai bagian dari sistem kewaspadaan dini terhadap ancaman penyakit pernapasan. (Ikhlas/Azhar)

Komentar

Tampilkan

  • Labkesmas Makassar Ungkap Ancaman Kontaminasi Air dan Penyakit Pernapasan
  • 0

Terkini

Iklan