Iklan

Iklan

Berawal dari Sambal Bakmi Rumahan, Lombok Kuning Simpati Kini Tembus Jepang dan Selandia Baru

05 Mei 2026, 10:00 PM WIB Last Updated 2026-05-11T18:35:11Z
(Ki-ka) Owner Lombok Kuning Simpati, Melyana Khohari dan Ridwan Wahyudi Candra. (Ist)


RAKYATSATU.COM, MAKASSAR - Berawal dari sambal pelengkap bakmi rumahan pada tahun 1998, usaha Lombok Kuning Simpati milik pasangan suami istri Ridwan Wahyudi Candra dan Melyana Khohari kini berkembang menjadi salah satu UMKM asal Makassar yang berhasil menembus ritel modern hingga pasar ekspor.

Dari rumah tinggal sekaligus rumah produksi mereka di Jalan Sulawesi Nomor 204 Kota Makassar, usaha tersebut kini mencatat omzet rata-rata sekitar ratusan juta per bulan dengan tenaga kerja mencapai 10 orang.

“Awalnya itu sambalnya hanya dipakai untuk jualan bakmi keluarga. Tapi lama-lama pelanggan datang beli sambalnya saja,” ujar Ridwan kepada Rakyatsatu.com beberapa hari lalu.

Melihat peluang tersebut, Ridwan kemudian mulai menawarkan produknya ke toko oleh-oleh dengan sistem titip jual. Meski awalnya sempat diragukan karena merupakan produk baru, respons pasar ternyata cukup positif.

“Saya bilang kalau tidak laku bisa diretur saja. Ternyata ada respons bagus dari toko,” katanya.

Kepercayaan diri itu membuat Ridwan mulai memperluas pemasaran ke ritel modern sejak tahun 2017. Produk Lombok Kuning Simpati kini telah masuk di jaringan ritel seperti Alfamart dan Alfamidi di Sulawesi Selatan, bahkan mulai merambah Palopo, Kendari hingga Papua. Sementara kerja sama dengan Indomaret masih dalam proses.

Salah satu karyawan Lombok Kuning Simpati.


“Kita juga sudah masuk supermarket Diamond di Jakarta,” ujarnya.

Tak hanya pasar domestik, produk sambal khas Makassar tersebut juga berhasil menembus pasar luar negeri seperti Selandia Baru dan Jepang.

“Kalau Selandia Baru sudah masuk di toko-toko Asia yang ada di sana. Untuk Jepang masih orang-orang lokal Indonesia yang ada di Jepang,” terangnya.

Khusus pasar Selandia Baru, pengiriman dilakukan rutin setiap dua hingga tiga bulan sekali dengan jumlah sekitar 120 hingga 180 pieces per pengiriman.

Menurutnya, salah satu kekuatan produk mereka adalah penggunaan 100 persen cabai lokal tanpa campuran bahan lain seperti wortel ataupun singkong.

“Kalau kami memang full cabai lokal. Tidak ada campuran lain,” jelasnya.

Bahan baku cabai diperoleh dari pengepul di Kabupaten Jeneponto, Takalar hingga Enrekang. Dalam sehari, usaha tersebut mampu mengolah sekitar 150 kilogram cabai menjadi 1.800 kemasan sambal ukuran 140 ml.

“Yang paling laris memang ukuran 140 ml. Itu juga yang paling banyak diekspor,” ujarnya.

Produk Lombok Kuning Simpati.


Untuk menjaga kualitas, seluruh cabai yang datang langsung diproses pada hari yang sama tanpa disimpan semalaman. Proses produksi dilakukan melalui beberapa tahapan mulai pencucian, perebusan, penggilingan kasar dan halus, hingga pengendapan sebelum akhirnya masuk tahap pengemasan.

“Kalau masih panas langsung dikemas bisa meletus, jadi harus didiamkan dulu sekitar dua sampai tiga hari,” jelas Ridwan.

Perjalanan usaha pasangan ini juga tak lepas dari pendampingan BRI sejak menjadi binaan pada tahun 2018. Melyana mengaku berbagai pelatihan mulai dari pemasaran, digital marketing, pengelolaan keuangan hingga pengembangan kemasan produk sangat membantu perkembangan usaha mereka.

“Dulu kemasan kami belum bagus, logo juga masih sederhana. Awal-awal pergantian kemasan itu dibantu BRI,” ujarnya.

Menurut Melyana, pelatihan digital marketing yang diperoleh justru menjadi penyelamat usaha saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika banyak usaha mengalami penurunan, penjualan Lombok Kuning Simpati justru meningkat signifikan.

“Karena kami sudah belajar digital marketing dari BRI, penjualan malah naik waktu pandemi. Produk makin dikenal dan supermarket mulai menerima,” tuturnya.

Selain pelatihan, pasangan ini juga pernah memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI saat pandemi untuk memperkuat modal usaha.

“KUR-nya waktu pandemi sekitar Rp200 juta sampai Rp250 juta. Karena prosesnya mudah dan cicilannya ringan,” kata Melyana.

Meski usaha terus berkembang, ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah fluktuasi harga bahan baku serta kenaikan biaya logistik.

“Kalau dulu satu kontainer ongkos ekspedisinya sekitar Rp100 juta, sekarang bisa sampai Rp140 juta,” ujarnya.

Namun demikian, pasangan suami istri tersebut tetap optimistis Lombok Kuning Simpati mampu terus bersaing di pasar nasional hingga internasional dengan mempertahankan kualitas dan cita rasa khas lombok kuning Makassar yang telah dirintis keluarganya hampir tiga dekade lalu.

Koordinator Rumah BUMN BRI Makassar Muhammad Asliddin mengatakan produk sambal khas Makassar dinilai memiliki prospek cerah untuk menembus pasar global yang lebih luas. Apalagi Lombok Kuning Simpati telah berhasil menembus Selandia Baru dan Jepang. Keberhasilan ekspansi ini tidak lepas dari profesionalisme manajemen usaha yang terus meningkat. 

Menurut Asliddin, UMKM ini menunjukkan progres signifikan dengan memenuhi segala kualifikasi pelatihan yang diselenggarakan oleh BRI melalui Rumah BUMN. Dia menjelaskan, BRI melalui Rumah BUMN terus menjalankan strategi mendorong UMKM naik kelas. 

Salah satunya melalui pelatihan 7 hari sebulan dengan materi lokal hingga persiapan ekspor, melibatkan ahli digital dan manajer mikro. Kemudian ada pendampingan langsung (visit) untuk pembuatan konten iklan Instagram guna memperluas jangkauan pasar, hingga digitalisasi pembayaran wajib melalui rekening BRI dan penggunaan QRIS. 

"Untuk memperkuat struktur modal, BRI juga memfasilitasi Kredit Usaha Rakyat (KUR) tanpa agunan dengan plafon Rp500.000 hingga Rp100 juta. Ini dimaksud untuk membantu para UMKM potensial agar cepat naik kelas," tuturnya. (Amin Rais)
Komentar

Tampilkan

  • Berawal dari Sambal Bakmi Rumahan, Lombok Kuning Simpati Kini Tembus Jepang dan Selandia Baru
  • 0

Terkini

Iklan