Berada di wilayah pesisir, bukan berarti Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, tak bisa membuat terobosan untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakat setempat. Setiap tahun, desa ini membagikan 5 persen dari pendapatan bersih pengelolaan sejumlah unit usaha kepada masyarakat setempat.
Desa Borimasunggu merupakan salah satu dari ratusan Desa BRILian di bawah pendampingan BRI Kabupaten Maros. Pada 2023 lalu, desa berjarak 8 km bagian barat kota Maros ini sempat masuk nominasi 20 besar sebagai desa BRILian yang diadakan Bank BRI.
Penduduknya rata-rata menggantungkan hidup dari hasil pertanian dan pertambakan. Sebagian besar dikelola secara konvensional oleh masyarakat setempat, sehingga penghasilan warga tak menentu setiap tahun.
Belakangan, Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) di Borimasunggu mencoba memberikan penawaran kerja sama. Berinovasi dengan menciptakan lahan yang tak produktif menjadi destinasi yang bisa menghasilkan pendapatan untuk Desa Borimasunggu, di antaranya destinasi wisata pemancingan. Selain wisata pemancingan, Bumdes juga mengelola unit simpan pinjam, peternakan kambing, pengelolaan rumput laut, usaha penjualan air minum, penyewaan pick-up, dan pertamini.
Dari tujuh unit usaha yang dikelola Bumdes ini, destinasi wisata pemancingan bisa memberikan sumbangsih terbesar terhadap PAD Desa Borimasunggu. Lokasinya berjarak sekitar 1 km dari kantor desa. Lahan empang milik warga yang sebelumnya “tidur” bisa kembali menghasilkan cuan.
“Bumdes mencoba membangun gazebo di sekeliling empang, dan pemilik lahan hanya menyiapkan ikan di empang miliknya,” ujar Ketua Bumdes Karya Mandiri, Nuraedah.
Awalnya Bumdes memfasilitasi dua gazebo, kini sudah disiapkan enam gazebo di lahan 1 hektare milik masyarakat setempat itu. Gazebo itu disewakan kepada pengunjung dengan tarif mulai Rp80 ribu hingga Rp120 ribu tergantung ukurannya. “Hasil pancingan dari empang itu murni milik warga, sedangkan hasil sewa gazebo milik Bumdes sebagai pendapatan asli desa,” paparnya.
Kepala Desa Borimasunggu, Syamsul Rijal menyebut warga dan Bumdes membuat kesepakatan. Setiap hasil pancingan ikan itu diberi tarif tergantung jenis ikan dan beratnya. Lain lagi jika pengunjung meminta untuk membakar hasil pancingan juga dikenakan tarif karena pengelola menyiapkan fasilitas untuk itu. “Setiap pekan pengunjung bisa mencapai 50 orang, baik lokal maupun dari kota Makassar dan Pangkep,” tambah Kades Syamsul Rijal.
Selain destinasi wisata pemancingan yang menjadi andalan pendapatan desa, Syamsu Rijal juga mengaku punya unit simpan pinjam yang dikelola Bumdes. Unit ini memudahkan warga untuk membantu tambahan permodalan. Tapi, limitnya hanya Rp1 juta hingga Rp5 juta. “Jika lebih dari itu, Bumdes memfasilitasi ke BRI untuk mendapatkan bantuan modal melalui KUR atau pinjaman lainnya,” jelasnya.
Semua pinjaman baik melalui unit simpan pinjam milik Bumdes maupun lewat BRI, warga tak perlu repot ke kota Maros. BRI sudah memfasilitasi Bumdes dengan Agen BRILink maupun digital menggunakan aplikasi BRImo. “Kami juga kerja sama dengan BRI dengan memudahkan warga untuk bertransaksi digital di desa,” ujarnya.
Unit lainnya juga inovasi dari desa ini adalah peternakan kambing, penjualan air bersih pada musim kemarau, juga pertamini yang tak jauh dari kantor desa setempat. Hasil kerja sama Bumdes dengan milik warga inilah yang bisa memberikan sumbangsih pendapatan.
“Semua yang dikelola Bumdes menggunakan dana desa, tetapi hasilnya menjadi pendapatan asli desa. Dari hasil ini pula kami bisa memberikan manfaat kepada warga yang kurang mampu dengan membagikan paket sembako setiap tahun menjelang Lebaran atau jika ada yang terkena musibah,” tambah pria kelahiran Borikamase 21 Juli 1975 ini.
Salah seorang pemilik lahan empang, Abdul Azis, mengaku berterima kasih kepada Bumdes yang telah memberikan manfaat untuk menambah pendapatan keluarganya. “Sebelum menjadi tempat wisata, empang ini hanya bisa menghasilkan atau panen sekali setahun. Itu pun kalau tidak ada penyakit yang menyerang ikan di tempat ini,” paparnya.
Meski hasilnya tidak begitu banyak, tapi dia mengaku cukup untuk bisa menambah penghasilan keluarga sekaligus bisa menutupi pembayaran Pendidikan untuk putra-putrinya. “Terima kasih Bumdes, Terima kasih Pak Kades, dan juga kepada BRI yang bisa memberikan kontribusi kepada warga di sini,” katanya.
Pimpinan Cabang BRI Maros, Hendra Zaputra mengaku terus melakukan pendampingan edukasi literasi keuangan dan produk perbankan, baik dari simpanan maupun pinjaman dalam menggarap potensi komoditas rumput laut dan tambak ikan yang menjadi unggulan Desa Borimasunggu.
“Petugas kami terus memberikan pendampingan dan edukasi produk simpanan kepada masyarakat dengan mengajak untuk menabung, menyisihkan hasil usaha mereka sehingga dapat bermanfaat untuk kebutuhan pada masa mendatang,” ujar Hendra.
Menurutnya, edukasi yang diberikan BRI terkait produk pinjaman dan sosialisasi terkait persyaratan pengajuan pinjaman baik dari segmen ultra mikro, mikro, juga bagaimana membangun ekosistem perekonomian desa secara optimal. “Mantri kami juga secara berkala melakukan kunjungan kepada nasabah potensial dan existing untuk terus mendampingi nasabah,” paparnya.
Ke depan, lanjut dia, BRI Maros selalu siap dan terus berkomitmen untuk dapat meningkatkan nilai dan manfaat dari Desa BRILian Borimasunggu. Pihaknya juga tengah mempersiapkan beberapa potensi desa BRILian binaan Maros untuk dapat bersaing di tingkat nasional, sehingga bias terus tumbuh Desa BRILian baru yang tangguh dan profesional. (Amin Rais)
