![]() |
| Agen BRILink garda terdepan memberikan edukasi masyarakat untuk mencegah penipuan digital. |
RAKYATSATU.COM, PANGKEP - Di tengah padatnya aktivitas transaksi harian di jaringan Agen BRILink, muncul peran lain yang semakin krusial: edukasi keuangan bagi masyarakat. Tidak hanya melayani transaksi perbankan, para agen kini juga menjadi ujung tombak dalam memberikan pemahaman terkait maraknya modus penipuan finansial yang menyasar warga, terutama di wilayah pedesaan.
Di Agen BRILink Adi Cell, misalnya, pemiliknya Suriadi Nasaruddin tidak hanya sibuk melayani warga yang datang untuk melakukan transaksi melalui mesin Electronic Data Capture (EDC). Di sela layanan tersebut, ia aktif memberikan edukasi langsung kepada nasabah mengenai berbagai bentuk penipuan yang semakin beragam.
“Banyak masyarakat datang dengan informasi yang belum tentu benar, seperti giveaway palsu atau BRIVA fiktif. Di situ kami langsung jelaskan bahwa itu modus penipuan,” ujar Suriadi.
Menurutnya, edukasi dilakukan secara natural saat transaksi berlangsung, tanpa mengganggu layanan utama. Selain itu, komunikasi juga diperkuat melalui grup WhatsApp antara agen BRILink dan pihak bank, sehingga informasi kewaspadaan dapat disebarkan lebih cepat, terutama di wilayah dengan keterbatasan akses internet.
Salah satu modus yang kerap ditemui adalah penipuan berkedok hadiah undian dari figur publik, yang meminta korban mentransfer sejumlah uang ke nomor BRIVA. Padahal, layanan BRIVA merupakan sistem pembayaran resmi milik Bank Rakyat Indonesia yang tidak digunakan untuk pengiriman hadiah atau pencairan dana pribadi.
“Paling banyak saya gagalkan dengan modus giveaway undian figur publik. Calon korban datang ke kami memperlihatkan giveaway dari artis ini dengan menyebut nomor BRIVA bahwa mereka sedang menerima sejumlah uang mulai Rp5 juta hingga Rp10 juta. Padahal, kalau saya enter di mesin EDC milik saya, maka saldo saya akan berkurang,” ujar Suriadi.
Fenomena serupa juga ditemukan di titik-titik layanan BRILink lain di jalur poros Makassar–Parepare. Salah satunya disampaikan Fadil, petugas Agen BRILink Takdir Cell yang mengaku kerap mendapati berbagai modus penipuan, mulai dari uang palsu hingga transfer fiktif.
“Paling sering saya dapatkan dengan transaksi tunai. Pelaku datang ke toko dengan meminta melakukan transfer sejumlah uang ke rekening yang diberikan. Biasanya mereka menyerahkan uang tunai yang sebagian dicampur dengan uang palsu. Kalau tidak teliti memeriksa uang itu, pasti saya merugi,” ujarnya.
Pimpinan Cabang BRI Pangkep, Ridho Yamina Putra menegaskan bahwa Agen BRILink memiliki peran strategis sebagai perpanjangan layanan sekaligus garda terdepan literasi keuangan masyarakat.
“Agen BRILink itu dekat dengan masyarakat. Karena itu mereka juga kami dorong untuk aktif memberikan edukasi, terutama soal modus penipuan yang terus berkembang,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan edukatif menjadi bagian penting dalam memperkuat inklusi keuangan di daerah dengan keterbatasan akses. Dengan kondisi geografis dan infrastruktur yang menantang, masyarakat desa sangat bergantung pada agen BRILink, tidak hanya untuk transaksi, tetapi juga untuk memperoleh pemahaman dasar mengenai layanan keuangan modern.
Di tengah keterbatasan tersebut, edukasi sederhana yang disampaikan saat transaksi berlangsung menjadi benteng awal bagi masyarakat agar tidak mudah tergiur iming-iming keuntungan instan dari praktik penipuan digital.
“Harapannya, masyarakat tidak hanya bisa mengakses layanan keuangan, tapi juga paham risiko dan cara menghindari penipuan,” tutup dia. (Amin Rais)
