Bantuan disalurkan kepada masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah.
RAKYATSATU.COM, BANDA ACEH — Menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, pemerintah pusat menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Aceh yang terdampak bencana. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Ahmad Muzani, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Muhammad Tito Karnavian, dan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar menyerahkan bantuan kepada korban bencana di delapan kabupaten di Provinsi Aceh, Selasa (10/2/2026).
Bantuan disalurkan kepada masyarakat di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya, Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah—wilayah yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami dampak bencana dengan skala kemanusiaan yang luas.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua MPR RI dan Mendagri RI hadir didampingi pimpinan dan anggota MPR RI, antara lain Bambang Wuryanto, Lestari Moerdijat, Hidayat Nur Wahid, Eddy Soeparno, Edhie Baskoro Yudhoyono, dan A. M. Akbar Supratman. Turut hadir pula anggota lintas fraksi dan kelompok DPD, yakni Sonny Tri Danaparamita, H. Ferdiansyah, Robert Rouw, Hj. Chusnunia, H. Anton Sukartono Suratto, dan Dedi Iskandar Batubara.
Rombongan juga didampingi jajaran kesekretariatan MPR RI, di antaranya Abraham Liyanto, Siti Fauziah, Heri Herawan, Agus Subagyo, Erman Safar, Reza Ikhwan, M. Saifuddin, serta Staf Khusus BPOM RI Wachyudin Muchsin.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan bahwa menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, Aceh menghadapi tiga tekanan utama sekaligus. Pertama, tekanan sosial dan kemanusiaan akibat masih banyaknya warga yang tinggal di pengungsian karena hunian sementara belum sepenuhnya tersedia dan Dana Tunggu Hunian belum seluruhnya tersalurkan. Kedua, tekanan ekonomi yang ditandai dengan menurunnya daya beli masyarakat akibat kerusakan sawah, kebun, dan tambak, di tengah meningkatnya harga kebutuhan pokok. Ketiga, risiko bencana susulan mengingat kondisi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di awal tahun.
Ahmad Muzani juga menyoroti kearifan lokal Aceh dalam menyambut Ramadhan melalui tradisi Meugang atau Makmeugang. Tradisi membeli, memasak, dan menyantap daging bersama keluarga menjelang puasa itu, menurutnya, perlu tetap dirasakan masyarakat terdampak bencana sebagai penguat silaturahmi dan wujud syukur. “Negara hadir agar masyarakat Aceh tetap dapat menyambut Ramadhan dengan hati yang lapang,” ujarnya.
Sebagai bentuk kepedulian tersebut, pemerintah menyalurkan sebanyak 15.000 paket bantuan berupa paket sembako dan paket ibadah yang akan didistribusikan ke delapan kabupaten, guna membantu memenuhi kebutuhan dasar dan mendukung kesiapan spiritual masyarakat menjelang Ramadhan.
Mendagri Tito Karnavian, selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra, menegaskan bahwa pemerintah pusat terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah agar penanganan darurat, pemulihan sosial, dan proses rekonstruksi berjalan cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran.
Sementara itu, Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyatakan bahwa BPOM mengintensifkan pendampingan dan pengawasan untuk memastikan pangan, minuman, serta obat-obatan yang digunakan masyarakat tetap aman dan bermutu. Pengawasan dilakukan mulai dari dapur umum, pos pengungsian, fasilitas kesehatan, hingga layanan kefarmasian darurat, guna menjamin ketenangan masyarakat dalam menjalankan ibadah Ramadhan.
Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat. Ia mengungkapkan bahwa dampak bencana di Aceh menyentuh sekitar 2,58 juta jiwa, dengan sekitar 85.854 orang mengungsi, 562 orang meninggal dunia, dan 29 orang masih dinyatakan hilang. Kerusakan rumah tercatat mencapai 227.209 unit, sementara kebutuhan hunian sementara masih memerlukan percepatan.
Adapun Dana Tunggu Hunian tercatat bagi 10.266 kepala keluarga, dengan sebagian masih dalam proses penyaluran.
Penyerahan bantuan ini menegaskan kehadiran negara secara utuh—legislatif, eksekutif, dan lembaga teknis—di tengah duka masyarakat Aceh. Dengan semangat Ramadhan, empati, dan gotong royong, pemerintah berharap masyarakat Aceh dapat menjalani ibadah dengan lebih tenang sembari bangkit menuju pemulihan yang adil, aman, dan bermartabat.(Ikhlas/ Amd)