Iklan

06/07/20, 11:27 WIB
DaerahEKOBISNasionalRagam

Melalui Program Langit Biru, Pertamina Dorong Masyarakat Konsumsi BBM Oktan Tinggi


RAKYATSATU.COM, JAKARTA - PT. Pertamina meluncurkan Program Langit Biru untuk mendukung dan menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih melalui penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang lebih ramah lingkungan. Bali merupakan salah satu daerah yang turut serta dalam mendukung program tersebut. 

Pertamina kini bersinergi bersama pemerintah daerah Denpasar. Region Manager Retail Sales V Pertamina, I Ketut Arya Kumara, mengatakan, “Program Langit Biru” memiliki beberapa point, antara lain mengajak warga menggunakan BBM Ramah Lingkungan (Pertaseries) dengan memberikan harga diskon untuk Pertalite. Harga khusus tersebut diberikan kepada para pengguna kendaraan bermotor roda dua, roda tiga, angkot plat kuning dan taksi plat kuning.

Yang menarik, dalam pembayaran BBM tersebut para konsumen bisa menggunakan alat bayar Non Tunai, serta Bantuan Bibit Tanaman sebagai upaya mengembangkan budaya menanam untuk kebutuhan pangan sehari hari.

“Dengan program ini kami berharap dapat mengurangi polusi udara dan mengurangi biaya hidup sehari-hari dengan kegiatan menanam tentunya dalam menjalani pandemi Covid-19 ini untuk mengurangi beban masyarakat” ujar Arya Kumara, dalam Siaran Pers, Senin (6/7/2020).

Sekretaris Daerah Kota Denpasar, AAN. Rai Iswara, mengatakan,  “Program Langit Biru” yang dilaksanakan Pertamina sangat bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan, juga meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat dengan mengurangi polusi udara serta mengurangi biaya hidup sehari-hari.

Dalam Program Langit Biru ini Pertamina MOR V Jatimbalinus memberikan harga khusus Pertalite setara harga Premium untuk konsumen di Denpasar. Sehingga harga BBM Petralite dengan RON 90 itu turun menjadi Rp.6.450,- per liter. Harga khusus tersebut diberikan kepada para pengguna kendaraan bermotor roda dua, roda tiga, angkot plat kuning dan taksi plat kuning. Program ini berlaku di 50 SPBU mulai tanggal 5 Juli 2020 sampai dengan 31 Agustus 2020. Konsumen dapat menggunakan cashless payment untuk kemudahan bertransaksi dengan cepat dan efisien.  

Volume konsumsi BBM Perta-Series (Pertalite, Pertamax dan Pertamax Turbo) di Provinsi Bali per Juni 2020 sudah mencapai 72% dari total konsumsi BBM Gasoline. Selain itu, total konsumsi Perta-Series di Bali pada bulan Juni 2020 juga meningkat 18% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Unit Manager Communication Relation & CSR Pertamina MOR V, Rustam Aji, mengatakan, dengan adanya program ini, diharapkan dapat mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan agar mau beralih ke bahan bakar yang lebih baik, rendah emisi sehingga tercipta pengurangan polusi udara dan lingkungan yang sehat minimal dengan melakukan pembelian produk Pertalite. 

Rustam menambahkan, masyarakat juga dapat memanfaatkan keuntungan loyalty program dengan menggunakan aplikasi MyPertamina melalui promo lainnya yang sedang berlangsung yaitu cashback 30% maksimal Rp.20.000,- per hari untuk pelanggan setia Pertamina yang melakukan pembelian Pertamax, Pertamax Turbo dan Pertamina Dex di seluruh SPBU Pertamina dengan transaksi non tunai menggunakan LinkAja dari aplikasi MyPertamina.

Program ini juga disiapkan sejalan dengan Denpasar Smart City, yang mengedepankan budaya ramah lingkungan dalam lingkup kewilayahannya. Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati menyambut positif Program Langit Biru di Denpasar, Bali, karena selaras dengan gagasan Pemprov, Bali Era Baru, dengan mendorong animo masyarakat untuk Work From Bali. 

“Mengajak masyarakat yang tidak hanya wisatawan untuk bekerja sambil berlibur dari Bali, dengan suasana yang ramah lingkungan, bebas kantong plastik, dan udara bersih rendah emisi,” ujarnya.  

Menurut Ketua Pusat Studi Pembangunan Berkelanjutan Universitas Udayana (Unud), Dr. Ketut Gede Dharma Putra, Bali kini menghadapi ancaman pencemaran lingkungan hidup, salah satunya kualitas udara. Ketut Gede menilai, tingkat pencemaran beberapa kawasan padat lalu lintas di Bali semakin bertambah setiap tahun, seperti Kota Denpasar, Kabupaten Badung, terutama Badung Selatan. Tingkat pencemaran lingkungan yang semakin tinggi ini dikhawatirkan bisa membuat para wisatawan jadi enggan datang ke Bali.

Ketut Gede mengatakan, penyumbang terbesar polusi udara di Bali adalah emisi gas buang kendaraan bermotor yang jumlahnya semakin meningkat setiap tahun. Hal ini dikarenakan semakin bertambahnya kendaraan bermotor yang disebabkan sistem transportasi publik tidak berfungsi dengan baik.

Penggunaan batu bara dan diesel pada pembangkit listrik di Bali juga memberikan kontribusi terhadap perubahan kualitas lingkungan di sekitarnya, seperti pencemaran air, udara, kebisingan dan getaran. “Polutan paling besar dari aktivitas transportasi,” tandasnya.

Untuk diketahui, polusi udara di Provinsi Bali dinilai mulai mengkhawatirkan. Data terbaru dari www.iqair.com per 3 Juli 2020, tercatat ada dua daerah Bali yang masuk dalam daftar 5 besar daerah dengan kualitas udara terburuk di Indonesia, yakni Kota Ubud dan Kabupaten Badung. Bila pencemaran udara di Bali makin tak terkendali, dikhawatirkan akan membuat para wisatawan jadi enggan datang ke Bali. (Rls)