-->

Iklan

Iklan

Catatan Pinggir: Bahtiar Parenrengi "Kuda"

25/07/20, 13:58 WIB Last Updated 2020-07-25T05:58:53Z

RAKYATSATU.COM, BONE
- Tiba-tiba kangen dengan coto kuda. Kepengen menikmatinya dengan lahap dibarengi nasi putih panas pula. 



Lombok tumis tentu tak ketinggalan. Takarannya pun tak banyak, karena saya bukan menikmat lombok yang takarannya melebihi dosis. 



Sudah hampir setahun tak menikmatinya. Ada rasa ngiler. Pun ada rasa kangen untuk menikmatinya bersama para sahabat. 



Karena konon, makan bersama banyak manfaatnya. Diantaranya, menumbuhkan silaturrahmi. Memperlancar komunikasi dan meningkatkan selera makan. 



               ***


Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu dari sepuluh spesies modern mamalia dari genusEquus. 



Hewan ini telah lama menjadi salah satu hewan peliharaan. Dulu, Kuda telah menjadi alat transfortasi yang sangat diandalkan.



Kuda dapat ditunggangi oleh manusia dengan menggunakan sadel. Tak hanya itu,  Kuda juga dapat pula digunakan untuk menarik sesuatu, seperti kendaraan beroda, atau bajak.



Karena Kuda memiliki kekuatan dahsyat, maka tak heran ada alat transfortasi/ mobil memakai merek kuda. 



Bahkan, ada tarian tradisional Jawa bernama Kuda Lumping. Kuda lumping berasal dari Ponorogo ini juga disebut jaran kepang atau jathilan. 



Dalam berbagai literasi disebutkan, Tarian tradisional  Ponorogo ini menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda.Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang. 



Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. 



Tak heran, banyak lagu tercipta dengan judul kuda lumping. Seperti lagu Elvi Sukaesih..... 

Ada suatu permainan
Permainan unik sekali
Orang naik kuda, tapi kuda bohong
Namanya kuda lumping


Anehnya permainan ini
Orangnya bisa lupa diri
Dia makan rumput, juga makan kaca

Aduhai ngeri sekali....



               ***

Puluhan tahun silam, kendaraan bernama dokar dan bendi menjadi pilihan warga dalam transfortasi.



Semasa kecil, saya selalu menikmati perjalanan ke kampung kelahiran bapak. Perjalanan yang sangat menantang, karena jalanan pada saat itu tak beraspal. Jalanan penuh lubang dan cukup berbatu hingga perjalanan sungguh menantang adrenalin. 



Walau agak trauna dengan Kuda, tetap harus merasakan tarikan kekuatannya diatas jalanan. Trauma, karena sempat merasakan tendangan kaki kuda saat secara tidak sengaja berada disampingnya. 



Cerita lain pun datang dari sahabat saya, yang harus merasakan sakit saat terjatuh dari kuda. Tentu banyak carita menarik dan menjadi pengalaman hidup. 



Kuda, menjadi pilihan. Kuat dan berkhasiat. Berkhasiat karena bisa menyembuhkan gatal-gatal, asma, darah tinggi, asam urat, kencing manis, stres, kelelahan, jantung, sampai TBC. Cocok untuk pekerja keras dan dapat dikonsumsi oleh anak-anak. Pasalnya, daging kuda punya kandungan protein tinggi, 133 gram nutrisi dan kalori, potassium, fosfor, dan lain-lain.



Kuat, karena daya tariknya sungguh luar biasa. Mampu menarik dokar atau bendi beberapa jam,  dengan jarak tempuh cukup jauh. 



Saat itu, ketika mobil belum sebanyak sekarang, transfortasi seperti ini sangat digemari warga. Walau melewati jalan jelek, tak ada protes yang berlebihan. 



Beda dengan sekarang. Mungkin kita terlalu manja atau terbiasa dengan aksi protes. Protes boleh asal tak kesurupan kayak kuda lumping. Entahlah.



Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Catatan Pinggir: Bahtiar Parenrengi "Kuda"

Terkini

Iklan