Iklan

Iklan

Kisah Pastel Aliyah: Bertahan dari Dapur Rumah, Tumbuh Lewat Platform Digital

18 Mei 2026, 9:28 PM WIB Last Updated 2026-05-23T13:29:23Z
Penanggung jawab Pastel Aliyah, Muhammad Adzan bersama istri saat ditemui di rumah produksi di Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar. (Ist)


Aroma gurih pastel yang baru terangkat dari penggorengan s lembut di lorong 4, Jalan Abu Bakar Lambogo, Makassar. Dari sebuah rumah sederhana di lorong kawasan itu, Pastel Aliyah tumbuh menjadi bukti bahwa usaha kuliner tidak selalu membutuhkan etalase besar untuk memenangkan pasar.

Dapur rumah tersebut menjelma menjadi pusat produksi yang aktif setiap hari. Di sanalah Pastel Aliyah diracik, diproduksi, dan dipasarkan—mengandalkan kekuatan rasa sekaligus strategi digital yang kian matang.

Produk utamanya sederhana namun memiliki karakter kuat. Pastel berbentuk lingkaran dengan kulit renyah berpadu dengan isian padat kentang, wortel, dan telur yang diperkaya sentuhan krimi—menjadi identitas rasa yang membedakannya dari produk sejenis.

“Yang membuat berbeda adalah isiannya yang krimi dan padat,” ujar Muhammad Adzan, penanggung jawab Pastel Aliyah, beberapa hari lalu.

Dirintis sejak 2019, perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Namun titik balik terjadi saat Adzan mengikuti program BRIncubator yang difasilitasi Rumah BUMN BRI Makassar pada 2023.

Sejak saat itu, pola pemasaran berubah signifikan. Jika sebelumnya hanya mengandalkan relasi personal, kini pesanan mengalir melalui WhatsApp dan platform layanan antar. Media sosial seperti Instagram pun dimaksimalkan sebagai etalase digital, diperkuat dengan kolaborasi bersama influencer.

“Sekarang pelanggan bisa langsung pesan lewat WhatsApp, pilih diantar atau ambil sendiri,” jelasnya.

Transformasi ini tidak hanya memperluas jangkauan pasar, tetapi juga memperkuat citra merek di tengah persaingan kuliner yang semakin dinamis.

Dampaknya mulai terlihat nyata. Dalam kondisi normal, produksi mencapai 70 hingga 100 pastel per hari. Permintaan melonjak tajam pada momentum tertentu seperti Ramadan, arisan, hingga berbagai acara keluarga.

“Kalau Ramadan, kami mulai produksi sejak pagi untuk kebutuhan berbuka,” kata Adzan.

Produk dipasarkan dalam kemasan boks berisi lima dan sepuluh buah, dengan sistem pemesanan yang fleksibel. “Isi 5 itu seharga Rp33 ribu dan isi 10 Rp60 ribu. Adapun harga di layanan pesan antar berbeda mengingat adanya biaya admin,” tambahnya.

Komitmen pengembangan usaha juga tercermin dari konsistensi Adzan mengikuti BRIncubator selama tiga tahun berturut-turut hingga 2025. Berbagai materi pelatihan—mulai dari manajemen keuangan, pengemasan produk, hingga pengelolaan rantai pasok—telah diimplementasikan dalam operasional bisnisnya.

Namun, menurutnya, pemasaran digital menjadi faktor paling berdampak dalam mendorong pertumbuhan usaha.

“Kami benar-benar diajarkan cara menjual hingga bisa menjangkau lebih banyak pelanggan,” ujarnya.

Di balik perkembangan tersebut, peran Rumah BUMN BRI Region 15 Makassar menjadi salah satu penggerak utama. Program inkubasi yang digelar secara berkala memberikan pendampingan yang relevan dengan kebutuhan pelaku usaha.

Program ini terbuka bagi berbagai sektor, dengan persyaratan yang relatif mudah—cukup memiliki usaha atau setidaknya rekening di Bank Rakyat Indonesia sebagai akses awal ke dalam ekosistem pembinaan.

“Bahkan yang belum memiliki usaha pun bisa ikut, nanti kami arahkan sampai siap,” ujar Leader Project Rumah BUMN BRI Region 15 Makassar, Ayu Anisela.

Selain pelatihan, akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga disiapkan untuk mendorong ekspansi usaha.

Antusiasme terhadap program ini terus meningkat. Hingga akhir 2025, lebih dari 6.000 UMKM telah didorong naik kelas melalui pendampingan dan akses pembiayaan tersebut.

Sementara Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto, menegaskan bahwa pendekatan pemberdayaan menjadi kunci dalam memperkuat sektor UMKM, khususnya bagi pelaku usaha yang sebelumnya belum tersentuh layanan perbankan.

“Tidak hanya memberikan kredit, kami juga memastikan mereka mendapatkan pendampingan agar usahanya bisa tumbuh,” jelasnya.

Lebih dari sekadar program, upaya ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem UMKM yang berkelanjutan. Harapannya, pelaku usaha tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga mampu menciptakan dampak ekonomi di lingkungannya.

“Target kami bagaimana ekosistem UMKM ini terbentuk kuat, sehingga kemandirian ekonomi bisa tercapai,” tambah Iwan. (Amin Rais)
Komentar

Tampilkan

  • Kisah Pastel Aliyah: Bertahan dari Dapur Rumah, Tumbuh Lewat Platform Digital
  • 0

Terkini

Iklan