Iklan

Iklan

Dari Dapur Sederhana, Rita Bawa Sarabba Menjadi Peluang Usaha

15 Mei 2026, 9:12 AM WIB Last Updated 2026-05-23T01:34:36Z
Potret karyawan Sukma Jahe saat mengemas produk Sarabba ke dalam sachet.

RAKYATSATU.COM, MAKASSAR - Hangatnya sarabba bukan sekadar rasa, tetapi juga cerita panjang tentang tradisi dan ketahanan. Minuman khas Sulawesi Selatan ini selama puluhan tahun identik dengan gerobak kaki lima—disajikan panas dengan aroma jahe yang tajam, berpadu manisnya gula aren dan gurih santan.


Namun di tangan Rita Suryaningsih (50), sarabba menjelma dalam wajah baru: praktis, higienis, dan siap menjangkau pasar yang lebih luas.


Melalui merek Sukma Jahe, Rita menghadirkan sarabba dalam bentuk serbuk sachet—sebuah inovasi yang menjembatani tradisi dengan gaya hidup modern.


“Sekarang orang mau yang praktis, tapi tetap ingin rasa yang sama,” ujarnya saat ditemui di rumah produksinya di kawasan Rappocini, Makassar beberapa hari lalu.


Di rumah sederhana yang disulap menjadi dapur produksi, proses pembuatan Sukma Jahe berlangsung setiap hari. Bahan baku utama berupa jahe kering didatangkan dari Maros hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), sementara gula aren dan susu nabati diperoleh dari produsen lokal.


Berbeda dari sarabba tradisional yang menggunakan santan segar, Sukma Jahe memilih susu nabati untuk menghasilkan produk yang lebih tahan lama tanpa mengorbankan cita rasa khasnya.


Seluruh bahan kemudian diolah hingga menjadi kristal bubuk sebelum dikemas dalam sachet siap seduh. Proses ini melibatkan beberapa tahapan, dari memasak bahan dalam wajan besar hingga pengemasan yang dilakukan secara teliti oleh tim kecilnya.


Sedikitnya tiga karyawan membantu operasional produksi, masing-masing dengan tugas berbeda—mulai dari memasak, mengisi sachet, hingga mengemas produk ke dalam kotak.


Dalam kondisi normal, Rita mampu memproduksi sekitar 25 ribu sachet dari 100 kilogram jahe kering. Namun saat permintaan melonjak, seperti pada masa pandemi Covid-19, kapasitas produksi bisa meningkat drastis.


“Waktu itu bisa sampai 100 ribu sachet,” kenangnya.


Lonjakan tersebut bukan tanpa alasan. Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap kesehatan, minuman berbahan jahe yang dikenal mampu meningkatkan daya tahan tubuh menjadi pilihan banyak orang.


Perjalanan Sukma Jahe pun tidak berjalan sendiri. Dukungan dari perbankan, khususnya Bank Rakyat Indonesia (BRI), menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan usaha ini.


Melalui program Rumah BUMN dan BRIncubator, Rita mendapatkan berbagai pelatihan yang memperkuat fondasi bisnisnya—mulai dari manajemen keuangan, rantai pasok, hingga pemasaran digital.


“Pelatihannya sangat membantu, terutama soal supply chain,” ujarnya.


Menurut Rita, pemahaman tentang pengelolaan rantai pasok menjadi kunci penting di tengah meningkatnya permintaan. Ia kini lebih cermat dalam menjaga ketersediaan bahan baku dan kemasan, sekaligus mengantisipasi kendala distribusi.


“Dulu kadang terlena, stok kemasan habis padahal pesanan sudah banyak. Sekarang sudah lebih teratur,” jelasnya.


Pendampingan tersebut tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Hingga kini, Rita masih aktif mengikuti kelas-kelas online yang diselenggarakan BRI untuk meningkatkan kapasitas usahanya.


Leader Project Rumah BUMN BRI Region 15 Makassar, Ayu Anisela, menyebutkan bahwa program BRIncubator memang dirancang untuk mendorong UMKM naik kelas.


“Pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Selain itu, kami juga bantu akses pemasaran, baik ke retail maupun melalui pameran,” ujarnya.


Kata dia, program BRIncubator ini digelar setiap empat bulan. Pendaftaran bisa dilihat melalui media sosial Instagram Rumah BUMN Makassar @rumahbumn_makassar.


“Syaratnya cuma punya usaha yang berjalan. Kalau pun belum ada juga bisa, asalkan punya rekening BRI dan QRIS,” kata Ayu.


Hingga Desember 2025, BRI Region 15 Makassar mencatatkan 6.422 UMKM yang telah didorong naik kelas. Semuanya mendapatkan pendampingan di Rumah BUMN dan penerima KUR.


Sementara Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto menegaskan bahwa Rumah BUMN hadir sebagai bagian dari pilar strategi pemberdayaan untuk menjangkau, mengkonversi, dan menaik kelaskan segmen unbankable.


“Pemberdayaan ini penting karena kami tidak hanya memberikan modal berupa kredit (KUR), tetapi juga memberikan pendampingan agar usaha mereka bisa tumbuh,” jelasnya. (Amin Rais)

Komentar

Tampilkan

  • Dari Dapur Sederhana, Rita Bawa Sarabba Menjadi Peluang Usaha
  • 0

Terkini

Iklan