RAKYATSATU.COM, PANGKEP - Awal Mei 2026, sebuah mobil pikap silver terparkir di pekarangan “Toko Alya” di Jalan Bontoa Raya, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep.
Matahari siang yang kian terik tak menyurutkan belasan warga yang duduk bersisian di atas bak pikap itu. Sebagian menunggu giliran, sebagian lagi tengah bertransaksi.
Dengan alas tikar plastik yang mulai lusuh, mereka bertahan. Ada yang membeli token listrik, mencairkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH), hingga membayar cicilan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Suara mesin EDC (Electronic Data Capture) di toko ini dan dering telepon genggam sesekali memecah percakapan sederhana mereka.
Mereka adalah warga Bakka, kampung kecil yang terisolasi di Kelurahan Bontoa. Setiap bulan, rombongan ini menyewa pikap agar bisa sampai ke Agen BRILink Adi Cell, satu-satunya tempat terdekat yang mampu memenuhi hampir semua kebutuhan transaksi mereka.
Kampung Bakka dihuni lebih dari 200 jiwa penduduk. Kendati hanya sekitar lima kilometer dari pusat kelurahan, akses ke sana masih terbilang sulit. Jalan setapak menanjak dan belum terhubung jaringan telekomunikasi. Ia berada di lembah pegunungan tapal batas Kabupaten Bone, daerah tetangga. Penduduk yang akan ke kota kelurahan harus berjalan kaki selama tiga hingga lima jam.
Penulis berusaha menjajal lembah itu sekaligus memantau Agen BRILink yang terdekat dari kampung terisolir ini. Hanya berjarak 1,5 km mengikuti hutan setapak, jaringan ponsel sudah tidak bisa diakses. Di poros jalan sebelum menuruni lembah, sebuah Agen BRILink terdekat bernama “Hirozima” hadir untuk layanan keuangan transaksi warga setempat namun sedang tutup.
Karena itu, masyarakat Bakka yang membutuhkan kebutuhan sehari-hari memilih Adi Cell untuk berbelanja sekaligus bertransaksi segala kebutuhan. “Di sini lebih lengkap, Pak. Apa yang kami butuhkan semua ada, termasuk membayar pinjaman KUR,” ujar Kamaria, warga Bakka yang baru saja selesai membeli token listrik sekaligus membayar pinjaman KUR.
Di kampung Bakka, Kamaria hidup bertani bersama suaminya sekaligus membuka kedai sembako di kolong rumahnya. “Makanya saya mengambil KUR di BRI Rp25 juta untuk modal yang difasilitas Adi Cell. Alhamdulillah lancar,” ujarnya.
Bersama Kamaria, perempuan dari kampung ini, Rahmatia (50) juga mengaku hampir setiap tiga bulan datang ke Adi Cell untuk mencairkan bantuan PKH.
“Sekalian bisa kirim uang belanja ke anak saya yang sedang kuliah di kampus negeri di Makassar. Sebenarnya, anak saya punya aplikasi BRImo untuk pengiriman uang, tapi di kampung tidak ada jaringan ponsel. Beruntung sudah ada aliran listrik sehingga kami tidak lagi menggunakan lampu petromaks,” ungkapnya.
Rahmatia bersyukur bisa mengirim uang kuliah ke anaknya yang lagi studi di Kota Makassar tanpa harus ke kota kecamatan atau kabupaten untuk antre. “Di sini (Adi Cell) cukup datang tanpa antre sekaligus bisa beli voucher listrik dan kebutuhan sehari-hari. Kalau lagi berhalangan ke sini cukup titip di tetangga sesuai kebutuhan, kami masih saling percaya di kampung,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan itu, rombongan warga Bakka tetap menjaga harapan. Bagi mereka, pikap sewaan ini bukan sekadar alat angkut. Ia merupakan jembatan kecil menuju layanan keuangan sebagai warga negara yang belum tersentuh banyak fasilitas umum.
Pemilik Agen BRILink Adi Cell, Suriadi Nasaruddin mengaku sudah dipercaya oleh pelanggan dari kampung sebelah (Bakka) setiap saat untuk bertransaksi di tempatnya. Sejak didirikan pada 10 tahun silam, kepercayaan masyarakat sekitar termasuk dari kampung terisolasi ini tetap setia.
“Selain diakui tarifnya lebih murah setiap transaksi, di toko ini hampir segala kebutuhan dapur bisa dibeli, sehingga mereka hampir setiap bulan secara bergantian datang dengan menyewa mobil pikap. Mereka berjalan berkilo-kilo meter hingga di jalan raya lalu menggunakan sewa pikap ke tempat ini,” ujar Suriadi.
Suriadi mengaku tetap menjadi Agen BRILink jawara di kalangan agen mitra BRI. Meski sempat menurun jumlah transaksi hingga angka 5000-an per bulan, namun pihaknya tetap memberi pelayanan terbaik untuk semua nasabah yang membutuhkan, khususnya dari pedesaan dan masyarakat terisolir Bakka.
“Tahun 2020-an saya pernah mendapat ribuan transaksi. Sekarang sudah banyak Agen BRILink di wilayah ini. Tapi, kami tetap berkomunikasi dan saling membantu melalui grup WhatsApp yang ada,” ujarnya.
Terpisah, Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto mengatakan, kehadiran Agen BRILink dapat memudahkan nasabah untuk mengakses berbagai layanan keuangan, mulai dari tarik tunai, transfer sampai investasi emas.
“Agen BRILink adalah perpanjangan tangan kami di daerah. Ini upaya kami untuk memperluas akses di tempat-tempat yang tidak ada kantor konvensionalnya,” ucapnya.
Di Agen BRILink, nasabah juga dapat mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk pengembangan bisnis. “Proses kredit bisa dilakukan di sana,” lanjut Iwan.
Seiring dengan itu, pertumbuhan agen BRILink juga mencatatkan tren positif. Hingga Desember 2025, BRI Region 15 Makassar mencatat 71.255 agen BRILink yang tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Ambon dengan jumlah transaksi sebesar 130 juta.
Ke depan, Iwan menyampaikan bahwa BRI khususnya di Region 15 Makassar bakal menambah jumlah agen di beberapa daerah ‘blank spot’ atau yang belum tersentuh akses keuangan BRI. Pendaftaran terus dibuka bagi masyarakat atau nasabah yang berminat dalam program tersebut.
“Kita akan terus monitor yang mengajukan, di daerah mana saja mereka. Kalau daerahnya di sana belum ada (BRILink), tentu kita akan lihat,” tutupnya. (Amin Rais)
