Iklan

Iklan

BPOM Go Global: Taruna Ikrar Dorong Digitalisasi dan Reliance dari Panggung Internasional

22 April 2026, 8:16 AM WIB Last Updated 2026-04-22T00:16:51Z
Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., 

RAKYATSATU. COM, Singapura — Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mendapat sambutan hangat saat memenuhi undangan National University of Singapore (NUS) untuk membawakan kuliah pakar. Kampus ini merupakan salah satu yang terbaik di dunia, menempati peringkat ke-8 global dan peringkat pertama di Asia versi QS World University Rankings 2026.


Kehadiran Taruna Ikrar di forum akademik bergengsi tersebut merefleksikan transformasi signifikan BPOM RI, terutama setelah lembaga ini meraih status WHO Listed Authority (WLA) pada Desember 2025. Status itu menempatkan BPOM sejajar dengan otoritas regulator negara maju dan menjadi pengakuan internasional atas sistem pengawasan obat dan makanan Indonesia.


Dalam paparannya, Taruna menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif seluruh insan BPOM.
“Capaian ini bukan tentang individu, melainkan kerja keras dan dedikasi seluruh keluarga besar BPOM. Ini bukti bahwa integritas dan pengabdian akan mendapat pengakuan global,” ujarnya.


Ia menjelaskan, status WLA menjadi fondasi untuk mempercepat transformasi pengawasan melalui pendekatan modern berbasis teknologi dan kolaborasi global. Di hadapan sivitas akademika NUS, ia juga memperkenalkan konsep strategis ABG (Academic, Business, Government) sebagai pilar utama kemajuan bangsa.


Transformasi BPOM, lanjutnya, ditopang dua strategi utama. Pertama, digitalisasi pengawasan melalui sistem berbasis teknologi guna meningkatkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas layanan. Kedua, penerapan reliance mechanism, yaitu percepatan registrasi obat inovatif dengan mengacu pada hasil evaluasi regulator internasional yang kredibel.
“Pendekatan reliance adalah keniscayaan di era global. Kolaborasi antarregulator menjadi kunci untuk memperluas dan mempercepat akses masyarakat terhadap produk kesehatan,” tegasnya.


Taruna juga menyoroti besarnya nilai ekonomi sektor yang berada di bawah pengawasan BPOM—mulai dari obat, vaksin, pangan olahan, kosmetik hingga suplemen kesehatan—yang mencapai sekitar Rp6.000 triliun. Hal ini menegaskan peran strategis BPOM, tidak hanya sebagai lembaga pengawas, tetapi juga sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional.


Dengan capaian WLA dan strategi transformasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas ekspor produk farmasi dan pangan, meningkatkan kepercayaan global, serta menarik investasi di sektor kesehatan.


Kunjungan ini turut didampingi staf khusus Kepala BPOM, dr. Wachyudi Muchsin, dan menjadi simbol semakin kuatnya posisi Indonesia dalam percaturan global—bukan sekadar pasar, tetapi mitra strategis dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kebijakan kesehatan dunia.(Ikhlas/ Amd)
Komentar

Tampilkan

  • BPOM Go Global: Taruna Ikrar Dorong Digitalisasi dan Reliance dari Panggung Internasional
  • 0

Terkini

Iklan