Bupati Maros Chaidir Syam bersama sejumlah akademisi dari luar negeri
RAKYATSATU.COM, MAROS - PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menggelar Sultan Hasanuddin Forum on Research and Innovation pada Rabu, 29 April 2026.
Forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, akademisi, industri, dan komunitas untuk mendorong kolaborasi lintas sektor di bidang riset dan inovasi.
Kegiatan itu mengusung konsep penta helix, yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu forum diskusi dan pertukaran gagasan.
Bupati Maros H.A.S. Chaidir Syam hadir langsung dalam kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan ekosistem riset dan inovasi di Sulawesi Selatan.
Forum ini merupakan hasil kolaborasi antara Bandara Internasional Sultan Hasanuddin dan Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM). Penyelenggaraannya disebut sebagai upaya memperluas fungsi bandara, tidak hanya sebagai simpul transportasi udara, tetapi juga sebagai ruang interaksi dan kolaborasi produktif.
General Manager Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Ruly Artha mengatakan kegiatan tersebut menjadi langkah konkret membangun ekosistem kolaboratif yang melibatkan banyak unsur.
“Bandara hadir tidak hanya sebagai infrastruktur transportasi, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem. Kolaborasi ini menjadi kunci, dan konsep penta helix tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan pemerintah, akademisi, dan komunitas,” kata Ruly.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Kabupaten Maros terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Bandara Dinilai Bisa Jadi Pusat Interaksi
Bupati Maros Chaidir Syam menyambut baik inisiatif yang dilakukan pihak bandara. Menurut dia, forum seperti itu membuka ruang kolaborasi untuk mengembangkan berbagai potensi daerah melalui pendekatan yang lebih produktif.
“Kehadiran ruang seperti ini memungkinkan berbagai potensi yang dimiliki Sulawesi Selatan dapat dikembangkan melalui kolaborasi yang positif, termasuk pemanfaatan bandara sebagai wadah kegiatan yang produktif,” ujarnya.
Sementara itu, Komite Saintifik kegiatan, Prof. Ismail Suardi Wekke, menilai penyelenggaraan forum di kawasan bandara menjadi langkah awal membangun ekosistem riset yang lebih terbuka.
“Penyelenggaraan forum di bandara menjadi langkah awal dalam membangun ekosistem riset yang lebih terbuka dan kolaboratif,” kata Ismail.
Hadirkan Akademisi Internasional
Forum tersebut juga menghadirkan sejumlah akademisi dari luar negeri, di antaranya Prof. Dr. Peter dari Tohoku University Jepang, Dr. Ruslan dari Universiti Kebangsaan Malaysia, serta Prof. Noorzalita dari universitas yang sama. Hadir pula Prof. Ismail dari IAI Rawa Opa Konawe Selatan.
Dalam diskusi, para narasumber menyoroti pentingnya penguatan identitas bandara sebagai bagian dari daya saing global. Prof. Peter menilai identitas yang kuat dapat menjadi pembeda sekaligus mencerminkan karakter lokal sebuah bandara.
Sementara itu, Prof. Noorzalita menekankan pentingnya penguatan aspek sumber daya manusia dan tata kelola proses dalam mendukung transformasi layanan.
Menurut dia, kualitas sumber daya manusia dan sistem pelayanan yang adaptif menjadi fondasi penting dalam menciptakan layanan yang kompetitif dan berdaya saing.
PT Angkasa Pura Indonesia menyatakan akan terus mendukung kegiatan kolaboratif yang memberi nilai tambah, baik bagi pelayanan bandara maupun penguatan sinergi antar pemangku kepentingan di Sulawesi Selatan. (Ikhlas/Arul)