AS Akui Tak Bisa Evakuasi Warga dari Israel, Trump Targetkan Perang 4 Pekan
Ketegangan di Timur Tengah tidak lagi sekadar ancaman. Serangan balasan Iran terhadap Israel dan berbagai aset Amerika Serikat terus berlanjut. Situasi ini memicu langkah darurat dari pemerintah AS. Namun, langkah itu justru memunculkan kontroversi baru.
Kedubes AS di Yerusalem Instruksikan “Bertahan di Tempat”
Kedutaan Besar AS di Yerusalem secara resmi menginstruksikan seluruh pegawai pemerintah AS dan anggota keluarga mereka untuk tetap berada di tempat hingga pemberitahuan lebih lanjut.
Instruksi tersebut dikeluarkan setelah eskalasi serangan meningkat. Evakuasi belum dapat dilakukan. Bantuan langsung belum dapat diberikan. Pernyataan ini dikonfirmasi melalui laman resmi Kedubes pada Selasa (3/3/2026).
“Kedutaan Besar AS saat ini belum dapat mengevakuasi atau memberikan bantuan langsung kepada warga Amerika yang meninggalkan Israel.”
Kalimat itu terdengar administratif. Dampaknya sangat nyata. Warga AS yang berada di wilayah konflik kini praktis diminta mengatur keselamatan mereka sendiri.
Evakuasi Diserahkan ke Otoritas Israel
Untuk sementara, Kedubes AS mengandalkan dukungan dari Kementerian Pariwisata Israel. Layanan antar-jemput ke Pos Perbatasan Taba mulai dioperasikan sejak 2 Maret 2026.
Warga AS dapat mendaftar melalui formulir yang disediakan otoritas setempat. Namun keselamatan tidak dijamin. Risiko perjalanan sepenuhnya ditanggung penumpang.
Opsi lain tersedia bagi mereka yang ingin menuju Yordania. Layanan menuju Eilat dapat digunakan. Setelah itu, perjalanan harus dilanjutkan secara mandiri menuju Pos Perbatasan Yitzhak Rabin.
Peringatan resmi telah dikeluarkan. Tanggung jawab keamanan tidak berada di tangan pemerintah AS. Situasi ini memicu kritik keras dari sejumlah pengamat kebijakan luar negeri.
Trump: Perang Bisa Berlangsung Empat Pekan
Di Washington, Donald Trump menyampaikan bahwa operasi militer terhadap Iran diperkirakan berlangsung sekitar empat pekan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara dengan Daily Mail.
“Prosesnya selalu sekitar empat pekan,” ujar Trump.
Ia juga mengakui kemungkinan adanya korban jiwa dari kalangan militer AS. Pengakuan itu disampaikan secara terbuka.
Operasi militer telah dimulai sejak 28 Februari 2026. Serangan tersebut disebut menargetkan kepemimpinan Iran. Eskalasi kemudian terus berkembang.
Durasi perang telah diperkirakan. Dampaknya belum bisa dihitung.
Survei Reuters/Ipsos: Dukungan Publik Terbelah
Di tengah langkah militer tersebut, hasil survei terbaru dari Reuters dan Ipsos menunjukkan fakta mengejutkan.
Hanya 27 persen warga AS menyatakan setuju terhadap serangan militer ke Iran. Sebanyak 43 persen menolak. Sementara 29 persen lainnya masih ragu-ragu.
Sebanyak 56 persen responden menilai Trump terlalu mudah menggunakan kekuatan militer untuk memajukan kepentingan nasional.
Pandangan itu didukung oleh 87 persen pemilih Demokrat. Sebanyak 60 persen pemilih independen memiliki pandangan serupa. Bahkan 23 persen pemilih Partai Republik ikut menyuarakan kekhawatiran tersebut.
Data ini telah dipublikasikan setelah jajak pendapat berakhir pada 1 Maret 2026.
Timur Tengah di Ambang Konflik Lebih Luas
Serangan demi serangan terus terjadi. Balasan demi balasan terus diluncurkan. Ketegangan regional telah meningkat secara signifikan.
Kedutaan membatasi layanan. Evakuasi belum dapat dijalankan secara penuh. Warga sipil menghadapi ketidakpastian.
Empat pekan telah disebutkan sebagai estimasi. Realitas di lapangan sering kali berbeda dari perhitungan politik.
Dunia kini menunggu. Apakah konflik akan terkendali atau justru meluas. (Ikhlas)
