Hidup ini dihadirkan berpasang-pasangan. Ada dalilnya. Pasti tahulah khususnya kaum pengkaji. Namun saya mengatakan bahwa aktifitas hidup ini terset untuk saling bertentangan. Kita sebut saja, teori kontradiksi.
Kita mulai dari kontradiksi antara terang dengan gelap. Untuk merekayasa kegelapan, manusia menciptakan lampu. Siapa lagi penemu pertama lampu, anak-anak? Lampu itu tujuannya melawan kegelapan. Ada yang dibuat remang, ada yang terang, atau ada yang berkilau.
Ternyata semakin terang cahaya yang dihasilkan oleh lampu, maka semakin jelas bayang-bayang yang dihasilkan. Maknanya semakin kita ingin membuat terang benderang sebuah fenomena, maka sisi gelap fenomena tersebut akan semakin terungkap.
Anda baru mengecek waktu imsak di jam tangan anda kan? Ternyata jam yang mengatur waktu anda, juga menyodorkan kontradiksi. Jam membuat anda tahu kapan waktu buka puasa, imsak, memenuhi janji, mengajar, atau menghadiri rapat. Jam mengajarkan kedisiplinan, "punctuality", dan keefektifan atau keefesensian hidup.
Di sisi lain yang mungkin anda tidak sadari, jam juga yang membatasi kehidupan anda. Jam yang mengungkung kebebasan beraktifitas. Masih mau kongkow dengan teman, anda merelakan kegembiraan itu berakhir, karena jam menunjukkan anda harus antar anak sekolah atau antar isteri.
Itulah banyak orang idealis memilih tidak memakai jam, alasannya tidak ingin diatur oleh waktu. Termasuk saya, tapi alasannya berbeda, terasa gatal pergelangan tangan kalau memakai jam, tidak tahu kalau jam mahal yah.
Satu lagi contoh kontradiksi hidup. Kunci yang anda kantongi, kunci kamar, kunci kantor, atau kunci brangkas. Kunci yang membuka ruang tertutup. Kunci yang membuka akses hidup. Orang penting sering disebut "tokoh kunci".
Di sisi lain, kunci juga yang membuat orang terjebak. Kunci yang menutup kesempatan anda. Kunci yang membuat anda kehilangan peluang karena "sudah terkunci." Termasuk anak-anak kita yang dikuncikan kamar karena kesalahan perilaku mereka. Ah, bukan hanya anak-anak, bapak-bapak juga kan?
(Ikhlas/ Amd)