-->

Iklan

Iklan

Penuhi Tanggungjawab Untuk Anak Didik di Tengah Pandemi

rakyatsatu
Selasa, 10 November 2020, 1:41 PM WIB Last Updated 2020-11-10T05:41:28Z


RAKYATSATU.COM, SOPPENG - Sulitnya akses dan fasilitas yang dimiliki murid sekolah, tidak membuat guru pada Sekolah Dasar Negeri (SDN) 21 Mattabulu, putus tanggung jawab.


Salahsatunya Sucita Irada Putry, Guru Kelas 2, yang tidak ingin empat belas (14) anak muridnya kehilangan kesempatan belajar seperti murid lainnya yang berada di perkotaan, lantaran pandemi yang sedang mewabah.


Diceritakan Suci panggilan akrabnya, dimasa tanggap darurat. Ia tetap memberikan materi kepada murid-muridnya. Pasalnya, saat itu proses belajar mengajar harus ditiadakan karena wabah virus.


Meski sudah menjadi kebiasaan karena harus pergi-pulang kota, dia memilih untuk tetap memberikan materi pelajaran kepada muridnya dari rumah kerumah masing-masing siswanya yang tinggal didaerah pegunungan dan tentunya tidak dijangkau internet.


"Sejak awal dirumahkan, kami memberikan tugas setiap minggu kepada murid. Mereka (murid dan orangtua) tidak memiliki smartphone karena berada di pegunungan," kata Sucita Irada Putry saat ditanyai media, Selasa(10/11/2020).


Untuk memenuhi tanggung jawab sebagai tenaga pendidik, ia harus menempuh jarak hingga 17km menuju sekolah tempat ia mengajar. Ditambah dengan jarak tempuh 1km berjalan kaki kerumah murdinya.


"Sistem pembelajaran yang kami berikan itu tugas per-minggu. Jadi sekali seminggu pertemuan diberi tugas dalam waktu itu juga," ujarnya.


Lanjut Suci, sejak sementer ganjil 2020/2021, dia dan beberapa guru lainnya mulai dengan metode baru pembelajaran, yakni melakukan proses belajar mengajar juga diberikan kepada  orang tua murid.


Hal tersebut dilakukan, karena sejumlah orang tua murid mengeluh lantaran sulit membimbing anaknya belajar di rumah, ditambah lagi tidak ada pemahaman materi mendalam. 


"Realita Belajar dari Rumah (BDR), menuntut orang tua harus tau pelajaran anaknya, karena mereka yang akan membimbing langsung selama belajar di rumah. Dari situ, kami berinisiatif menghadirkan orang tua sekali seminggu untuk diberi penjalasan mengenai materi tiap sepekan untuk anaknya," kata Sucita. 


Metode ini dilakukan juga agar mereka (orangtua, -red) tidak mengalami kesusahan dalam membimbing. Bagaimana tidak, kebanyakan kasus ditemui hal lain yang menjadi masalah dalam proses belajar ini adalah kurangnya pemahaman pelajaran, dan juga waktu luang untuk membimbing anaknya. 


"Kita bisa liat kebanyakan kasus saat ini banyak orang tua yang mengeluh membimbing selama belajar di rumah, ada yang bilang karena tidak paham akan pelajarannya, ada yang bilang karena tidak punya waktu luang, pokoknya banyak alasan. Jadi metode ini bisa menjadi salahsatu solusi," urainya.


Menurut dia, metode baru ini sangat didukung oleh wali murid, dengan antusianya orang tua untuk mendapatkan materi dari guru dan akan di berikan kepada anaknya. 


"Kalau soal orang tua ke sekolah, mereka sangat antusias jadi kami guru juga semangat untuk berbagi ilmu. Menurut mereka mereka, kembali belajar dan mengulang materi saat sekolah bisa merefresh kembali ilmunya," terang Suci.


"Tentu hal ini membuat kami senang, karena antusias baik dari orang tua wali maupun murid, cukup tinggi untuk mengikuti proses belajar," sambungnya.


Tidak sampai disitu, sesekali dia dan rekan sejawatnya melakukan proses belajar mengajar murid di alam terbuka agar siswa mendapatkan suasana yang berbeda. Tentu kata dia, dengan menerapkan protokol kesehatan.


Yang menjadi harapan bagi dia, proses mengajar di Kabupaten Soppeng dapat normal kembali, agar generasi penerus tidak tertinggal, terlebih yang berada di pelosok karena kurangnya akses dan fasilitas yang mewadahi.


Disamping itu, selaku tenaga pendidik, hal ini merupakan tanggung jawabanya agar generasi penerus tidak kehilangan kesempatan belajar. Dan yang penting lainnya adalah, agar dapat menghilangkan paradigma guru makan gaji buta di masa pandemi.


"Semoga dengan kegiatan ini, pendidikan dapat merata ke pelosok, dapat membuka kesadaran guru-guru. Sehingga tidak ada  generasi penerus yang tertinggal," kuncinya. (**)


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Penuhi Tanggungjawab Untuk Anak Didik di Tengah Pandemi

Terkini

Iklan

Iklan