ads

06 August, 2019

Jadi Pembicara di Soppeng, Ali Fauzi Beber Pengalaman Saat Jadi Teroris

Jadi Pembicara di Soppeng, Ali Fauzi Beber Pengalaman Saat Jadi Teroris
banner 336x280
RAKYATSATU.COM, SOPPENG - Mantan Teroris Ali Fauzi menjadi pembicara di forum Komsos Cegah Tangkal Radikalisme, Separatisme, oleh Badan Kesbangpol Soppeng dan Kodim 1423/ Soppeng.

Kegiatan yang dibuka Oleh Sekda Soppeng dan dihadiri puluhan peserta ini, digelar di Kantor Gabungan Dinas (Gadis) Watansoppeng, Selasa (06/08/2019).

Dalam Materinya, Ali Fauzi yang merupakan saudara dari Ali Gufron dan Amrozi, yang menjadi aktor teror Bom Bali 2015 silam, menjelaskan, saat dirinya masih berada di dunia kelam, dia menjadi instruktur perakit Bom dan otak dari beberapa serangan teror di Indonesia, seperti Bom Bali, Bom Gereja di Surabaya, Marriott, Konflik Poso, Konflik Ambon dan aksi teror lainnya.

Namun sebelum menjadi otak teror, dia sebelumnya menjalani latihan khusus di kamp pelatihan militer Kandahar, Afghanistan.

"Disana saya belajar tentang militer, mengenai persenjataan, peta geografis, taktik perang, dan juga merakit bom," kata Ali Fauzi mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI).

Dijelaskan dia, setelah menjalani latihan militer, dan berhasil menjadi ahli merakit bom, setiap harinya hanya memikirkan bagaimana cara membunuh.

"Dalam otak saya, kalau ada Bule apakah sasar kepala atau lehernya. Atau biasanya kalau orang ke hotel menikmati arsitektur bangunan, saya tidak. Saya langsung kalkulasi berapa kilo yang dibutuhkan untuk meruntuhkan," bebernya.

Sepanjang karir menjadi Teroris, Ali Fauzi pernah tertangkap di Thailand. Ia kemudian diekstradisi ke Penjara Guantanamo, Amerika Serikat.

Setelah dibebaskan, Ali Fauzi melanjutkan kiprahnya di Filipina dan bergabung dengan Organisasi Moro Islamic Liberation Front (MILF), hingga akhirnya Ali Fauzi kembali tertangkap oleh Polisi Filipina.

Setelah menjalani hukuman di Filipina, Ali Fauzi kemudian dia diekstradisi ke Indonesia.

"Saya dibawa ke Indonesia dalam keadaan sakit dan luka-luka. Namun dalam kondisi itu, saya diperlakukan secara manusiawi oleh anggota Polisi yang notabanenya adalah sosok negatif bagi saya waktu itu," tarangnya.

Hal itu membuat Ali Fauzi mengubah konsep jihadnya dengan bersumpah setia kepada NKRI, dan membantu Polisi dalam memerangi radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Selain membantu Polisi memerangi radikalisme dan terorisme, Ali Fauzi juga telah membentuk Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) dengan para Narapidana Terorisme (Napiter).

Yayasan yang digagasnya tersebut bergerak di bidang Control Flow Integrity (CFI), dengan mencoba untuk menjauhkan dari sifat-sifat destruktif, termasuk pengeboman, yang sempat dilakukan olehnya dan para anggota yayasan sebelumnya.

Mereka berusaha kembali meyakinkan dan mengajak para mantan napiter yang sudah menjalani masa hukuman, untuk kembali menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  (San)
Don't Miss

News Feed