ads

20 January, 2019

Pelaku Warkop atau Kedai Patut Meniru Kedai 191 Watampone, Ini Sebabnya

Pelaku Warkop atau Kedai Patut Meniru Kedai 191 Watampone, Ini Sebabnya
banner 336x280
RAKYATSATU.COM, BONE - Salah satu kedai/warkop di Kabupaten Bone yang selalu dikunjungi oleh orang yang sudah berkeluarga di hari Minggu untuk berakhir pekan atau Weekend, adalah Kedai 191 Watampone.

Pasalnya, kedai yang terletak di Jl Sungai Citarum, Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang itu selain menyediakan atau tempat untuk ngopi dan makan jalangkote juga sebagai tempat menambah ilmu pengetahuan lewat membaca buku yang disiapkan siempunya kedai 191 Watampone.

Seperti pada pantauan Rakyatsatu.com pada hari Minggu (20/1/01/2019), sejumlah orang tua sekaligus membawa anak-anaknya untuk menikmati salah satu ciri khas makanan yang disediakan Kedai 191 Watampone, yakni jalangkote.

Selain itu, para orang tua tersebut juga membimbing anaknya untuk membaca sejumlah buku non fiksi dan fiksi yang tersedia di kedai milik Bakhtiar Parenrengi (kontibutor Metro Tv) tersebut.

Sebagaimana pengakuan dan penuturan salah seorang pengunjung Kedai 191 Watampone, Enal Saenal.

"Kedai 191 tidak hanya didatangi untuk ngopi dan ngejalkot, tetapi juga untuk membaca buku. Hal ini sangat bermanfaat bagi saya dan anak-anak saya," ujar Enal Saenal.

Lanjutnya lagi, menikmati suasana weekend tidak selamanya harus dilaksanakan di tempat-tempat wisata tetapi bagaimana kita dapat berakhir pekan dengan suasana yang nyaman dan santai serta aman bersama keluarga dengan adanya pula kegiatan edukasi.

"Saya harap, para pelaku kedai/warkop di Kabupaten Bone dapat mencontoh Kedai 191 ini dengan menyiapkan literatur pelajaran dan cerita untuk para pengunjungnya, karena kedai atau warkop disamping sebagai tempat ngopi memiliki banyak pula manfaat, seperti silaturahmi, tempat bercengkrama atau diskusi serta tempat refreshing dan wahana menambah wawasan ilmu pengetahuan," jelas Enal Saenal.

Lelaki calon Doktor itu menambahkan, fungsi warkop atau kedai selain yang telah disebutkannya tadi, masih banyak fungsi lainnya, seperti tempat bersenda gurau dan tentunya dapat menjadi tempat mejeng baik para orang tua terlebih kaum milenial.

Sementara itu, pemilik Kedai 191 Watampone, Bakhtiar Parenrengi, mengatakan, awalnya dirinya hanya berupaya mengoleksi buku fiksi dan non-fiksi di kedainya sebagai pajangan dan sekali-sekali menjadi bacaan pribadi baginya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, ternyata buku-buku yang merupakan sumbangan dari sejumlah penulis, dari teman, kolega dan keluarganya itu banyak diminati oleh pengunjung kedai.

"Saya juga merasa senang dan bahagia apabila ada pengunjung kedai, khususnya anak-anak mau membaca buku-buku koleksi kedai," ujarnya.

Bahkan khusus bagi anak-anak, di hari Minggu digratiskan makan jalangkote bersama secangkir teh hangat.

"Kalau hari Minggu ada program makan jalangkote ditambah teh hangat dengan gratis, waktunya dari pukul 08.00 - 11.00 Wita," ujar Bakhtiar Parenrengi.

Dirinya pun berharap, semoga ada yang mau menyumbangkan bukunya atau tulisannya di Kedai 191, dalam bentuk buku (biografi dan auto biografi), fiksi dan non-fiksi atau buku bacaan lainnya agar dapat menjadi referensi bacaan para pengunjung dan dirinya.  (Rasul)
Don't Miss

News Feed