RAKYATSATU.COM, SOPPENG - Pagi baru saja menyapa Desa Mattabulu, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan. Di Toko Sherli yang berdiri sederhana di pinggir jalan desa, aktivitas warga sudah mulai terlihat sejak matahari belum terlalu tinggi. Sebagian datang membawa uang hasil panen yang hendak disetorkan ke rekening, sementara yang lain singgah untuk menarik uang tunai sebelum berangkat ke kebun atau mengirim dana kepada keluarga di luar daerah.
Di antara rak-rak berisi beras, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya, sebuah mesin EDC berada di atas meja kecil dekat kasir. Bunyi notifikasi transaksi yang silih berganti terdengar berpadu dengan aktivitas jual beli di toko. Pemandangan tersebut telah menjadi rutinitas sehari-hari sejak Muhammad Bondan menjalankan Agen BRILink di tempat itu pada 2020.
Sesekali Bondan–sapaan akrabnya melayani pembeli yang mencari kebutuhan rumah tangga, lalu beralih membantu warga melakukan transfer uang atau tarik tunai. Tak jarang para petani mampir dengan pakaian kerja yang masih berdebu usai dari kebun, sementara ibu rumah tangga datang untuk membayar tagihan atau membeli token listrik.
Bagi masyarakat Desa Mattabulu, Toko Sherli kini bukan lagi sekadar toko kelontong. Tempat sederhana itu telah berkembang menjadi pusat layanan keuangan yang membantu warga memenuhi berbagai kebutuhan transaksi tanpa harus pergi ke kota.
Dari tempat sederhana inilah Bondan menghadirkan layanan tarik tunai, setor tunai, transfer uang, pembayaran tagihan, hingga pembelian token listrik yang dibutuhkan masyarakat sehari-hari.
Berawal dari Kesulitan yang Dialami Warga
Jauh sebelum menjadi Agen BRILink, Bondan kerap menyaksikan sendiri bagaimana warga di desanya harus mengeluarkan waktu, tenaga, dan biaya hanya untuk melakukan transaksi perbankan.
Saat itu, masyarakat Desa Mattabulu harus menempuh perjalanan sekitar delapan kilometer menuju kota untuk menarik uang, mengirim dana kepada keluarga, membayar tagihan, atau melakukan transaksi lainnya.
Bagi sebagian warga, terutama para petani dan pedagang kecil, perjalanan tersebut bukan perkara mudah. Selain membutuhkan biaya transportasi, mereka juga harus meninggalkan pekerjaan selama beberapa jam.
Yang paling sering menarik perhatian Bondan adalah para orang tua yang harus pergi ke kota hanya untuk mengirim uang kepada anak mereka yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah.
“Saya sering melihat warga harus ke kota hanya untuk transfer uang atau menarik uang tunai. Kadang biaya perjalanan yang mereka keluarkan lebih besar daripada biaya administrasi transaksinya sendiri,” tutur pria berusia 45 tahun itu.
Kondisi itulah yang kemudian mendorong Bondan mencari solusi agar layanan keuangan dapat diakses lebih dekat oleh masyarakat.
Keinginan tersebut semakin kuat karena sebagian besar warga desa menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perdagangan kecil. Waktu yang mereka habiskan untuk bepergian ke kota sering kali berarti berkurangnya waktu bekerja dan berkurangnya produktivitas.
Bermodal Rp15 Juta dari Hasil Toko Kelontong
Pada 2020, Bondan memutuskan bergabung sebagai Agen BRILink. Modal sekitar Rp15 juta yang berasal dari hasil usaha toko kelontong keluarga menjadi bekal awalnya menghadirkan layanan keuangan di Desa Mattabulu.
Dengan modal yang tidak terlalu besar, ia mulai membangun layanan tersebut dari toko kelontong yang setiap hari dikelola bersama keluarga. Namun, perjalanan membangun layanan keuangan di desa tidak langsung berjalan mulus.
Pada masa awal operasional, banyak warga yang belum memahami fungsi dan manfaat Agen BRILink. Sebagian bahkan masih ragu melakukan transaksi melalui agen karena terbiasa datang langsung ke kantor bank atau ATM.
Bondan pun aktif memperkenalkan layanan tersebut kepada masyarakat. Ia menjelaskan cara kerja Agen BRILink, keamanan transaksi, hingga berbagai manfaat yang bisa diperoleh warga jika memanfaatkan layanan tersebut.
Tak jarang, ia harus memberikan penjelasan berulang kali kepada warga yang baru pertama kali mengenal layanan tersebut. Perlahan namun pasti, edukasi yang dilakukan mulai membuahkan hasil.
“Awalnya memang perlu waktu untuk membangun kepercayaan masyarakat. Saya harus menjelaskan satu per satu bahwa transaksi di sini aman dan resmi,” katanya.
Dari Belasan Menjadi Puluhan Transaksi Setiap Hari
Perlahan, kepercayaan masyarakat mulai tumbuh. Warga yang sebelumnya masih ragu mulai memanfaatkan layanan yang tersedia. Dari hari ke hari, jumlah transaksi terus meningkat.
Jika pada awal beroperasi hanya beberapa warga yang datang bertransaksi, kini Toko Sherli melayani puluhan transaksi setiap hari. Aktivitas tersebut berlangsung hampir sepanjang jam operasional toko.
Tidak jarang warga datang sejak pagi setelah pulang dari kebun atau menjelang sore usai menyelesaikan pekerjaan mereka. Sebagian datang untuk menarik uang hasil penjualan panen, sementara yang lain menyetor pendapatan usaha atau mengirim uang kepada anggota keluarga.
Ramainya transaksi membuat Toko Sherli berkembang menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa. Warga yang datang untuk bertransaksi biasanya sekaligus berbelanja kebutuhan rumah tangga sehingga menciptakan perputaran ekonomi yang semakin hidup di lingkungan sekitar.
Keberadaan Agen BRILink juga membuat masyarakat tidak lagi bergantung pada layanan perbankan yang berada jauh dari desa. Berbagai kebutuhan transaksi kini dapat diselesaikan dalam hitungan menit tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi tambahan.
Meningkatnya aktivitas transaksi tersebut tidak hanya menghadirkan kemudahan layanan keuangan bagi masyarakat. Perkembangan usaha yang dijalankan Bondan juga mulai memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi lingkungan sekitarnya.
Membuka Peluang Kerja dan Memberdayakan Warga Sekitar
Seiring berkembangnya usaha, Bondan mulai melibatkan warga sekitar dalam operasional Toko Sherli dan layanan Agen BRILink.
Saat ini, dua warga setempat bekerja membantu aktivitas harian di toko, mulai dari melayani pelanggan, mengelola stok barang, hingga membantu operasional ketika transaksi sedang ramai.
Kehadiran mereka membuat pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih optimal. Di sisi lain, usaha yang awalnya hanya dikelola keluarga kini juga mampu memberikan sumber pendapatan bagi warga sekitar.
Bagi Bondan, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari meningkatnya transaksi atau bertambahnya pelanggan. Ia bersyukur karena usaha yang dirintis dari toko kelontong sederhana kini juga mampu membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar.
“Alhamdulillah sekarang sudah ada dua warga yang ikut bekerja membantu operasional toko. Saya berharap usaha ini bisa terus berkembang dan manfaatnya dirasakan lebih banyak orang,” tuturnya.
Selain membuka kesempatan kerja, Bondan juga aktif membantu warga yang belum terbiasa menggunakan layanan perbankan. Ia kerap mendampingi masyarakat yang baru pertama kali melakukan transaksi maupun membuka rekening.
Bagi sebagian warga, Toko Sherli bahkan menjadi tempat pertama mereka mengenal layanan keuangan formal.
Selain itu, manfaat kehadiran Agen BRILink tersebut tidak hanya dirasakan Bondan dan para pekerjanya. Masyarakat yang menjadi pengguna layanan pun merasakan perubahan nyata dalam aktivitas sehari-hari.
Rahmawati (39), salah seorang warga Desa Mattabulu, mengaku hampir setiap bulan menggunakan layanan transfer dan tarik tunai di tempat tersebut. Menurutnya, sebelum ada Agen BRILink, ia harus pergi ke kota setiap kali membutuhkan layanan perbankan.
“Kalau dulu mau transfer uang ke anak yang sekolah di luar daerah, saya harus menunggu ada keperluan ke kota atau mencari kendaraan. Sekarang tinggal datang ke sini, beberapa menit sudah selesai,” ujarnya.
Rahmawati menilai biaya transaksi yang berkisar Rp5.000 hingga Rp10.000 jauh lebih hemat dibandingkan biaya transportasi yang harus dikeluarkan untuk pergi ke kota. “Lebih dekat, lebih cepat, dan lebih hemat. Apalagi kami sudah saling mengenal sehingga lebih nyaman,” katanya.
Hal serupa dirasakan Arman (35), seorang petani yang rutin menggunakan layanan setor tunai dan transfer. Baginya, keberadaan Agen BRILink memberikan kemudahan yang sangat berarti bagi masyarakat yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian.
“Kadang setelah menjual hasil panen, saya langsung mampir ke sini untuk menyetor uang. Tidak perlu lagi menunggu ke kota,” ujarnya.
Menurut Arman, kehadiran Agen BRILink juga membuat transaksi menjadi lebih aman karena warga tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar saat bepergian.
“Kalau ada hasil penjualan atau kebutuhan transfer, bisa langsung diselesaikan di sini. Jadi lebih aman dan lebih nyaman,” tuturnya.
Sementara Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto mengatakan hingga Desember 2025, BRI Region 15 Makassar mencatat 71.255 Agen BRILink yang tersebar di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Ambon, dengan jumlah transaksi mencapai 130 juta.
“Pertumbuhan Agen BRILink hingga Desember 2025 mencatatkan tren positif,” ujarnya. (Amin Rais)
