![]() |
| Suasana dalam toko kue tradisional Nennu-Nennu Fatimah, di Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Soppeng/ Foto: Ichsan Machmud |
RAKYATSATU.COM, SOPPENG - Kue nennu-nennu atau dikenal dengan nama karasa, merupakan salah satu jajanan tradisional khas Bugis-Makassar. Kue berbahan dasar tepung beras dan gula aren ini, menjadi populer di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, terutama di Kabupaten Soppeng. Bentuknya khas, helaian tipis menyerupai benang kusut yang digoreng kemudian dicelup dalam larutan gula merah yang dididihkan.
Di Desa Laringgi, Kecamatan Marioriawa, Kabupaten Soppeng, kue tradisional itu bukan sekadar santapan. Di tangan Fatimah sang owner, Nennu-Nennu Fatimah berkembang menjadi usaha keluarga yang menopang ekonomi rumah tangga, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
Perjalanan usaha mereka dimulai secara sederhana. Bertahun-tahun lalu, Fatimah hanya menjajakan kue tradisional di pasar dengan skala kecil. Produksi dilakukan di rumah dengan peralatan terbatas. Pembeli pun sebagian besar warga sekitar.
Namun, usaha itu perlahan berkembang, dengan menjaga kualitas rasa menjadi salah satu faktor yang membuat pelanggan terus datang. Mereka mempertahankan cita rasa tradisional di tengah banyaknya makanan modern yang bermunculan.
Fatimah mengatakan usaha tersebut mulai dirintis sejak 2008. Saat itu, mereka memulai hampir tanpa modal besar. Produksi dilakukan sedikit demi sedikit sambil menyesuaikan permintaan pasar.
“Awalnya hanya jualan biasa di pasar. Lama-lama pelanggan bertambah karena rasa dan kualitas tetap dijaga,” kata Fatimah saat ditemui, Jumat 8 Mei 2026.
Permintaan yang terus meningkat membuat usaha mereka berkembang cukup pesat. Produk Nennu Nennu Fatimah kini telah memiliki izin resmi dan terdaftar di BPOM dan sertifikasi halal, serta izin lainnya di tahun 2020-2021.
Menurut dia, legalitas tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk pangan tradisional.
![]() |
| Owner Toko Makanan Tradisional "Nennu-Nennu Fatimah", Fatimah saat melayani pembelian produk di toko miliknya/ Foto : Ichsan Machmud |
Kini, Fatimah telah memiliki toko sendiri di Jalan Poros Soppeng–Sidrap, tepatnya di Welonge, Desa Laringgi, tidak jauh dari SDN 52 Welonge. Lokasi tersebut menjadi tempat penjualan sekaligus pusat produksi berbagai kue tradisional.
Bukan hanya nennu-nennu yang dijual di tempat itu. Pengunjung juga dapat menemukan sejumlah jajanan khas lain seperti bolu cukke, putu ambong, pipang, dadar gulung, hingga berbagai jenis kerupuk dan minuman ringan.
Bagi masyarakat Soppeng, Nennu-Nennu Fatimah perlahan menjadi salah satu oleh-oleh khas daerah. Banyak pelanggan sengaja datang atau memesan sebelum berkunjung ke kerabat di luar daerah. Bahkan tidak sedikit masyarakat dari luar Soppeng datang khusus untuk membeli produknya.
Rudi, salah seorang pelanggan mengatakan, dirinya sudah lama menjadi penikmat produk tersebut. Menurut dia, Nennu-Nennu buatan Fatimah memiliki rasa dan tekstur yang berbeda dibanding produk serupa di tempat lain.
“Kalau ada tamu dari Makassar biasanya saya pesan di sana. Memang sudah dikenal,” ujarnya.
Ia bahkan menyarankan pelanggan memesan sehari sebelumnya karena produk tersebut kerap habis, terutama pada akhir pekan atau musim libur.
Dalam pengembangan usahanya, Fatimah juga mengaku mendapat dukungan dari BRI sebagai nasabah sekaligus pelaku UMKM binaan. Ia mengatakan telah menjadi nasabah BRI sejak 2008 dan memanfaatkan sejumlah layanan perbankan untuk mendukung transaksi usaha.
Menurut dia, transaksi pembelian bahan baku maupun penjualan produk kini banyak dilakukan secara digital, mulai dari transfer hingga pembayaran menggunakan QRIS.
“Yang paling membantu, kami sering dilibatkan dalam kegiatan UMKM sehingga jaringan pemasaran produk juga semakin luas,” kata Fatimah.
Perkembangan usaha tersebut turut memberi dampak bagi masyarakat sekitar. Seiring meningkatnya produksi, mereka mulai mempekerjakan warga setempat untuk membantu proses pembuatan dan pengemasan kue.
Di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat, keberadaan usaha seperti Nennu-Nennu Fatimah menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki ruang untuk tumbuh. Dengan menjaga rasa, kualitas, dan konsistensi produksi, usaha kecil berbasis pangan lokal tetap mampu bertahan bahkan berkembang.
Bagi Fatimah, keberhasilan itu bukan diperoleh secara instan. Namun melewati proses panjang, mulai dari berjualan kecil-kecilan hingga memiliki toko sendiri. Dari dapur sederhana di Welonge, nennu-nennu kini tidak hanya menjadi sumber penghidupan keluarga, tetapi juga bagian dari identitas kuliner khas Soppeng. [Ichsan Machmud]

