RAKYATSATU.COM, BANDUNG - Badan Pengelola Keuangan Haji Republik Indonesia (BPKH) menggelar Training of Trainers (ToT) Al-Qur’an Isyarat dan Iqra Braille di wilayah Jawa Barat. Kegiatan ini dikelola oleh Laznas PPPA Daarul Qur’an sebagai mitra kemaslahatan BPKH dan dilaksanakan di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu, 11 Maret 2026.
Kegiatan ToT tersebut merupakan bagian dari program Berbagi Berkah Ramadan BPKH 1447 Hijriah sekaligus termasuk dalam program kemaslahatan BPKH tahun 2026. BPKH menaruh perhatian pada pengembangan pendidikan inklusif yang berkelanjutan bagi penyandang disabilitas, khususnya tuna rungu dan tuna netra, agar memiliki akses belajar Al-Qur’an.
Dalam kegiatan itu, BPKH membagikan mushaf Al-Qur’an isyarat, Iqra Braille, serta bingkisan Ramadan kepada para peserta disabilitas. Sebanyak 100 peserta hadir yang berasal dari komunitas muslim tuli, pejuang netra, pengajar Sekolah Luar Biasa (SLB), serta masyarakat umum dari wilayah Bandung Raya, Jawa Barat.
Direktur Utama Laznas PPPA Daarul Qur’an Dwi Kartika Ningsih mengatakan lembaganya berkomitmen menjadi jembatan antara Al-Qur’an dan umat Islam yang ingin membaca kitab suci tersebut tanpa terkecuali. Program Disabilitas Mengaji, kata dia, menjadi upaya agar setiap muslim memiliki kesempatan mempelajari Al-Qur’an meskipun memiliki keterbatasan. Kegiatan serupa juga digelar di Jakarta dan Yogyakarta.
“Training of Trainers Al-Qur’an Isyarat dan Iqra Braille ini bukan sekadar pelatihan. Ini merupakan ikhtiar untuk mencetak kader pengajar Al-Qur’an bagi mereka yang berkebutuhan khusus melalui Al-Qur’an Isyarat dan Iqra Braille yang nantinya dapat diajarkan kembali di berbagai daerah,” ujarnya.
Kementerian Agama menyambut baik program yang digagas Laznas PPPA Daarul Qur’an bersama BPKH tersebut. Ketua Tim Peningkatan Kualitas Pendidikan Al-Qur’an Kementerian Agama Amin Baejuri berharap program ini membantu penyandang disabilitas memahami Al-Qur’an secara lebih baik.
“Semoga dengan fasilitas yang luar biasa ini, mereka yang berkebutuhan khusus dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, memahami maknanya, serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Amin.
Deny Hudaeny mengatakan program sosialisasi Al-Qur’an isyarat telah berjalan sejak 2024 melalui berbagai kegiatan ToT yang digelar Laznas PPPA Daarul Qur’an bersama BPKH dan sejumlah mitra.
“Alhamdulillah dari Sabang sampai Merauke Al-Qur’an isyarat sudah dikenal. Kini juga hadir Iqra Braille sebagai panduan belajar Al-Qur’an Braille. Mudah-mudahan Al-Qur’an inklusif ini terus berkembang, tidak hanya dalam cara membacanya tetapi juga dalam memahami maknanya,” ujarnya.
BPKH sendiri telah memberi perhatian pada pengembangan pembelajaran Al-Qur’an bagi penyandang disabilitas dalam tiga tahun terakhir. Kepala Divisi Program Strategis dan Pelaksana Mandiri BPKH Fanni Sufiandi mengatakan jumlah penyandang disabilitas cukup besar, sementara Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi umat Islam.
“Program ini menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem pembelajaran Al-Qur’an yang inklusif dan tanpa hambatan bagi saudara-saudara disabilitas. Insya Allah Al-Qur’an isyarat ini dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Wahyudin Darmalaksa mengapresiasi Laznas PPPA Daarul Qur’an dan BPKH yang memilih kampusnya sebagai lokasi pelaksanaan ToT Al-Qur’an Isyarat dan Iqra Braille.
“Ini kegiatan yang luar biasa dan sangat dinantikan umat Islam. Semoga Allah memberikan balasan terbaik bagi semua pihak yang berkontribusi dalam kegiatan ini,” katanya.
