![]() |
| Comeback Epik Aldi Satya. |
RAKYATSATU.COM, JAKARTA - Gebrakan luar biasa ditorehkan Aldi Satya Mahendra pada seri pembuka FIM Supersport World Championship 2026 di Phillip Island, Australia.
Pembalap 19 tahun itu mencatatkan salah satu comeback terbaik musim ini dengan melesat dari posisi start terakhir, P28, hingga finis kedua pada Race 2.
Sejak lampu start padam, Aldi langsung tampil agresif. Dalam beberapa tikungan awal, ia berhasil memangkas banyak posisi dan merangsek ke barisan depan.
Bahkan, ia sempat memimpin jalannya lomba sebelum akhirnya mengunci podium kedua. Hasil tersebut menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya pembalap Indonesia naik podium di kelas World Supersport.
Performa gemilang ini bukan sekadar keberuntungan. Pada Race 1, Aldi sudah menunjukkan potensi dengan finis di posisi ke-13 dan mengamankan poin penting.
Total 23 poin yang diraih sepanjang akhir pekan menempatkannya di posisi lima klasemen sementara—hasil yang jauh melampaui target awal tim yang membidik finis 10 besar.
Musim ini, Aldi menjalani tahun keduanya di ajang World Supersport dan memperkuat AS Racing Team, tim asal Italia yang berpengalaman di level dunia. Adaptasinya terbilang cepat, terbukti langsung kompetitif sejak seri perdana.
Strategi tim juga menjadi faktor krusial. Keputusan menggunakan ban slick saat kondisi lintasan gerimis terbukti tepat dan memberi keuntungan signifikan dalam menjaga ritme balap.
“Saya tidak menyangka bisa podium dari start terakhir. Ini buat Indonesia,” ujar Aldi penuh haru usai balapan.
Race 2 sendiri dimenangi oleh rekan setimnya, Albert Arenas, yang kini memimpin klasemen sementara. Bagi Yamaha Racing Indonesia, hasil ini menjadi bukti nyata efektivitas sistem pembinaan berjenjang yang selama ini dijalankan.
Manager Motorsport PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Wahyu Rusmayadi, menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian tersebut.
Ia menegaskan bahwa prestasi Aldi melampaui ekspektasi tim dan menjadi momen historis bagi Indonesia.
Musim 2026 masih menyisakan 11 seri di Eropa. Namun satu pesan sudah jelas: Indonesia kini bukan sekadar penonton di World Supersport, melainkan penantang serius.
Jika tren positif ini berlanjut, bukan mustahil lagu Indonesia Raya akan berkumandang dari podium tertinggi. (*)
