Kunjungan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala BPOM RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., didampingi jajaran pejabat tinggi dan pakar strategis BPOM. Turut hadir antara lain Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor, dan Zat Adiktif Dr. William Adi Teja, Fungsional Utama Mayagustina Andarini, Staf Khusus Sediaan Farmasi Rita Endang, Staf Khusus Humas dan Hukum dr. Wachyudi Muchsin, Plt. Direktur Pengawasan Produksi Obat Shanti Marlina, Direktur Registrasi Obat Tri Asti Isnariani, Direktur Pengawasan Keamanan Mutu dan Ekspor Impor Obat Nova Emelda, Direktur Standardisasi Obat Christine Siagian, serta Direktur Pengawasan Distribusi Obat Bayu Wibisono.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi atas sejarah panjang kemandirian farmasi nasional. Gedung yang kini menjadi bagian dari PT Kimia Farma Tbk tersebut sebelumnya dikenal sebagai Chemicalien Handle Rathkamp & Co, tonggak awal industri farmasi modern di Indonesia sejak era kolonial.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menyebut momentum ini sebagai napak tilas penting untuk meneguhkan kembali kemandirian obat sebagai bagian dari ketahanan nasional.
“Di tempat inilah sejarah industri farmasi Indonesia bermula. Kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi meneguhkan komitmen membangun masa depan kesehatan bangsa yang mandiri, kuat, dan berdaya saing global,” ujar Taruna.
Ia menegaskan, meskipun BPOM resmi berdiri sebagai Lembaga Pemerintah Non-Kementerian (LPNK) pada 2001, akar pengawasan obat dan makanan di Indonesia telah ada sejak 1807. Seiring waktu, sistem pengawasan terus bertransformasi dari pengujian sederhana menjadi otoritas regulatori modern yang kuat dan independen.
Dalam refleksi tersebut, Taruna menekankan empat pilar utama pengawasan obat dan makanan saat ini, yakni adaptif terhadap perkembangan teknologi, independensi kelembagaan, partisipasi aktif pemangku kepentingan, serta harmonisasi dengan standar internasional.
Pada kesempatan yang sama, BPOM memberikan apresiasi kepada PT Kimia Farma Tbk atas langkah progresif dalam pengembangan inovasi berbasis riset. Melalui kolaborasi strategis dengan berbagai perguruan tinggi dan rumah sakit, Kimia Farma telah menghasilkan produk Advanced Therapy Medicinal Products (ATMP) berupa Mesenchymal Stem Cell (MSC).
Inovasi tersebut dinilai menjadi bukti bahwa industri farmasi nasional telah memasuki era terapi maju berbasis bioteknologi.
“Ini adalah wujud nyata sinergi Academia, Business, dan Government (ABG). Riset di kampus dapat dihilirisasi menjadi produk, dan negara hadir melalui BPOM untuk menjamin mutu, keamanan, serta kepastian regulasi,” tegas Taruna.
Dengan pencapaian BPOM sebagai WHO Listed Authority (WLA), Taruna optimistis peluang produk farmasi Indonesia menembus pasar global semakin terbuka.
“BPOM berkomitmen memberikan dukungan regulatori agar industri farmasi nasional tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga pemain terhormat di pasar internasional,” ujarnya.
Kunjungan ke pabrik obat pertama Indonesia ini menjadi simbol kuat pertautan antara sejarah, inovasi, dan masa depan. Dari gedung bersejarah di Jalan Veteran, BPOM meneguhkan langkah menuju ketahanan kesehatan nasional dan visi besar Indonesia Emas 2045.(Ikhlas/ Amd)