Iklan

Iklan

Begini Motivasi Kadis Ketapang Bone Menghidupkan dan Menggairahkan Kembali Potensi Pentingnya TTI

10/06/20, 18:53 WIB Last Updated 2020-06-10T10:53:14Z
RAKYATSATU.COM, BONE - Gebrakan Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Bone, melalui Kepala Dinasnya, H Andi Asman Sulaiman, S.Sos, MM, patut diacungi jempol, ditiru dan diapresiasi, khususnya dalam hal meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani dalam menunjang ketahanan pangan.

Kakak kandung Wakil Gubernur (Wagub) Sulsel itu pun tak pernah berhenti berkarya demi peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengupayakan berbagai cara, antara lain pemanfaatan lahan pekarangan rumah dan pengembangan Toko Tani Indonesia Center (TTIC) Kabupaten Bone.

Saat ditemui di TTIC Kabupaten Bone, dihalaman kantor Dinas Ketapang Kabupaten Bone, Jl Jenderal Sudirman Watampone Kelurahan Biru Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone, Rabu (10/06/2020), H Andi Asman Sulaiman mengemukakan bahwa saat ini TTIC sudah memiliki 34 cabang yang tersebar di Kabupaten Bone.

Meski demikian, Andi Asman Sulaiman mengakui bahwa 34 cabang yang dibina TTIC tersebut merupakan kios masyarakat yang disuplai beras bersubsidi dari mitra kelompok tani pada program PUPM.

"34 cabang tersebut merupakan kios masyarakat yang dibina menjadi toko tani agar harga beras bisa stabil dan untuk mengantisipasi lonjakan harga beras. Mereka akan kita bina terus agar ada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan," jelas Andi Asman Sulaiman.

H Andi Asman Sulaiman juga menjelaskan bahwa saat ini ia berusaha untuk meningkatkan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM)/TTI guna menghidupkan dan menggairahkan kembali potensi pentingnya TTI.

Menurutnya, harga yang tinggi di tingkat konsumen tidak menjamin petani (produsen) mendapatkan harga yang layak, sehingga diperlukan keseimbangan harga yang saling menguntungkan, baik di tingkat produsen maupun tingkat konsumen.

Lanjutnya, harga dan pasokan pangan merupakan indikator-indikator strategis yang saling terkait dan sering digunakan untuk mengetahui, status distribusi pangan, permasalahan yang disebabkan oleh rantai distribusi pangan dan ketidakcukupan pasokan pangan di suatu wilayah.

Permasalahan utama yang terjadi selama ini adalah tingginya disparitas harga antara produsen dan konsumen yang mengakibatkan keuntungan tidak proporsional antara pelaku usaha.

Harga yang tinggi di tingkat konsumen tidak menjamin petani (produsen) mendapatkan harga yang layak, sehingga diperlukan keseimbangan harga yang saling menguntungkan, baik di tingkat produsen maupun tingkat konsumen.

"Hal itu semua yang mendorong saya melakukan terobosan melalui kegiatan PUPM dan TTIC. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan pokok strategis dan efisiensi rantai distribusi pemasaran dengan memperpendek rantai pasok," tutur H Andi Asman Sulaiman.

Lebih lanjut H Andi Asman Sulaiman menjelaskan bahwa kehadiran TTIC untuk memotong rantai pasokan harga terlalu tinggi sehingga tengkulak tidak seenaknya memainkan harga yang notabene merugikan masyarakat.

Ia juga memberikan contoh, sayur yang beredar di pasar tradisional Kabupaten Bone saat ini adalah sebagian besar berasal dari luar daerah Kabupaten Bone dan sayur tersebut belum tentu terjamin bebas dari pestisida atau bahan zat kimia lainnya misalnya karena tidak dilaksanakan pemeriksaan sebelum dipasarkan.

"Olehnya itu, saya mengajak masyarakat agar menanam sendiri dan hasilnya akan kita lakukan residu langsug di lapangan sebelum dipasarkan sehingga tidak merugikan konsumen demikian pula produsen atau penyedia," ujarnya.

Maka saat ini pihaknya (Dinas Ketapang Kabupaten Bone) gencar turun ke pelosok-pelosok desa dengan menyerukan dan mengajak masyarakat menanam sendiri melalui program Pekarangan Pakan Lestari (P2L) sambil membagikan bantuan benih sayur dan bibit tumbuh cabe.

Ia juga menjelaskan, mengapa program P2L selalu gagal. Hal itu katanya diakibatkan karena pemasarannya. Makanya hasil dari program P2L akan dipasarkan melalui TTIC namun sebelumnya harus dilakukan komitmen dan kesepakatan/penandatanganan MOu.

Olehnya itu, saat ini TTIC untuk sementara baru fokus pada suplai beras yang bertujuan penyediaan distribusi cadangan pangan sehingga masyarakat bisa merasakan harga yang betul-betul terjangkau melalui usah pemerintah untuk hadir melalui penggilingan.

"Saat ini kita sudah membina 16 penggilingan dari 123 penggilingan padi yang ada di Kabupaten Bone. Makanya kita berharap agar setiap kecamatan harus memiliki PUPM," tambah H Andi Asman.

Ia juga menyebutkan bahwa salah satu tugas dan tujuan dari TTIC adalah menyakurkan PUPM beras dari bulog dengan tidak ada keuntungan sehingga harga terjangkau sehingga dalam waktu dekat ini Dinas Ketapang Kabupaten Bone akan mengundang 34 kios untuk penandatanganan kesepakatan/MOu dengan bulog dan Dinas Ketapang Kabupaten Bone.

Selain itu, ia juga berencana selain distribusi beras akan melakukan pula distribusi bawang putih dan merah, tepung terigu, minyak goreng, gula pasir, dan sejumlah jenis sayuran serta cabe.

"Mudah mudahan kedepannya bawang juga bisa disubsidi seperti beras. Saya juga berharap Pemerintah dapat melakukan subsidi pada sayuran dengan membantu modal dan biaya operasional," ujarnya..

"Saya juga memprogram sasaran kedepannya hanya melayani golongan ekonomi menengah ke bawah dan semoga semua jenis komoditi pangan strategis lainnya bs mendapatkan program melalui PUPM ini," harapnya.

Adik kandung mantan Menteri Pertanian ini juga mengajak masyarakat agar tetap produktif apalagi di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 ini

"Kami mengajak dan menghimbau masyarakat agar tetap produktif apalagi di era pendemi covid ini, kita harus siap masa transisi pemulihan ekonomi. Kita harus mengupayakan produktif dalam keluarga dan bila perlu dapat hasil," pungkasnya. (Rasul)

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Begini Motivasi Kadis Ketapang Bone Menghidupkan dan Menggairahkan Kembali Potensi Pentingnya TTI

Terkini

Iklan