ads

01 June, 2019

Keberadaan dan Kewenangan Denpom di Pelabuhan Bajoe Dipertanyakan Oleh Wartawan

Keberadaan dan Kewenangan Denpom di Pelabuhan Bajoe Dipertanyakan Oleh Wartawan
banner 336x280

RAKYATSATU.COM, BONE - Keberadaan Detasemen Polisi Militer (Denpom) di pelabuhan Bajoe Kabupaten Bone, mulai dipertanyakan, khususnya para wartawan.



Pasalnya, pada tanggal 23 April 2019, pada saat Zulkifli (wartawan Trans 7) bersama Justang (wartawan Tribun Timur) diteriaki dan dihadang oleh okmum anggota Denpom yang berpangkat Kopral Satu (Koptu).



Kejadian tersebut diketahui awak media sepekan pasca terjadinya permasalahan yang dialami oleh Zulkifli dan Justang lewat rekaman video.



"Saat itu saya mau liputan arus mudik dan saya melintas tanpa berhenti karena ada sejumlah pengendara motor yang juga lewat tanpa berhenti dan tidak dihentikan. Tiba-tiba saya diteriaki oleh oknum POM yang ada di palang dekat pos penjualan tiket," ujar Zukifli 


" Lalu oknum POM tersebut mengatakan dengan suara yang keras, kenapa lewat begitu saja tanpa minta izin . Itu sama halnya tidak menghormati saya," sambung Zulkifli, ke Rakyatsatu.com, saat ditemui di Cafe Kusuka, Jl Merdeka, Jumat (30/05/2019) kemarin.



Hal senada diungkapkan Justang. Bahkan Justang menilai, tindakan oknum POM terhadapnya sangat berlebihan dan terkesan 'premanisme' karena diteriaki dengan suara yang sangat keras sementara banyak pengendara motor lainnya lewat begitu saja yang diduga calo tiket pelabuhan.



"Oknum POM tersebut mengatakan ke kami, untuk masuk di sini harus minta izin dan yang lewat itu saya sudah kenal," ujar Justang menirukan perkataan oknum POM yang berpangkat Koptu tersebut.



Atas kejadian tersebut sejumlah awak media mendatangi markas Denpom Bone dan pelabuhan Bajoe untuk mempertanyakan kewenangan POM di pelabuhan tersebut.


Namun sangat disayangkan, karena sampai berita ini dikirim, belum ada tanggapan dari Dandempon dan Manager ASDP Pelabuhan Bajoe, padahal keduanya telah dikonfirmasi lewat pesan WhatsApp (WA).


“Itu hari saya sudah lewat tapi dikejar sama anggotanya, katanya dipanggil komandan. Dia bilang kalau lewat harus izin dulu, jangan main lewat saja” tutur Zulkifli.


Demi mengetahui kejelasan tugas dan wewenang anggota POM yang berjaga, sejumlah awak media mendatangi kantor ASDP, Jumat (31/5/19) malam. Sayangnya, baik Kepala maupun GM ASDP tidak berada di tempat.



Dua orang pegawai ASDP, Jarya dan Azis sempat memberikan penjelasan terkait ditugaskannya anggota POM di palang, yang notabene untuk mengantisipasi jika ada anggota TNI yang berulah di pelabuhan.


“Sebenarnya tidak ada arahan atau tugasnya POM untuk mencegat, mungkin dikiranya bapak mau menyeberang, TNI mengarahkan ke petugas loket” terang Azis.


Kesan TNI yang seolah dijadikan “petugas palang” semakin kuat saat Azis mengakui kalau tidak ada petugas ASDP yang ditempatkan di palang pelabuhan, hanya dibagian loket.


“ASDP kan di dalam, masa mau keluar lagi. Sama halnya rumah, kalau masuk harus ketuk pintu dulu, saya misalnya ambil pekerja, suruh jaga” kata Azis mengibaratkan tugas dan keberadaan POM tersebut.


Usai memberikan sedikit keterangan, kedua pegawai ASDP tersebut menyadari bahwa segala hal yang berkaitan dengan MoU maupun SOP penugasan TNI, hanya bisa dijelaskan langsung oleh pimpinan mereka.


“Datang saja besok atau hubungi nomor HPnya” kata Azis. (Rasul)


Don't Miss

News Feed