Tutup Usia, Aktor Berdarah Toraja Ini Mendukakan Hati Masyarakat Toraja

Tutup Usia, Aktor Berdarah Toraja Ini Mendukakan Hati Masyarakat Toraja
RAKYATSATU.COM, TORAJA - Aktor berdarah Toraja, Tino Saroengallo, tutup usia di umur 60 tahun, Jumat (27/7).

Alm. Tino yang terkenal sebagai produser film dan penulis Indonesia ini, merupakan anak dari Renda Sarungallo dan LWJ Langendoen.

Kehidupannya yang diawali sebagai salesman inilah yang menjadi bekal utamanya melangkah ketika mengawali karier di bidang jurnalistik dan tanpa malu menyapa calon responden seperti halnya menyapa calon pembeli.

Sejak 1987 berkecimpung di beragam profesi berkaitan dengan media. Mulai dari reporter di tabloid dwi-mingguan “Mutiara”, majalah berita dwi-mingguan “X’tra”, majalah berita bergambar “Jakarta-Jakarta".

Di dunia film dokumenter, Alm.Toni pernah memproduksi sebuah film dokumenter sejarah politik Indonesia berjudul “Student Movement in Indonesia: they forced them to be violent” yang mendapatkan penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik dalam Asia Pacific Film Festival ke-47 di Seoul pada bulan Oktober 2002 dan Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Indonesia di Jakarta pada tahun 2004.

Salah satu dampak dari kemenangan Alm. Toni adalah seringkali diundang menjadi juri festival film dokumenter seperti Festival Film Indonesia ataupun Eagle Awards Documentary Competition di Metro TV.

Ia juga banyak terlibat dalam pembuatan film dokumenter televisi tentang Indonesia maupun peliputan berita stasiun televisi ARD-TV Jerman di Indonesia. Bila jadwal memungkinkan, sampai sekarang ia masih mendampingi peliputan ARD-TV di Indonesia sebagai fixer.

Selain tulisan reportasenya yang pernah dimuat di berbagai media antara tahun 1986 – 1994, ia juga sudah menghasilkan dua buah buku yaitu “Ayah Anak Beda Warna! Anak Toraja Kota Menggugat” (Penerbit Tembi, 2008) dan “Dongeng Sebuah Produksi Film” (Penerbit Intisari, 2008).

Keduanya sudah diterbitkan ulang. Buku “Dongeng Produksi Film Dokumenter (Asing) di Indonesia” ini adalah buku ketiganya yang diterbitkan FFTV-IKJ Press pada 2015, buku pertama dari trilogi “Dongeng Produksi Film (Asing) di Indonesia.

Di samping menikmati profesi barunya sebagai aktivis facebook, pada awal November 2011 merilis film dokumenter tentang upacara pemakaman di Tana Toraja berjudul “Hidup Untuk Mati” (They Love to Die). Hasil kerjasama dengan sutradara/produser senior Gary Hayes, guru sekaligus rekan kerjanya sejak tahun 1993 sampai sekarang.

Pada 21 Mei 2013 ia merilis film dokumenter berjudul "Setelah 15 Tahun..." yang bisa dibilang merupakan sekuel dari film "Student Movement in Indonesia: The Army Forced Them To Be Violent".

Sebuah film dokumenter masih dalam tahap pasca produksi, berjudul "She Deserved It", dan berkolaborasi dengan aktor senior Tio Pakusadewo dalam "Pantja-sila: Cita-cita & Realita", serta memproduseri karya Ismail Fahmi Lubis untuk film "Tarling Is Darling". Ketiga film ini akan ditayangkan pada tahun 2016. (Kris)
loading...
close
Rakyatsatu