Iklan

Iklan

Pidato Menag Nasaruddin Umar di Italia Tuai Dukungan Pemimpin Agama Dunia

27 Oktober 2026, 7:40 PM WIB Last Updated 2026-10-27T11:40:51Z

Menteri Agama Republik Indonesia  Nasaruddin Umar,








RAKYATSATU.COM, ASSISI, ITALIA - Gagasan Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar, tentang pentingnya menerjemahkan dialog antaragama menjadi aksi kemanusiaan nyata mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin agama dunia.


Gagasan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio di Assisi, Italia, Selasa (27/10/2026). Dalam forum internasional itu, ia mengajak para pemimpin agama dan dunia mengubah pendekatan diplomasi perdamaian agar tidak berhenti pada pernyataan bersama, tetapi diwujudkan melalui tindakan konkret yang dirasakan langsung masyarakat.


Berbicara dalam sidang pembukaan tingkat tinggi bertajuk Opening Assembly – Unarmed and Disarming Peace, Nasaruddin menekankan bahwa dialog lintas agama harus menghasilkan langkah nyata untuk mengatasi persoalan kemanusiaan, memperkuat solidaritas sosial, dan menjaga kelestarian lingkungan.


Menurutnya, perdamaian yang berkelanjutan tidak cukup dibangun melalui pertemuan formal, deklarasi, maupun kesepakatan tertulis. Perdamaian harus hadir dalam kehidupan sehari-hari melalui kerja sama yang mampu mengurangi penderitaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


“Dialog antaragama tidak boleh berhenti pada deklarasi bersama formal, tanda tangan, atau perjanjian di atas kertas,” tegas Nasaruddin dalam forum tersebut.


Ia menambahkan, dialog perlu ditransformasikan menjadi aksi nyata, termasuk gerakan pelestarian lingkungan yang dapat meringankan beban masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.


Dorong Diplomasi Agama Lebih Strategis


Dalam pidatonya, Nasaruddin juga mendorong agar nilai-nilai agama mendapat ruang lebih besar dalam diplomasi internasional. Menurutnya, pendekatan spiritual dapat menjadi jembatan untuk meredakan permusuhan dan membangun kepercayaan ketika jalur politik maupun pendekatan konvensional lainnya menghadapi kebuntuan.


Ia menilai agama memiliki potensi besar untuk memperkuat solidaritas kemanusiaan, melampaui perbedaan identitas, keyakinan, dan kepentingan politik.


Indonesia, kata Nasaruddin, memiliki pengalaman dalam mengelola keberagaman melalui praktik kehidupan yang harmonis atau living harmony. Pengalaman tersebut dapat menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya yang berbeda dapat hidup berdampingan.


Pendekatan ini sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam mendorong moderasi beragama atau wasathiyah Islam, serta membangun hubungan yang lebih inklusif di tingkat internasional.


Didukung Tokoh Agama Internasional


Gagasan Nasaruddin mendapat sambutan dari sejumlah tokoh agama yang hadir dalam pertemuan tersebut.


Kardinal Matteo Zuppi, Ketua Konferensi Waligereja Italia, mendukung pentingnya mengatasi pola pikir yang kaku dan agresif dalam membangun perdamaian. Ia menekankan peran institusi keagamaan dalam meredakan permusuhan dan memperjuangkan martabat manusia tanpa dibatasi sekat negara.


Dukungan serupa disampaikan Rabi Agung Prancis, Haïm Korsia. Ia menyoroti pentingnya melampaui kegiatan seremonial dengan memperkuat kerja sama nyata antartokoh agama, terutama melalui proyek-proyek kemanusiaan di tingkat lokal.


Kerja sama semacam itu dinilai dapat membangun fondasi perdamaian yang lebih kuat karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan hanya bergantung pada kesepakatan politik.


Sejumlah delegasi Kristen Ortodoks Timur dan gerakan ekumenis juga menyambut pengalaman Indonesia dalam merawat pluralisme. Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah Deklarasi Istiqlal 2024, yang ditandatangani Nasaruddin Umar bersama Paus Fransiskus di Jakarta.


Deklarasi tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat persaudaraan lintas agama dan menegaskan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus berujung pada konflik.


Melanjutkan Semangat Assisi


Pertemuan internasional di Assisi turut menegaskan kembali pentingnya semangat perdamaian yang telah dibangun melalui pertemuan lintas agama sejak 1986.


Semangat tersebut diharapkan terus dikembangkan menjadi kerja sama yang lebih konkret, terutama dalam bidang kemanusiaan, pelestarian lingkungan, dan pencegahan konflik.


Bagi Indonesia, partisipasi Nasaruddin dalam forum tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan pengalaman hidup dalam keberagaman sekaligus mendorong diplomasi agama yang berorientasi pada hasil nyata.


Pesan yang mengemuka dari pertemuan itu adalah bahwa perdamaian dunia tidak cukup dibangun melalui kata-kata dan kesepakatan formal. Perdamaian membutuhkan komitmen bersama yang diwujudkan dalam tindakan, sehingga nilai-nilai agama benar-benar menjadi kekuatan untuk menjaga martabat manusia dan menciptakan kehidupan yang lebih harmonis. (Ikhlas/arul) 

Komentar

Tampilkan

  • Pidato Menag Nasaruddin Umar di Italia Tuai Dukungan Pemimpin Agama Dunia
  • 0

Terkini

Iklan