Iklan

Iklan

Meracik Asa dari Rempah Pangkep, Perjalanan Herbamira Bangkit Bersama Semen Tonasa

30 Oktober 2026, 8:39 PM WIB Last Updated 2026-10-30T12:39:28Z
Owner Herbamira, Sahriuni Syam. (Ist)


Pernah menghadapi penjualan yang tidak menentu, keterbatasan modal, hingga nyaris menyerah, Sahriuni Syam memilih bertahan dan belajar dari setiap kegagalan. Kini, Herbamira terus bertumbuh melalui inovasi produk, peningkatan pengelolaan usaha, serta pendampingan PT Semen Tonasa. Omzet dilaporkan meningkat hingga 70 persen, sementara jaringan pemasaran dan jumlah pelanggan terus berkembang.

Membangun usaha bukan sekadar tentang menghasilkan produk dan menjualnya kepada konsumen. Ada proses panjang untuk menjaga kepercayaan pelanggan, memperbaiki kualitas, dan memastikan usaha yang dirintisnya tetap bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

Sahriuni – Owner Herbamira memahami betul bagaimana rasanya menghadapi penjualan yang tidak menentu. Keterbatasan modal dan peralatan juga menjadi tantangan tersendiri bagi Herbamira, usaha minuman berbahan rempah yang dibangunnya di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Tantangan lainnya adalah memperkenalkan minuman herbal kepada konsumen yang lebih luas, terutama generasi muda. Produk berbahan rempah tidak cukup hanya mengandalkan manfaat dan bahan alami. Rasa, kemasan, harga, serta cara pemasaran turut menentukan apakah produk tersebut dapat diterima dan menjadi pilihan konsumen.

Sahriuni pun belajar dari pengalaman. Ia mengevaluasi produk, memperbaiki cita rasa dan kemasan, menyesuaikan harga, serta membenahi pemasaran dan pengelolaan keuangan. Dukungan keluarga, pelanggan, dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting yang membuatnya terus melangkah ketika usaha belum berjalan sesuai harapan.

Herbamira mulai dirintis pada 2021, ketika pandemi COVID-19 mendorong meningkatnya perhatian masyarakat terhadap minuman berbahan herbal. Saat itu, Sahriuni memulai usahanya dengan memproduksi jahe merah dalam bentuk serbuk.

“Kenapa? Karena pada saat COVID itu kebutuhan akan minuman herbal meningkat, apalagi yang namanya jahe merah,” ungkap Sahriuni.

Dari produk awal tersebut, Herbamira perlahan mengembangkan variasi minuman berbahan rempah. Kini, produknya mencakup 15 varian minuman serbuk, lima varian teh celup, serta sejumlah minuman herbal dalam kemasan botol.

Owner Hebamira bersama Tim TJSL PT Semen Tonasa saat penerimaan sertifikat pelatihan.


Beberapa produk yang ditawarkan antara lain Sarabba Alosi berbahan pinang muda dan Kunyit Special. Ragam produk itu menjadi bagian dari upaya Herbamira menghadirkan olahan rempah dengan pilihan yang lebih beragam bagi konsumen.

Di balik setiap produk, terdapat proses pengolahan melalui ekstraksi dan kristalisasi. Sahriuni juga menerapkan prosedur operasional standar (SOP) untuk menjaga kebersihan, konsistensi mutu, dan keamanan produk.

Bagi perempuan berusia 39 tahun itu, menjaga kualitas menjadi keharusan jika Herbamira ingin tumbuh lebih jauh. Namun, kualitas produk saja belum cukup. Usaha juga membutuhkan pengelolaan yang baik, akses pasar, dan dukungan sarana produksi agar dapat berkembang secara berkelanjutan.

Pendampingan yang Mengubah Cara Mengelola Usaha

Peluang pengembangan Herbamira mulai terbuka lebih luas ketika PT Semen Tonasa mengenal usaha tersebut melalui pameran peringatan hari ulang tahun perusahaan pada 2023. Setelah mengumpulkan data dan melakukan kunjungan ke lokasi usaha, perusahaan kemudian menjadikan Herbamira sebagai mitra pada Mei 2025 melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL).

Pendampingan itu membuka akses pemasaran yang sebelumnya sulit dijangkau. Produk Herbamira mendapat kesempatan dipasarkan melalui Kopmart, koperasi karyawan PT Semen Tonasa, serta diperkenalkan dalam sejumlah kegiatan perusahaan, termasuk Fun Walk dalam rangka peringatan hari ulang tahun PT Semen Tonasa.

Produk Herbamira juga pernah ditampilkan di stan PT Semen Tonasa pada peringatan HUT Sulawesi Selatan 2025 di Monumen Mandala, Makassar. Kehadiran dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk kepada konsumen baru sekaligus memperluas jangkauan promosi.

Dampaknya terlihat pada perkembangan usaha. Sahriuni menyebut omzet Herbamira meningkat hingga 70 persen setelah memperoleh pendampingan dan dukungan pemasaran dari PT Semen Tonasa. Ia tidak merinci nominal omzet, tetapi menyampaikan kenaikan tersebut secara keseluruhan.

Dari sisi produksi, Herbamira mampu menghasilkan produk dalam jumlah puluhan. Sementara itu, jumlah pelanggan terus bertambah seiring promosi yang dilakukan. Pelanggan tetap masih bertahan, sedangkan pelanggan baru semakin banyak mengenal produk Herbamira.

“Pemasaran lebih luas karena kami diberi kesempatan untuk memasukkan produk di Kopmart (koperasi karyawan PT Semen Tonasa), diikutkan event yang dilakukan oleh PT Semen Tonasa seperti event Fun Walk HUT PT Semen Tonasa baru-baru ini, dan yang paling kelihatan juga adalah manajemen usaha kami yang lebih rapi, lebih baik dari sebelumnya,” ungkapnya.

Perubahan yang dirasakan bukan hanya soal penjualan. Sahriuni menilai pendampingan turut membantu menata pengelolaan usaha agar lebih terarah. Pembenahan manajemen menjadi modal penting untuk menghadapi permintaan pasar dan mengembangkan bisnis secara bertahap.

Saat ini, Herbamira memanfaatkan Facebook dan Instagram untuk memperkenalkan produknya. Jaringan distribusinya juga mulai menjangkau sejumlah wilayah, dengan lima mitra di Pangkep, dua di Maros, dan delapan di Makassar.

Peluang pasar lain masih terus dijajaki. Herbamira tengah mengikuti proses kurasi untuk menjajaki kerja sama dengan tiga supermarket di Makassar. Kerja sama tersebut belum dapat dipastikan karena masih berada dalam tahap seleksi.

Bagi usaha berskala kecil, kesempatan menjangkau pasar yang lebih luas dapat menjadi pintu masuk menuju pertumbuhan berikutnya. Namun, peluang itu perlu disertai kesiapan produksi, kualitas yang konsisten, kemasan yang memadai, dan administrasi usaha yang tertata.

Senior Manager TJSL PT Semen Tonasa, Abbas, menjelaskan bahwa pendampingan UMKM dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan masing-masing usaha.

“Kalau ada kekurangan, kita lihat apa yang dibutuhkan. Apakah legalitasnya, peralatannya, proses produksinya, atau pendampingan, ya kita bantu,” kata Abbas.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari Program UMK Naik Kelas PT Semen Tonasa. Program ini memiliki empat tahapan pembinaan, mulai dari identifikasi legalitas usaha, penguatan keberlanjutan operasional, pengembangan usaha agar mampu menjual produk ke pasar nasional, hingga persiapan memasuki pasar ekspor.

Dukungan itu, lanjut dia, dapat disesuaikan dengan kebutuhan UMKM, termasuk pengurusan legalitas, perbaikan kemasan, promosi, penyediaan peralatan, dan pendampingan. Kolaborasi dengan berbagai pihak juga dapat membantu pelaku usaha meningkatkan desain produk, pemasaran, sistem pembayaran digital, serta kesiapan ruang produksi.

Herbamira sendiri telah lolos kurasi untuk mengikuti Program Pembinaan Segmen II UMK Naik Kelas 2026 PT Semen Tonasa. Pencapaian ini menjadi kesempatan bagi Sahriuni untuk melanjutkan pembenahan usaha sekaligus mempersiapkan Herbamira menghadapi tuntutan pasar yang lebih besar.

Rempah Lokal, Manfaat bagi Sekitar

Pertumbuhan Herbamira juga berkaitan dengan potensi bahan baku di daerahnya. Sekitar 70 persen bahan yang digunakan, seperti jahe, kunyit, serai, dan rempah lainnya, diperoleh dari pemasok lokal serta Pasar Sentral Pangkep.

Penggunaan bahan baku lokal membuat aktivitas produksi Herbamira terhubung dengan rantai pasok di sekitarnya. Ketika kebutuhan produksi berjalan, pemasok lokal turut memiliki peran dalam menyediakan bahan yang diperlukan.

Selain itu, usaha ini telah melibatkan tiga pekerja lokal. Meski skalanya masih terbatas, keberadaan tenaga kerja tersebut menunjukkan bahwa perkembangan UMKM tidak hanya berkaitan dengan pemilik usaha, tetapi juga dapat membuka ruang keterlibatan masyarakat di lingkungan sekitar.

Herbamira juga berupaya memperkuat fondasi legalitasnya. Sejumlah dokumen yang telah dimiliki meliputi Nomor Induk Berusaha (NIB), izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Sementara itu, sertifikat halal dan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) masih dalam proses.

Kesiapan ruang produksi menjadi salah satu pekerjaan yang perlu dituntaskan untuk memenuhi persyaratan yang dibutuhkan. “Kendalanya itu rumah produksi khusus dan mesin peralatan masih kurang memadai,” imbuhnya.

Di sisi lain, ia terus berupaya memperbaiki kemasan dan memperluas pemasaran digital. Langkah tersebut penting agar produk berbahan rempah dapat menjangkau konsumen yang lebih beragam, termasuk mereka yang belum terbiasa mengonsumsi minuman herbal.

Upaya mengenalkan rempah dengan cara yang lebih dekat kepada masyarakat juga diwujudkan melalui kedai jamu berkonsep angkringan yang dibangunnya. Sahriuni menyebut kedai tersebut sebagai kedai jamu pertama di Pangkep. Melalui konsep ini, ia ingin menghadirkan pengalaman menikmati jamu yang lebih santai dan menarik bagi pelanggan.

Bagi Sahriuni, pengembangan Herbamira belum berhenti pada bertambahnya varian produk atau meluasnya jaringan pemasaran. Ia masih ingin memperkuat proses produksi, melengkapi persyaratan legalitas, dan membangun kemampuan pemasaran agar produknya mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Saya ingin Herbamira terus berkembang, produknya semakin dikenal, dan bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Harapannya, rempah-rempah dari Pangkep bukan hanya dimanfaatkan di daerah sendiri, tetapi juga bisa dikenal di luar daerah, bahkan sampai ke pasar yang lebih besar,” harapnya.

Harapan itu terangkum dalam semangat yang ingin terus dibawanya: Dari Pangkep hingga Mendunia. 

Laporan: Amin Rais
Komentar

Tampilkan

  • Meracik Asa dari Rempah Pangkep, Perjalanan Herbamira Bangkit Bersama Semen Tonasa
  • 0

Terkini

Iklan