Iklan

Iklan

Guru dan Kepala Sekolah di Maros Bedah Hambatan Pembelajaran Mendalam

06 September 2026, 2:47 PM WIB Last Updated 2026-09-06T06:48:06Z

Pengawas Pendidikan Maros saat Evaluasi Pembelajaran Mendalam







RAKYATSATU.COM, MAROS - Sejumlah pengawas, kepala sekolah, dan guru di Kabupaten Maros menggelar pertemuan evaluasi dan refleksi pembelajaran di Tappawita, Kecamatan Tompobulu. Forum tersebut membahas perkembangan penerapan Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning serta program digitalisasi di sejumlah sekolah.


Pertemuan ini menjadi ruang bagi sekolah untuk memaparkan capaian sekaligus persoalan yang mereka hadapi dalam menerapkan transformasi pembelajaran.


Pengawas pendidikan, Dr. Jabaruddin, mengatakan perubahan kualitas pendidikan harus dimulai dari kemampuan guru mengevaluasi proses belajar-mengajar yang telah dilakukan di kelas.


Menurut dia, refleksi tidak sekadar menjadi kegiatan administratif, melainkan fondasi bagi guru untuk memperbaiki metode pembelajaran.


“Guru hebat berawal dari kebiasaan merefleksikan proses mengajarnya di kelas. Evaluasi mandiri secara berkala menjadi salah satu kunci keberhasilan transformasi pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik,” kata Jabaruddin di hadapan para kepala sekolah.


Dalam forum tersebut, sejumlah sekolah menyampaikan perkembangan program masing-masing. SMP Negeri 21 Tompobulu dan SMP Negeri 19 Moncongloe, misalnya, tengah menyusun jadwal penggunaan Perangkat Informasi dan Digital atau PID.


Sementara SMP Negeri 14 Tanralili memaparkan pengelolaan bantuan operasional sekolah dan pelaksanaan bimbingan teknis digitalisasi. Adapun SMP Negeri 6 menekankan pentingnya perubahan peran guru menjadi fasilitator yang mampu menghadirkan pembelajaran bermakna bagi siswa.


Kendala berbeda dihadapi SMP Satu Atap 35 Hombes. Sekolah tersebut tetap berupaya mengoptimalkan penggunaan perangkat digital meski belum menerima dukungan program Boskin.


SMP Idrisiyah Attabbua juga mengakui masih terus mempelajari dan memahami konsep Pembelajaran Mendalam. Pengalaman serupa disampaikan perwakilan SMP Batu Lotong, SMP PGRI 7, dan SMP Lekopancing.


Dari hasil refleksi bersama, Jabaruddin menyimpulkan persoalan utama yang dihadapi sejumlah sekolah bukan terletak pada penyusunan rencana pembelajaran.


“Perencanaannya sudah bagus, tetapi belum maksimal ketika dieksekusi di dalam kelas,” ujar Jabaruddin.


Sementara itu, Dahlan mengingatkan para guru agar memastikan kesesuaian antara perencanaan pembelajaran dengan praktik yang berlangsung di ruang kelas.


Ia mengatakan pengawasan akademik ke depan tidak hanya bertumpu pada pihak luar. Kepala sekolah diminta membentuk tim internal untuk menjalankan supervisi akademik di masing-masing satuan pendidikan.


Dahlan juga mengajak seluruh unsur pendidikan untuk membiasakan penerapan tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, tidak hanya kepada peserta didik, tetapi juga kepada guru dan orang tua.


“Kita harus konsisten melatihkan tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, mulai dari diri sendiri, orang tua, hingga siswa,” kata Dahlan.


Pertemuan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi sekolah-sekolah di Maros untuk memperkuat penerapan Pembelajaran Mendalam dan mempercepat transformasi digital dalam proses pendidikan. (Ikhlas/arul) 

Komentar

Tampilkan

  • Guru dan Kepala Sekolah di Maros Bedah Hambatan Pembelajaran Mendalam
  • 0

Terkini

Iklan