Iklan

Iklan

Ada Penyusup di Bantimurung Bulusaraung: Kemenhut Gelar Operasi Senyap Sampai 2027

04 September 2026, 4:32 PM WIB Last Updated 2026-09-04T08:32:09Z

Sebelah kiri Kepala balai taman nasional bantimurung bulusaraung bersama sebelah kanan direktur konservasi dan spesies genetik kementerian kehutanan republik Indonesia Ahmad Munawir








RAKYATSATU.COM, MAKASSAR - Kementerian Kehutanan resmi memulai proyek Strengthening Capacity for Management of Invasive Alien Species in Indonesia atau SMIAS di Makassar, Sulawesi Selatan. Sasaran pertamanya: membendung invasi tumbuhan asing yang telah menguasai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.


Proyek ini menjadi jawaban atas ancaman Jenis Asing Invasif (Invasive Alien Species/IAS) yang selama ini menggerogoti kawasan konservasi. Untuk Sulawesi Selatan, fokusnya jatuh di TN Bantimurung Bulusaraung atau TN Babul, taman nasional seluas 43.750 hektare yang juga menjadi inti dari UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep.


Direktur Konservasi dan Spesies Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir, mengatakan target utama di TN Babul adalah Spathodea campanulata.


"Tumbuhan asal Afrika Barat dan Tengah ini bersifat invasif dan bukan merupakan spesies asli Indonesia," kata Munawir saat peluncuran di Makassar.


Spathodea, yang dikenal dengan bunga oranye menyala, terlihat indah. Namun di balik itu, ia adalah penguasa yang rakus. Sifatnya yang mendominasi membuat tumbuhan asli tersingkir. Dampaknya berantai.


Munawir menjelaskan, hilangnya tumbuhan pakan asli memukul satwa endemik Sulawesi. Monyet moor atau Macaca maura, tarsius, hingga burung rangkong kehilangan sumber biji-bijian di dalam hutan.


"Tumbuhan ini sangat berdampak pada wilayah TN Bantimurung Bulusaraung, utamanya pada ekosistem flora dan fauna seperti Macaca maura karena sudah tidak mendapatkan biji-bijian di hutan, akhirnya mereka ke pinggir jalan," ujarnya.


Fenomena monyet moor yang turun ke jalan di sekitar Bantimurung selama ini diduga kuat akibat terdesaknya habitat pakan oleh Spathodea.


Proyek SMIAS didanai oleh Global Environment Facility (GEF) dan dilaksanakan bersama Food and Agriculture Organization (FAO) sebagai implementing agency. Peluncurannya dihadiri Pemerintah Kabupaten Maros, BRIN, akademisi Universitas Hasanuddin, serta jajaran Balai TN Bantimurung Bulusaraung.


Makassar bukan satu-satunya lokasi. Proyek serupa juga berjalan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, dengan spesies invasif yang berbeda. Kerja sama ini dijadwalkan berlangsung hingga akhir 2027, dengan opsi perpanjangan berdasarkan evaluasi lapangan.


Bagi Kemenhut, ini bukan sekadar proyek menebang pohon asing. Ini upaya mengembalikan rantai makanan yang terputus di salah satu kawasan karst tertua di dunia. (Ikhlas/arul) 
Komentar

Tampilkan

  • Ada Penyusup di Bantimurung Bulusaraung: Kemenhut Gelar Operasi Senyap Sampai 2027
  • 0

Terkini

Iklan