Iklan

Iklan

Rahasia Program Sipakatau, Inovasi Maros yang Bikin Temuan Kasus TB Melonjak

24 Juni 2026, 7:42 PM WIB Last Updated 2026-08-31T11:42:57Z

Bupati Maros AS Chaidir Syam usai memaparkan capaian program Sipakatau di Tribun Network di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.







RAKYATSATU.COM, JAKARTA – Bupati Maros AS Chaidir Syam memaparkan capaian program Sipakatau yang diklaim mampu meningkatkan penemuan kasus tuberkulosis (TB) di Kabupaten Maros. Paparan itu disampaikan dalam ajang penghargaan Tribun Network di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.


Chaidir mengatakan pemerintah daerah mendorong lahirnya inovasi yang memberi dampak langsung bagi masyarakat, terutama di bidang kesehatan.


"Kerja pemerintah bukan hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat," kata Chaidir.


Menurut dia, inovasi Sipakatau atau Strategi Akselerasi Pencegahan dan Penanganan Tuberkulosis lahir setelah tingginya jumlah penderita dan suspek TB di Maros. Program tersebut disusun sebagai bagian dari dukungan terhadap target nasional penanggulangan TB.


Sebagai dasar pelaksanaan, Pemerintah Kabupaten Maros menerbitkan Peraturan Bupati pada 2025. Pemerintah juga membentuk Duta Sipakatau yang melibatkan pelajar SMA di 14 kecamatan serta 103 desa dan kelurahan.


Tak hanya itu, pemerintah daerah mengajak berbagai pemangku kepentingan terlibat, termasuk pemerintah desa yang menerbitkan regulasi untuk mendukung upaya penanganan TB di wilayah masing-masing.


"Kami melibatkan seluruh stakeholder, mulai dari tingkat kabupaten hingga desa, agar penemuan kasus dapat dilakukan lebih cepat," ujar Chaidir.


Pemerintah juga mengoptimalkan peran kader posyandu dan kolaborasi lintas sektor untuk memperluas penelusuran kasus.


Hasilnya, angka penemuan suspek TB yang pada periode 2022–2024 hanya berkisar 30 persen meningkat menjadi 47,65 persen.


Chaidir menargetkan capaian tersebut terus meningkat hingga akhir tahun.


"Kami berharap penemuan kasus bisa mencapai 90 persen bahkan 100 persen sehingga pasien dapat segera ditangani dan disembuhkan," katanya.


Meski program telah berjalan hampir dua tahun, Chaidir mengakui stigma masyarakat masih menjadi tantangan utama. Banyak warga enggan memeriksakan diri karena malu atau menganggap gejala yang dialami hanya batuk biasa.


Untuk mengatasi persoalan itu, pemerintah menyediakan ruang pemeriksaan khusus bagi warga yang memiliki gejala TB agar privasi mereka tetap terjaga.


"Kami membuat pojok layanan tersendiri sehingga masyarakat lebih nyaman menjalani pemeriksaan," ujarnya.


Selain kesehatan, Chaidir mengatakan sektor pendidikan tetap menjadi prioritas pemerintah daerah. Menurut dia, alokasi anggaran untuk kesehatan dan pendidikan terus diperkuat, sementara pembangunan infrastruktur dasar tetap berjalan sesuai kebutuhan. (Ikhlas/Arul) 

Komentar

Tampilkan

  • Rahasia Program Sipakatau, Inovasi Maros yang Bikin Temuan Kasus TB Melonjak
  • 0

Terkini

Iklan