Saya ingin melanjutkan pembahasan tentang ciri orang yang tidak selesai dengan dirinya. Seiring dengan banyaknya respons tentang topik ini, saya ingin menegaskan bahwa menguraikan esensi diri yang sudah selesai atau belum, bukan untuk memindahkan jati diri manusia menjadi Malaikat.
Pembahasan ini sekadar penggambaran pengukuran diri, apakah dalam hidup ini ada pergerakan menuju pribadi yang lebih baik dari kemarin. Apakah kita masih berkutat pada masalah-masalah kehidupan yang kalau masih menjangkiti kita secara permanen berarti itulah mungkin yang disebut sebagai orang yang belum selesai dengan dirinya.
Katanya, orang yang belum selesai dengan dirinya, konflik batinnya masih sering berkecamuk. Konflik selalu hadir karena takaran kehidupannya adalah pencapaian kesenangan, bukan ketenangan. Orang yang tidak selesai dengan dirinya, perburuan hidupnya seperti mengayuh sepeda statis, sibuk berlari tapi tidak pernah sampai. Laksana meminum air laut, makin diminum makin haus.
Pernah kena kadas, kurap, dan gatal jamur? Itu penyakit langganan saya waktu kecil. Termasuk kutu air di sela-sela jari kaki. Enak sekali saat digaruk, makin digaruk maskin asyik. Namun setelah berhenti jadinya pedas. Itulah penggambaran tentang perburuan kesenangan yang tidak pernah sampai di garis finish.
Kata orang, diri juga tidak pernah selesai saat memiliki kebiasaan suka membanding-bandingkan hidupnya dengan orang lain. Sisi hidupnya selalu dilihat pada diri orang lain. Apakah dirinya lebih sukses dari orang lain, lebih sering dihargai, lebih pintar, lebih bahagia dari yang lain. Termasuk selalu membandingkan bahwa kelengkapan ketakwaannya lebih tinggi dari orang lain, karena akesoris keberagamaannya lebih menonjol dari yang lain.
Sikap yang selalu membandingkan pasti bermasalah, karena prinsip di atas langit ada langit berlaku dalam kehidupan. Orang yang tidak selesai dengan dirinya cenderung tidak menerima kenyataan hidup seperti itu. Akhirnya yang terjadi adalah tidur yang tidak bisa nyenyak, atau makan yang tidak pernah berselera.
Orang yang tidak selesai dengan dirinya menganggap keunggulan orang lain sebagai ancaman bagi dirinya. Pencapaian orang bukan sebagai jalan berkah baginya untuk mendapatkan pertolongan bila suatu saat mengalami kesulitan.
Jadi diri yang tidak selesai tidak lebih dari persoalan cara pandang terhadap dunia. Cara pandang yang tidak bersedia untuk "menerima". Cara pandang yang tidak siap untuk "melepas." Cara pandang yang tidak rela untuk "tiada", atau cara pandang yang tidak nyaman untuk merasa "di bawah". Padahal di situlah jati diri kemanusiaan teruji, dan bunyi-bunyian hidup terokestrasi. Menyetel cara pandang itulah yang membuat hidup ini menjadi lebih hidup. Mari menyetelnya, karena saya saja belum. (Ikhlas/ Amd)