Iklan

Iklan

Bona Fide (20): TITIK HITAM Oleh:Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin Makassar)

10 Maret 2026, 4:41 AM WIB Last Updated 2026-03-09T20:41:35Z

Prof. Drs. Hamdan Juhannis, M.A., Ph.D.

Konon, ada seorang Professor Filsafat memberikan soal ujian kepada mahasiswanya. Ternyata soal ujian itu adalah kertas putih, yang berisi titik hitam kecil di tengah-tengahnya. Professor itu meminta kepada para mahasiswa untuk menjelaskan apa yang dipahami dengan kertas yang dibagikan itu. Professor itu memberi waktu satu jam untuk menjawab satu-satunya pertanyaan dalam ujian itu.

Setelah waktunya habis, Professor itu meminta semua mengumpulkan kertas jawaban dan langsung memeriksa setiap jawaban, sambil meminta mahasiswa tetap berada di dalam ruangan. Setelah Professor memeriksa semua, dia memberi komentar umum tentang jawaban dari para mahasiswanya. 

Ada yang menjawab bahwa kertas itu ibarat bumi, dan titik hitam itu adalah pusaran bumi itu sendiri. Ada juga yang menjelaskan bahwa titik hitam itu adalah "center of gravity" dari sebuah daratan yang disimbolkan oleh kertas itu.  

Ada juga yang melihatnya bahwa titik hitam adalah pertengahan dari semua sisi yang ada di dalam kertas itu. Dengan merujuk pada titik hitam itu, menjadi mudah untuk membagi ruang-ruang dalam kertas itu. 

Bahkan ada yang mencoba mengaitkan dengan perspektif teologis bahwa titik hitam itu adalah titik dosa, dan sekiranya berwarna merah itu adalah titik keberanian. Dan sejumlah penjelasan lain tentang keberadaan titik hitam di tengah kertas itu. Professor itu menyimpulkan bahwa semua jawaban mahasiswa terpusat pada keberadaan titik hitam kecil di kertas itu.

Professor itu lalu mulai berefleksi. Jawaban semua mahasiswa mewakili kebanyakan manusia dalam memandang kehidupan ini. Semua mahasiwa terfokus pada titik hitam. Padahal itu hanya titik kecil yang kebetulan berada di tengah-tengah kertas. Semua bagian lain kertas itu berwarna putih. Namun tidak ada satu-pun yang tetarik untuk menjelaskan warna putih yang mendominasi kertas itu. 

Professor itu melanjutkan refleksinya bahwa begitulah kehidupan ini terpandang oleh kebanyakan mata. Mata manusia lebih tertarik melihat hal-hal kecil yang sering tidak penting. Pikiran manusia terdoktrin untuk menguliti "semut di seberang lautan" di banding "gajah di pelupuk mata".

Banyak yang lebih tertarik untuk menggosipkan hal-hal tidak penting di banding hamparan kehidupan bermakna yang sebenarnya lebih dominan. Banyak yang lebih suka membicarakan setitik keburukan orang dibanding sebelanga kebaikannya. Tidak sedikit yang rela untuk berdesak-desakan dan sumpek pada hal receh, dan abai pada hal-hal yang lebih fundamental dalam hidup. Anda kena kan? Saya juga! 
(Ikhlas/ Amd) 
Komentar

Tampilkan

  • Bona Fide (20): TITIK HITAM Oleh:Hamdan Juhannis (Rektor UIN Alauddin Makassar)
  • 0

Terkini

Iklan