-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kemenag Soppeng dan Akademisi Beda Pendapat Soal Arti Penulisan Lontara di Baju Batik

20 Mei 2023 | 10:37 PM WIB |

Baju desain Kemenag Soppeng/ Foto : Dok. Internet

RAKYATSATU.COM, SOPPENG
- Desain baju batik terbaru milik Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Soppeng, akhir-akhir menjadi perbincangan. Pasalnya desain yang mengangkat budaya Soppeng tersebut, dianggap salah dalam pengaplikasiannya. 


Desain yang dimaksud adalah penggunaan huruf lontara yang bertuliskan "Sope Sope" yang jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia artinya "Robek Robek".


Kepala Kemenag kabupaten Soppeng, Afdal yang dikonfirmasi, Sabtu (20/5/2023), menjelaskan bahwa sebelum menciptakan desain itu pihaknya telah mengkonsultasikan terkait tulisan Lontara Soppeng. 


"Soal kata SOPPENG dalam bahasa lontara hal itu sudah benar menurut teman-teman setelah diskusi ulang sebab tidak ada ejaan "NG" dalam kamus lontara," katanya.


Lanjutnya, terkait dengan tulisan "SO" dan "PPENG" dalam bahasa lontara yang dipisah, hal ini dibuat untuk menciptakan desain berbentuk gunung, untuk menjelaskan jika Soppeng merupakan daerah perbukitan dan pegunungan.  


"Soal tulisan "SO" dan "PPENG" berpisah dalam desain baju dengan mengikuti lakukan berbentuk gunung itukan mengikuti gambar gunung karena daerah Soppeng daerah berbukit dan gunung dan itu menurut kami adalah sebuah seni agar tampak indah serta sesuai ukuran huruf dan gambar gunung agar berimbang ukuran besarnya," jelasnya. 


Menanggapi baju batik yang menjadi perbincangan di masyarakat, Akademisi sastra Bugis Makassar Universitas Hasanuddin, Prof Muhlis Hadrawi, kepada media menjelaskan bahwa penulisan huruf Lontara yang tidak serangkai dan sejajar bisa menciptakan kesalahaan pembacaan. 


"Jadi saya melihat bahwa penulisannya itu berbentuk ada dua jenis huruf, huruf "So" dan  "Pe" (dalam tulisan lontara), itu tidak ditulis serangkai, tertulis terpisah jauh dan juga tidak linier atau tidak sejajar, ada diatas dan ada dibawa mengikuti garis kemiringan, kalau dalam kaidah pembaca lontara dengan penulisan dua kata terpisah itu kata So ada diatas di bawa itu adalah pe, seandanya ditulis serangkai maka bacaan yang akan muncul itu ada 2 sope sendiri yang kedua adalah Soppeng," jelasnya. 


Masih kata dia, pada penulisan huruf tersebut juga tidak serangkai dan terpisah, kemungkinan masyarakat yang akan membacanya bisa disalah artikan kata Sope tersebut. 


"Tetapi karna dua huruf tidak serangkai dan terpisah dengan jauh, kemungkinan orang berindetifikasi hanya bunyi persuku kata jadi So dan Pe jika kita membacanya dari atas kebawa, tetapi ada hal yang lain dimuncul bukan cuma sope atau sope sope atau robek robek dalam artiannya, Jika membaca dari bawah keatas itu kita akan baca peso-peso itu kalau kita baca dari kiri kekanan atas maka peso bisa diartikan lumpuh, desain itu memang resisten terhadap penciptaan kesalahan pembacaan," katanya


Terkait hal itu, Ia mengharapkan pihak Kemenag mengkonsultasikan hal itu kepada pakar budaya dan bahasa Bugis. 


"Dia (Kemenag,-red) sudah konsultasikan terkait hal tersebut, tapikan dia konsulatiasikan kepada siapa, harus di konsultasikan ke pakar budaya dan pakar bahasa bugis," tutupnya. [Ikhlas/Yudha]

×
Berita Terbaru Update