-->

Iklan

Iklan

Pembangunan Musala di Lokasi Wisata Cempalagi Mulai Terlaksana, Uluran Tangan Dermawan Tetap Diharapkan

07/09/20, 19:48 WIB Last Updated 2020-09-07T11:48:16Z
RAKYATSATU.COM, BONE
- Proses pembangunan musala di kawasan wisata Bukit Cempalagi/Goa Janci di Desa Mallari Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone mulai berjalan, Senin (07/09/2020).


Hal itu terlihat saat tukang yang akan mengerjakan pembangunan musala sudah berada di lokasi dan mulai bekerja dengan menyiapkan segala keperluan/kebutuhan pembangunan musala tersebut yang dipelopori oleh komunitas Kita Ini Sahabat (KIS).


Salah seorang personel KIS, Lukman, mengatakan, dana pembangunan musala tersebut merupakan patungan dan sumbangan dari teman-teman di KIS serta sejumlah dermawan.


Namun lelaki yang akrab disapa LH Petwol ini, tetap mengharapkan uluran tangan para dermawan demi lancarnya pembangunan musala itu.


Ia menambahkan KIS merencanakan pembangunan salah satu sarana ibadah umat muslim tersebut karena Bukit Cempalagi atau Goa Janci merupakan salah satu tempat wisata di Kabupaten Bone yang banyak dikunjungi wisatawan namun tidak ada tempat ibadah yang dekat di lokasi tersebut.


"Tanah pembangunan musala itu merupakan tanah warga dan telah disumbangkan, tentu kami dari KIS tetap menerima apabila ada sumbangan dari para dermawan," ujar LH Petwol, Senin (07/09/2020).


Bukit Cempalagi adalah kawasan perbukitan di pesisir Teluk Bone, tepatnya di Desa Mallari Kecamatan Awangpone Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Sejauh 14 km di sebelah Utara Kota Watampone.


Dari arah Timur, ia nampak seperti BH (Penutup Payudara) yang terapung, kemudian di sebelah Selatan adalah Tanjung Pallette.


Sebagian masyarakat sekitar itu mengatakan kalau dahulu di sana tumbuh menjulang sebuah pohon besar yang disebut Pong Cempa (pohon asam) yang sering dijadikan tempat perlindungan di masa perang.


Cempalagi terdiri dua kata yaitu, CEMPA dan LAGI, (Cempa artinya Asam, dan Lagi artinya Masih Mau). Dengan demikian Cempalagi bermakna pohon asam dan buahnya dapat dimakan. Walaupun terasa kecut tetapi selalu membuat ngiler menimbulkan selera untuk memakannya, dan minta lagi.


Pada saat kekurangan makanan mereka mengambil buah asam untuk sekadar mengganjal perut. Barangkali inilah yang mengilhami sehingga tempat ini dinamakan Cempalagi.


Terlepas dari keanehan namanya, dengan melihat kondisi alamnya, gunung tersebut sebenarnya mempunyai potensi wisata yang beragam.


Potensi wisata tersebut antara lain, wisata bahari/pantai, dan wisata alam. Karena itu, bukit Cempalagi tersebut dapat diperhitungkan sebagai aset potensi wisata pemerintah Kabupaten Bone.


Namun dibalik semua itu, Cempalagi tidak lepas dari bagian rangkaian sejarah Bone yang panjang. Di gunung itulah Raja Bone ke-15 Arung Palakka mengucapkan sumpah janji untuk membebaskan rakyatnya dari ketertindasan sebelum melakukan rangkaian perjalanan panjang ke kerajaan Buton untuk selanjutnya ke Batavia dan ke Pariaman Sumatera. Masa itu terjadi pada abad ke-17 ketika pasukan Gowa mencari Arung Palakka dan pengikutnya.


Bukit Cempalagi ini bukan hanya aspek cerita  melainkan adanya beberapa Prasasti yang dapat disaksikan sampai saat ini.


Ketika Arung Palkka mencapai puncak ”kemurkaannya” dengan kesaktian sebagai seorang raja Ia mencakar (makkarebbe), menghentakkan tumitnya dengan kuat (mattuddu) dan bersumpah (mattanro) untuk membebaskan rakyat Bone dari belenggu penjajahan Goa pada suatu ketika nanti.


Sembari menghentakkan kaki, lalu berkata “de nalabu essoe ri tengngana bitarae ” (tak mungkin matahari tenggelam di tengah langit). Kemudian membuat simpul (assingkerukeng) sebagai lambang sumpah.


Ketiga hal itu yang dilakukan Arung Palakka sehingga meninggalkan Tiga Prasasti yang masih bisa dilihat sampai sekarang, antara lain:


1. Akkarebbeseng (Bekas Cakaran Tangan) pada dinding gua;


2. Attuddukeng (Bekas hentakkan kaki/tumit) di atas batu yang terletak di bibir pantai;


3. Assingkerukeng (Simpul) melambangkan sumpah untuk membebaskan rakyatnya dari segala ketertindasan dibuktikan dengan simpul (singkeru).


Sebab dalam tradisi orang Bugis keseriusan sumpah biasanya dilambangkan dengan simpul mati. Karenanya, prasasti tersebut dikenal dengan nama Assingkerukeng.


Assingkerukeng (simpul) ditemukan di dalam gua sebelah Utara gunung (bibir pantai). Disebut Assingkerukeng karena merupakan batu yang bentuknya lain dari pada yang lain.


Sampai saat ini tempat tersebut dikeramatkan oleh penduduk setempat dan banyak dikunjungi orang memberikan sesajen untuk melepas nazar. Layaknya di tempat keramat lainnya, di tempat ini harus menjaga sikap untuk menghindari kualat mahluk gaib yang menghuninya.


ATTUDDUKENG (Bekas hentakkan kaki/tumit) terletak di kaki bukit sebelah Timur sekitar 600 meter dari tempat Assingkerukeng yang tertera dicatas lempengan sebuah batu.


Sebenarnya bila dilihat fisiknya sekarang, mungkin sulit dipercaya bahwa lubang tersebut sebagai bekas kaki Arung Palakka karena terlalu besar untuk ukuran kaki manusia biasa, tapi itulah adanya, berupa lubang yang berukuran kira-kira 38 cm.


Sebenarnya bila dilihat fisiknya sekarang, mungkin sulit dipercaya bahwa lubang tersebut sebagai bekas kaki Arung Palakka karena terlalu besar untuk ukuran kaki manusia, tapi itulah adanya atau boleh jadi ukuran kaki Arung Palakka memang melebihi ukuran kaki orang lain pada umumnya.


Uniknya, meskipun berada di bagian laut, mata air yang menggelembung dari bawah bekas attudukeng Arung Palakka dijadikan sebagai sumber air tawar oleh penduduk setempat pada musim kemarau.


Keunikan itulah sehingga diperlebar oleh masyarakat setempat demi memenuhi kebutuhan air tawar pada waktu-waktu tertentu. (Rasul)


Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Pembangunan Musala di Lokasi Wisata Cempalagi Mulai Terlaksana, Uluran Tangan Dermawan Tetap Diharapkan

Terkini

Iklan