ads

16 August, 2018

Berita Duka, Kakek Tinri yang Tinggal di Bekas Kandang Kambing di To'kaluku, Meninggal

Berita Duka, Kakek Tinri yang Tinggal di Bekas Kandang Kambing di To'kaluku, Meninggal
banner 336x280
RAKYATSATU.COM, TANA TORAJA - Kakek Tinri yang tinggal di bekas kandang kambing di To'kaluku, Makale, Tana Toraja, meninggal dunia, Kamis (16/8).

Alm. Tinri meninggal  sekitar pukul 16.00 Wita, saat Ba'da Ashar di usia yang ke-68 tahun, akibat menderita sakit sesak nafas (asma) dan asam urat yang membuat kakinya bengkak sejak bulan Ramadha lalu.

Almarhum yang berasal dari Takalar ini, meninggalkan seorang istri, dg. Kebo bersama dua cucunya yakni M. Raja dan Halimah yang masih duduk di bangku sekolah.

Salah satu jamaah, Ati, mengatakan, bahwa berita duka ini sangat mengharukan apalagi sebelumnya muncul berbagai polemik mengenai keberadaan alm. Tinri bersama keluarganya yang hidup tidak layak di pusat kota Makale.

"Berita duka ini sangat mengharukan apalagi sebelumnya muncul berbagai polemik mengenai keberadaan alm. Tinri bersama keluarganya yang hidup tidak layak di pusat kota Makale," kata Ati.

Menurut informasi dari masyarakat sekitar, jenazah alm. Tinri akan diberangkatkan ke daerah asalnya yakni di Takalar,  dengan bantuan pengurus masjid To'kaluku.

Diketahui sebelumnya, alm. Tinri dan istrinya nenek Kebo, bersama kedua cucunya Raja dan Halimah, terpaksa tinggal di gubuk reot yang sangat jauh dari kata layak.

Mereka yang berasal dari Takalar ini, datang merantau ke Toraja, namun kemiskinan begitu menyiksa mereka, sehingga menggunakan gubuk reot yang sebenarnya bekas kandang kambing pak haji. Jamban dan aliran listrik pun, tak mereka miliki selama berpuluh tahun. Untuk mandi dan cuci piring, mereka lebih memilih menggunakan samping rumah saja dengan memakai sarung.

Selain itu, karena tidak teraliri air bersih, mereka memanfaatkan air hujan yang jatuh dari atap dan menadahnya dengan deretan baskom dan jergen, untuk keperluan dapur.

Jaminan untuk masyarakat miskin dan lansia seperti beras rastra dan kartu miskin serta kepesertaan Peserta Keluarga Harapan (PKH), tidak mereka dapatkan.

Hal ini membuat alm. Tinri harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan mereka. Mengayuh becak, menjadi pekerjaan sehari-hari kakek Tinri.

Namun, akibat usianya yang sudah tua, sakit asam urat dan sesak napas yang menyerangnya, membuatnya harus berhenti sejenak. Istrinya yang sudah tua renta, juga tak mampu berbuat banyak. (Kris)
Don't Miss

News Feed