RAKYATSATU.COM, SOPPENG - Kini budaya masyarakat bugis khususnya terkait adat istiadat dulu mulai ditinggalkan. Hal ini terjadi akibat pergeseran nilai budaya yang mengandung nilai kearifan lokal kini beralih secara modernisasi.
Namun tidak bagi masyarakat Desa Timusu, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, yang secara geografis lebih dari separuh wilayahnya adalah lahan pertanian sehingga mayoritas penduduknya bergerak disektor pertanian. Dan mereka mempunyai lahan yang cukup luas dengan sistim pengairan teknis. sehingga, rata rata bisa panen tiga kali dalam setahun dengan sistem dua kali padi satu kali palawija.
Meskipun saat ini dikenal sebagai abad modern, tapi masyarakat Timusu masih memelihara budaya dan istiadat mereka, salah satunya adalah Maddoja bine ( begadang benih) artinya, mereka begadang untuk nungguin benih yang akan ditabur disawah dan Sabtu 13 Agustus 2016 kemarin sebagai rasa syukur mereka ?yang sebentar lagi akan panen raya, mereka lakukan pesta adat Maddoja Bine atau Maccera Ase.
Ini sebagai rasa ungkapan syukur kepada Allah SWT, oleh Masyarakat Timusu mengadakan pesta Akbar yakni lakukan ritual Maddoja bine dengan melibatkan ratusan masyarakat setempat.
Maddoja bine menurut Tokoh Dan pelaku adat Buharin mengatakan, bahwa ini sebenarnya kental dengan nuansa budaya leluhur masyarakat Timusu secara turun temurun
"Kami masyarakat Timusu masih memegang teguh adat istiada nenek moyang kami. Dan kali ini kami lakukan secara massal dengan melibatkan masyarakat luas yang ingin berpartisipasi," kata Buharin.
Dalam acara ini, erat kaitannya dengan cerita legendaris dalam karya sastra Lagaligo yaitu Meong palo karellae. Dimana hal itu merupakan karya cerita yang terpanjang di duni?a melebihi dari karya sastra Mahabarata.
"Maddoja bine kental dengan petuah petuah leluhur yang sangat arif dan bijak terutama bagaimana perlakuan ummat manusia terhadap dewa padi yang lazim disebut SYAN," lanjutnya.
Sementara Kepala Desa Timusu, Firdaus menerangkan, kegiatan ini dilaksanakan dengan melakukan ma' gendrang (Main Gendang). Dimana adat tersebut untuk menyambut masa panen dan juga kembali menanam padi.
"Inti dari kegiatan ini adalah bentuk rasa syukur kepada ALLAH SWT atas hasil alam yang melimpah," ucapnya.
Dia berharap, dengan digelarnya pesta adat yang dirangkaikan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia ke-71 ini, bisa terus dilaksanakan agar masyarkat tetap memegang penuh ada yang mulai luntur tersebut.(**)
Namun tidak bagi masyarakat Desa Timusu, Kecamatan Liliriaja, Kabupaten Soppeng, yang secara geografis lebih dari separuh wilayahnya adalah lahan pertanian sehingga mayoritas penduduknya bergerak disektor pertanian. Dan mereka mempunyai lahan yang cukup luas dengan sistim pengairan teknis. sehingga, rata rata bisa panen tiga kali dalam setahun dengan sistem dua kali padi satu kali palawija.
Meskipun saat ini dikenal sebagai abad modern, tapi masyarakat Timusu masih memelihara budaya dan istiadat mereka, salah satunya adalah Maddoja bine ( begadang benih) artinya, mereka begadang untuk nungguin benih yang akan ditabur disawah dan Sabtu 13 Agustus 2016 kemarin sebagai rasa syukur mereka ?yang sebentar lagi akan panen raya, mereka lakukan pesta adat Maddoja Bine atau Maccera Ase.
Ini sebagai rasa ungkapan syukur kepada Allah SWT, oleh Masyarakat Timusu mengadakan pesta Akbar yakni lakukan ritual Maddoja bine dengan melibatkan ratusan masyarakat setempat.
Maddoja bine menurut Tokoh Dan pelaku adat Buharin mengatakan, bahwa ini sebenarnya kental dengan nuansa budaya leluhur masyarakat Timusu secara turun temurun
"Kami masyarakat Timusu masih memegang teguh adat istiada nenek moyang kami. Dan kali ini kami lakukan secara massal dengan melibatkan masyarakat luas yang ingin berpartisipasi," kata Buharin.
Dalam acara ini, erat kaitannya dengan cerita legendaris dalam karya sastra Lagaligo yaitu Meong palo karellae. Dimana hal itu merupakan karya cerita yang terpanjang di duni?a melebihi dari karya sastra Mahabarata.
"Maddoja bine kental dengan petuah petuah leluhur yang sangat arif dan bijak terutama bagaimana perlakuan ummat manusia terhadap dewa padi yang lazim disebut SYAN," lanjutnya.
Sementara Kepala Desa Timusu, Firdaus menerangkan, kegiatan ini dilaksanakan dengan melakukan ma' gendrang (Main Gendang). Dimana adat tersebut untuk menyambut masa panen dan juga kembali menanam padi.
"Inti dari kegiatan ini adalah bentuk rasa syukur kepada ALLAH SWT atas hasil alam yang melimpah," ucapnya.
Dia berharap, dengan digelarnya pesta adat yang dirangkaikan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Indonesia ke-71 ini, bisa terus dilaksanakan agar masyarkat tetap memegang penuh ada yang mulai luntur tersebut.(**)